Alana berjalan cepat agar sampai di ruangan Evan. Entah apa lagi yang diinginkan Evan kali ini tapi Evan benar-benar membuat Karenina stres. Pria itu suka sekali mengancam Alana. Dan Alana patut berterima kasih pada Evan karena dia akhirnya bisa kembali bekerja di perusahaannya. Dia tidak jadi resign karena karya yang ikut dilombakan dan didiskualifikasi tidak bisa dimasukkan kembali ke lomba menulis itu. Tak apa selama dia masih punya pekerjaan tetap semuanya baik-baik saja. Dia menabrak seseorang yang berjalan dengan mata fokus menatap layar ponselnya. Alana dan pria itu bersitatap sebentar. Pria berjas rapi itu menatap Alana dengan tatapan menyipit seakan mencoba mengingat wajah seseorang. “Bukannya minta ma’af malah menatapku sinis.” Sewot Alana.

