Sepasang sepatu kets hitam berjalan gontai menelusuri gang sempit yang dia sadari menjadi tempat yang rawan akan kejahatan. Terlebih lagi jam di tangan kirinya menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, menandakan bahwa malam sudah semakin larut, dan seharusnya dia tidak berjalan di tempat ini sendirian.
Namun, langit yang sudah menghitam tak membuatnya cepat-cepat bergegas pulang, karena Wulan butuh waktu untuk sendirian. Malam yang menegangkan ini tak membuatnya takut dan bergegas pulang menemui ibu tirinya yang dia anggap seperti iblis dari kerak neraka.
“Lo nggak akan cukup mampu melawan gue, Bang. Karena sekarang lo sendirian. Lo dicap sebagai pengkhianat oleh satu sekolah. Nggak ada satu pun orang yang mau berpihak sama lo, bahkan sahabat lo sendiri.”
Tubuh Wulan menegang di balik seragam lusuh yang sudah ia pakai seharian ini. Pupil matanya melebar melihat seorang laki-laki yang merupakan pemimpin gerombolan menodongkan pisau pada laki-laki berseragam SMA yang sama dengan Wulan.
“Setidaknya, gue bebas melakukan apapun yang gue mau tanpa mendapatkan tekanan dari siapapun. Sementara lo? Bukan cuma harus diperintah di rumah, lo juga harus jadi suruhan orang rendahan yang beraninya cuma main curang dan keroyokan. Banci, man.”
Meski netranya tak mampu melihat objek dengan begitu jelas berkat minimnya cahaya di gang terebut, Wulan dapat memastikan bahwa kini—sosok lelaki yang sedang menodong lelaki berseragam SMA—menyunggingkan senyum sinis.
“Apa lo bilang? Bebas?” tanya laki-laki yang merupakan kepala gerombolan tak dikenal. “Bang Hasta! Lo sadar, nggak, kalau kebebasan lo itu merenggut banyak hal dalam kehidupan gue?!”
Lelaki yang kini sudah Wulan ketahui bernama Hasta itu menunduk dalam, rasa bersalahnya mampu membuatnya tunduk di hadapan sosok yang masih menodongkan senjata tajam. “Gue minta maaf,” lirihnya tulus.
Tiba-tiba terdengar tawa dari kepala rombongan itu, kemudian menyudutkan Hasta dengan pisau di lehernya.
“b******k lo, Bang! Maaf lo nggak bikin gue terbebas dari keluarga sialan itu. Gue cuma mau lo balik ke sana dan jadi pewaris keluarga Biyantara, gue muak gantiin posisi lo!”
Bugh!
Ketika sepasang mata Wulan mengikuti arah di mana pisau terjatuh, sebuah pukulan langsung melayang ke arah Hasta tanpa kesiapan. Tidak. Lebih tepatnya tanpa perlawanan. Tubuh Wulan lemah menyaksikan perkelahian yang tidak seimbang itu.
“Meskipun gue habisin lo di sini sekarang juga, nggak akan ada yang berubah.”
“Harusnya lo nyalahin mama lo untuk segala hal yang udah terjadi, Hastra, bukannya malah mempersulit keadaan gue. Karena sampai kapanpun, gue nggak akan pernah sudi menginjakkan kaki di rumah itu.”
Sekali lagi, pukulan mendarat di batang hidung Hasta sebanyak dua kali tanpa jeda. Membuat empunya berteriak kesakitan dengan sempoyongan, pada akhirnya ambruk menimpa permukaan jalan yang tidak rata. Sementara sebelah tangannya yang terkapar di samping tubuhnya diinjak dengan kuat oleh lawan bicaranya—Hastra.
Melihat Hasta sudah tidak berdaya di dekat kakinya, Hastra melempar senyum bangga. “Setidaknya, posisi gue bisa kuat dengan uang keluarga Biyantara,” desisnya sambil menatap Hasta yang baru saja meludahkan darah segar dari mulutnya. Sementara melalui hidung, sudah ada dua aliran anyir yang mengalir keluar. “Habisin dia!”
Seperti seorang raja, perkataan Hastra seolah menjadi perintah mutlak yang harus segera dijalankan bagi gerombolan laki-laki di belakangnya. Sehingga tanpa banyak menunggu, mereka langsung menyeret tubuh Hasta dan menyerang laki-laki itu dengan brutal.
Dari jarak tiga belas langkah, Wulan dapat mengamati dengan jelas bagaimana Hasta dipukuli habis-habisan oleh sosok bernama Hastra. Mereka menghantam tubuh Hasta dengan kedua kaki secara bergantian. Sesekali tangan mereka turun untuk menghantam wajah Hasta hingga pening. Sampai akhirnya sebelah kaki mereka menginjak d**a Hasta membuat darah segar menyembur dari mulutnya. Hasta terbatuk-batuk, Wulan semakin ketakutan dan menangis seolah merasakan penderitaan Hasta.
“ASTAGA, STOP!”
“BERHENTI SAKITIN DIA, GUE MOHON....”
Meski traumanya membuat Wulan ketakutan setengah mati. Walau batinnya meminta untuk segera pergi dari tempat itu. Pengeroyokan yang Hasta dapatkan membuat rasa manusiawi Wulan bergejolak untuk melibatkan diri. Wulan tidak bisa berdiam diri menyaksikan Hasta dipukuli.
Dengan kaki dan tungkai yang lemas, Wulan berjalan takut menghampiri Hastra beserta teman-temannya. Sesampainya Wulan di hadapan Hastra, tak ada yang bisa Wulan lakukan selain meneteskan air mata dan menundukkan kepala. Menyembunyikan ketakutannya dari setiap mata yang memandang.
“Cih, ternyata malam-malam begini ada cewek murahan yang berani mengganggu kesenangan gue?”
“Bagus,” kata Hastra sambil mengangguk pelan, memerhatikan Wulan dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Berlutut di hadapan gue kalau lo mau gue berhenti.”
“HASTRA!”
Dalam keadaan setengah mati, Hasta berani meneriaki Hastra dengan napas terputus-putus, membuat salah satu dari teman Hastra melayangkan kakinya dan menghantam rahang Hasta yang sudah berlumuran darah. “Akh! Sialan, lepasin cewek itu, Hastra!”
Dalam posisinya saat ini, Wulan membelakangi Hasta, dia tak dapat mellihat wajah lelaki yang sedang merintih kesakitan itu.
“Akh! Ampuni gue sama Hasta, gue mohon!” Teriakan Wulan lolos begitu ada yang menendang kedua betisnya. Memaksa Wulan untuk berlutut di hadapan Hastra sambil menangis.
“Kelamaan lo, Cantik,” celetuk pemuda yang baru saja membuat Wulan berlutut.
Hastra begitu penasaran dengan gadis ingusan yang tadi dengan berani berteriak lantang menghentikan kesenangannya. Awalnya dia pikir gadis berambut panjang dengan wajah polos itu mampu bertarung, nyatanya dia cuma gadis lemah yang bersikap sok pahlawan. Namun tak apa, karena Hastra menemukan mainan baru sekarang.
“Pacar lo, Bang?” tanya Hastra sembari membungkukkan sedikit tubuh, lalu melirik Hasta yang terkapar di belakang Wulan.
“Jangan melibatkan orang lain, Hastra.”
“Dia bukan orang lain, Bang. Dia pacar lo.”
“Hastra! Dia nggak ada hubungan apa-apa sama gue!”
“Pegangin abang gue, enak kayaknya kalo gue main sama cewek ini di depan matanya sendiri,” ujar Hastra sambil mengelus bibir Wulan dengan gerakan s*****l sambil menatap Wulan seolah penuh nafsu.
Baru saja Hasta akan mendekat, tiga orang langsung membekukannya tanpa perlawanan yang serius. Bahkan untuk bernapas saja Hasta kesulitan. Mustahil baginya untuk membawa Wulan pergi dari tempat tersebut.
Dalam pandangan yang mengabur, Hasta dapat melihat Hastra yang sedang mencondongkan tubuhnya pada Wulan. Hasta melihat tubuh Wulan bergetar dari belakang, bahkan gadis itu tidak berani mengangkat kepala.
“Pegangin ni cewek, menarik juga kalo diperhatiin dari dekat,” ucap Hastra setelah menarik diri kemudian mengusap puncak kepala Wulan dengan gerakan lambat.
“Siap, Bos!”
Dua teman Hastra lainnya bergerak dan memegangi kedua tangan Wulan, sedang Hastra buru-buru merogoh kantong jaketnya, mengeluarkan ponsel dan mengarahkannya pada Wulan.
“Gue dapat mainan baru, suatu kehormatan buat gue kalo gue dikasih kesempatan untuk hancurin dia.”
“Hastra, jangan pancing emosi gue!”
“Lo yang memulai peperangan, Bang.”
Tanpa memedulikan teriakan marah dari Hasta, Hastra dengan sigap mencengkeram dagu Wulan amat keras. Membuat gadis berparas lembut itu menengadah padanya.
Cekrek!
Dalam sekali bidikan asal-asalan, sebuah gambar berhasil diabadikan oleh Hastra. Membuatnya tersenyum puas kemudian berjalan pergi meninggalkan Wulan yang sudah kehabisan tenaga untuk terus tetap terjaga.
“Cabut sebelum kita dibantai sama temen abang gue di sini!”
Hastra melangkah sambil memandangi ponselnya, mengamati wajah Wulan yang menyerupai sebuah boneka barbie. Lengkungan sabit begitu dalam terbentuk di bibirnya, tidak kunjung lepas meski dirinya sudah menjauh dari Hasta dan Wulan.
Tak berapa lama setelah kepergian Hastra dan pasukannya, Wulan ambruk di jalan. Membuat Hasta sangat panik dan berlari mendekat pada gadis itu, membawa tubuh dingin Wulan ke dalam dekapannya.
***
“Lo yakin ini rumahnya?”
Pertanyaan itu baru saja dilemparkan oleh Pedro, sosok pemuda bertubuh tinggi dengan paras memikat pemilik bengkel tempat Bens bekerja paruh waktu. Sejak Bens membawa Wulan ke bengkel, lelaki yang sedang berkuliah di universitas swasta di Jakarta ini terus mengocehkan hal yang tidak penting. Membuat telinga Bens memanas dan berulangkali menghela napas berat.
“Bang, udah berapa kali lo nanyain hal yang sama?”
Pedro malah mengedikkan bahu tidak peduli, sementara matanya menerawang ke sekeliling rumah sederhana yang saat ini mereka datangi.
“Gue kira dia anak orang kaya, Bens. Tau-tau rumah dia kayak bengkel gue, lebih bagus bengkel gue malah,” celetuk Pedro seenaknya. “Dan sialnya malah harus terlibat dalam masalah lo sama Hastra.”
Pandangan Bens beralih pada gadis yang masih belum sadarkan diri dalam gendongannya. Mengamati wajah damai Wulan dalam lelapnya, gadis itu tampak berkeringat dengan tubuh yang dingin seperti sedang menahan sakit.
“Gue juga nggak tau kenapa dia ada di gang malem-malem. Salah dia sendiri melibatkan diri dalam urusan gue sama Hastra.”
“Apapun masalahnya, lo tetep harus berterimakasih sama cewek ini. Kalau dia nggak ada, gue yakin Hastra sama temen-temen barunya bakalan habisin lo di gang itu.”
“Gue tetep akan jauhin dia, gue nggak mau nambah masalah.”
Jika sekadar terimakasih saja mampu menyelesaikan masalah antara dirinya dan Wulan, Bens tidak akan mungkin mati-matian menghindari gadis ini di sekolah setelah kesepakatan itu terjadi. Akan lebih baik jika Bens bersikap seperti b******n yang tidak tahu diri setelah diberi pertolongan, daripada harus melibatkan Wulan dalam berbagai masalah yang sedang dia hadapi.
Helaan napas berat Bens terdengar lirih, laki-laki itu pelan-pelan menurunkan tubuh Wulan dan menyandarkannya di salah satu kursi kayu yang tersedia di teras. Kening Wulan mengernyit, yang tentu saja mengundang kekhawatiran Bens dan Pedro.
Bens melirik Pedro yang sedang menatap ke dalam rumah melalui celah kaca yang tidak tertutup tirai gorden. “Kayaknya dia lagi sakit, Bang,” ucap Bens.
“Nyokapnya keluar, anjir!” bentak Pedro sambil berbisik dan cepat-cepat mendorong bahu Bens untuk segera berbalik dan pergi dari sana.
Bens berkali-kali menepis tangan Pedro yang terus mendorong tubuhnya dari belakang. “Apaan, sih, Bang, dorong-dorong segala?!” sungut Bens kesal saat mereka bersembunyi di balik tembok pembatas rumah Wulan. “Kayak maling aja kita, sialan!”
Namun belum sempat Pedro memberikan penjelasan, dari pantauannya di balik tembok, seorang wanita yang prediksi usianya sekitar 40 tahunan keluar dengan memakai dress tidur berwarna merah muda yang bahannya tidak terlalu tipis namun tidak berlengan.
“Astaga, Wulan! Kurang ajar. Nggak tau diuntung kamu, jam segini baru pulang!”
Wanita itu ibu tiri Wulan, namanya Kirana Jayanti. Wanita yang baru empat bulan dinikahi oleh ayahnya setelah ibu kandung Wulan meninggal dunia.
Rana—panggilan akrabnya—berkacak pinggang menatap Wulan yang sedang tertidur di kursi kayu entah sejak kapan. Dan yang terpenting, Rana selalu berharap bahwa Wulan tidak kembali lagi ke rumahnya. Bagi Rana, Wulan hanya beban, dia menikah dengan Wira hanya untuk menguasai harta kekayaan Wira.
“Belum bangun juga, saya yakin anak manja ini abis kelayapan,” desisnya dengan tatapan tajam yang mengarah pada Wulan.
Setelah menatapnya beberapa detik, Rana kembali memasuki rumah, membuat Bens dan Pedro yang sedang bersembunyi saling berpandangan.
“Kayaknya emak tu cewek benci banget sama dia,” ujar Pedro memberitahu.
Melihat sendiri kejadiannya, Bens setuju dengan pendapat Pedro. “Lo bener, Bang. Karena dari gosip yang beredar di sekolah, sekarang Wulan tinggal sama mama tirinya. Sementara papa sama mama kandungnya udah meninggal,” jelas Bens dan membuat Pedro terkejut.
“Lo serius?”
“Kapan gue nggak serius sama lo?”
Pedro langsung menggempur kepala Bens dan menoyornya dengan kencang. “Nggak usah ngegas ama bos, anjing!” tukas Pedro jengkel.
“Iye, maaf, Bos anjing.”
“Bens,” panggil Pedro dengan wajah datar.
Laki-laki yang dipanggil hanya menjawab singkat, “Hm....”
“Besok nggak usah datang lagi ke bengkel gue.”
“Yakin lo? Emang lo ngerti soal motor?”
Pertanyaan telak dari Bens membuat Pedro kehilangan kata-kata, laki-laki itu langsung berdecak kesal. Semua orang tahu bawa dia sangat tampan. Jika diperhatikan sekilas, Pedro memang sangat sempurna dan digilai oleh mahasiswi populer di kampusnya. Namun, jika kalian mengenal Pedro lebih dalam, kalian akan tahu bahwa Pedro merupakan laki-laki yang tidak mengerti urusan bengkel, namun dengan ajaibnya malah membuka bengkel dan menjadikan Bens sebagai pengelolanya.
Selain urusan tingkat kepintaran yang lumayan rendah dari Bens, Pedro juga payah dalam urusan percintaan. Dan menurut kabar terakhir kali, Pedro sedang berusaha mendekati sahabat perempuannya sendiri, namanya Lyra. Perempuan yang tingginya sebahu Pedro dan beberapa kali pernah diajak mampir ke bengkel.
Byur!
Kedua pemuda yang sedang beradu argumen langsung mengalihkan perhatian mereka dari sumber suara. Sekarang Wulan sudah berdiri di hadapan Rana sambil memegang kepalanya yang masih berputar-putar. Sementara Rana berdiri menatap Wulan dengan tatapan merendahkan.
"BAGUS!" bentak Rana sengaja, lalu melemparkan ember di tangannya kepada Wulan. Mengenai kening gadis yang sudah kebasahan berkat guyuran gratis yang Rana hadiahkan.
"Maaf...."
Wulan tak mau merepotkan dirinya untuk menceritakan alasan atas keterlambatannya, sebab Rana tetap akan menganiayanya dengan tanpa rasa belas kasih.
"BUKANNYA LANGSUNG PULANG, KAMU UDAH BERANI KELAYAPAN SEKARANG? KAMU MAU NYUSUL MAMA SAMA PAPA KAMU KE NERAKA?!"
Tanpa mempedulikan rasa sakit yang terus berdenyut di keningnya, Wulan menggeleng dengan wajah tertunduk pasrah seperti biasa. Wulan tidak akan memberikan perlawanan pada Rana meski dia ingin mencekik Rana detik ini juga. Karena ketika Wulan lelah, hal tak terduga akan menjungkirbalikkan segalanya.
Wulan terisak, berkali-kali air matanya jatuh menimpa lantai. "Gue nggak akan telat lagi, tolong lepasin gue kali ini."
Di tempatnya, Bens menahan amarah yang sudah membumbung tinggi. Kepalan di kedua sisi tubuhnya semakin lama semakin kuat, rahangnya mengeras dengan tatapan tajam yang terus mengarah pada ibu tiri Wulan. Gadis itu diperlakukan sangat tidak manusiawi, dan seorang Bens benci penindasan.
Namun saat Bens sudah mau melangkah, Pedro justru menahannya. "Lo nggak bisa ikut campur urusan dia meskipun lo ingin, Bens," ujarnya sedih dan langsung menyadarkan Bens dari kemarahannya.
Bens tidak bisa berbuat banyak. Yang bisa dia dan Pedro lakukan hanya mengamati dari jauh, gadis itu akan menjadi incaran Bastar selanjutnya setelah mencampuri urusan Bens dengan berani. Wulan menjadi mangsa yang lezat, setelah Anin dan Rega.