Gudang tujuh tidak sekosong yang diklaim di papan nama depannya.
Arka tiba lima menit sebelum jam lima, seperti yang diminta — tanpa kamera, tanpa perekam, hanya buku catatan kecil dan pena yang ia selipkan ke saku belakang celana, siap dikeluarkan kalau perlu, disembunyikan kalau tidak. Bangunan itu berdiri di ujung deretan gudang tua, catnya sudah mengelupas, jendela-jendelanya ditutup papan dari dalam, dengan papan nama yang bertuliskan "TIDAK BEROPERASI" dalam huruf yang sudah nyaris pudar seluruhnya. Di bagian belakang, celah sempit antara dinding dan pagar besi membentuk lorong tersembunyi yang sepertinya sudah lama jadi jalur rahasia bagi siapa pun yang tahu keberadaannya.
Bu Ijah sudah menunggu di sana, bersandar ke dinding, tangannya terlipat, matanya awas ke setiap ujung lorong. Ia sudah berganti pakaian dari yang tadi siang — sesuatu yang lebih gelap, lebih mudah menyatu dengan bayangan. Di dekat kakinya, tergeletak sebuah tas kain lusuh yang sepertinya sengaja ia bawa, meski isinya tidak langsung terlihat.
"Kamu datang sendiri?"
"Sendiri," kata Arka. "Nggak bawa apa-apa kayak yang Ibu minta." Ia bahkan sengaja meninggalkan ponselnya dalam mode pesawat di saku terdalam tasnya, langkah ekstra yang terasa berlebihan tapi entah kenapa perlu ia lakukan demi menenangkan diri sendiri.
"Bagus. Orang yang bawa-bawa alat perekam biasanya juga bawa masalah tanpa sadar." Bu Ijah melangkah sedikit lebih dalam ke lorong, memberi isyarat agar Arka mengikutinya menjauh dari celah yang bisa terlihat dari jalan. Suara hujan yang mulai turun di atap seng menciptakan latar yang cukup berisik untuk menutupi percakapan mereka dari siapa pun yang mungkin lewat.
"Sebelum aku cerita," katanya, "aku mau tanya dulu. Kenapa kamu, dari semua wartawan yang pernah lewat sini, yang aku pilih buat cerita?"
Arka terdiam sejenak, tidak menyangka akan ditanya balik. "Saya nggak tahu, Bu. Mungkin Ibu yang punya alasannya."
"Karena kamu nanya dengan cara yang beda. Yang lain dateng udah bawa kesimpulan sendiri, tinggal nyari orang buat ngonfirmasi. Kamu kelihatan beneran nggak tahu apa-apa, dan itu bikin aku percaya kamu beneran mau tahu, bukan cuma mau nulis apa yang udah kamu bayangin dari awal."
Arka tidak tahu harus menjawab apa, jadi ia hanya mengangguk.
"Aku sudah lihat truk itu tiga kali dalam sebulan terakhir. Selalu malam, antara jam satu dan jam tiga. Selalu masuk lewat pintu belakang Zona C, bukan gerbang utama yang ada CCTV-nya — kamu pasti sudah lihat sendiri tadi, kameranya cuma menghadap ke jalan depan."
"Saya perhatikan itu tadi," kata Arka. "Kenapa dipasang begitu?"
"Itu yang aku juga penasaran bertahun-tahun." Bu Ijah mengeluarkan secarik kertas kecil dari balik kain yang melilit pinggangnya, lecek dan lembab karena keringat. Di atasnya, tertulis dengan tangan yang gemetar: sederet angka dan huruf. "Plat nomor. Aku catat waktu itu pas nggak bisa tidur, kepikiran mau ngadu ke siapa, tapi nggak tahu ke siapa yang bisa dipercaya."
Arka menerima kertas itu hati-hati, seperti memegang sesuatu yang bisa hancur kalau digenggam terlalu erat. "Kenapa nggak lapor polisi?"
Bu Ijah tertawa pendek, tanpa nada geli sama sekali. "Karena salah satu yang turun dari truk itu pakai seragam yang sama kayak yang biasa jaga di pos polisi ujung jalan. Aku tanya baik-baik, cuma mau tahu ini apa — orangnya bilang, 'Ibu nggak lihat apa-apa malam ini.' Bukan permintaan. Perintah. Nadanya lebih kayak ancaman yang dibungkus sopan."
Hujan mulai turun rintik-rintik di luar, menetes lewat celah atap gudang, membentuk genangan kecil di lantai beton yang retak. Arka menatap kertas di tangannya lebih lama dari yang seharusnya, mencoba memutuskan apakah ini benar-benar sesuatu, atau cuma ketakutan seorang perempuan tua yang disalahartikan.
Tapi ada sesuatu di caranya bicara — pelan, hati-hati, tidak berlebihan, dengan detail yang terlalu spesifik untuk sekadar dikarang — yang membuat Arka percaya ini bukan cerita yang dibesar-besarkan.
"Kapan tepatnya kejadian itu, Bu? Yang orang berseragam bilang gitu ke Ibu." Arka mencatat sambil bicara, tangannya sedikit gemetar meski ia berusaha menjaga suaranya tetap tenang dan tidak terburu-buru.
"Dua bulan lalu. Aku masih ingat karena besoknya cucu-cucuku datang, jadi aku sengaja pura-pura lupa semalaman biar bisa senyum di depan mereka." Ijah menghela napas panjang. "Setelah itu aku diam saja. Tapi tetap lihat, dari jauh, tiap kali nggak bisa tidur. Kadang aku pikir aku ini terlalu tua buat urusan begini. Tapi kadang aku pikir, siapa lagi yang bakal lihat kalau bukan orang tua kayak aku yang nggak dianggap penting sama siapa-siapa."
"Ada lagi yang Ibu lihat selain truk dan plat nomor?"
Bu Ijah ragu sejenak, lalu mengangguk pelan. "Sekali. Salah satu peti yang diturunkan terbuka sedikit pas diangkat — nggak sengaja, kelihatannya. Isinya bukan barang dagangan biasa yang biasa aku lihat lewat sini. Kotak-kotak logam, disegel, ada tulisan kode di sampingnya. Aku cuma sempat lihat dua-tiga detik sebelum ditutup lagi dan orang yang angkat buru-buru menjauhkan diri dariku, seolah takut aku lihat lebih lama."
"Kode apa?"
"Nggak sempat baca jelas. Cahaya di sana juga remang, cuma dari lampu truk. Tapi ada huruf N, kayaknya. N-E, terus disegel dengan pita merah, kayak yang biasa dipakai buat barang-barang penting negara."
Arka merasa sesuatu yang dingin menjalar di tengkuknya — bukan karena hujan yang mulai merembes ke bajunya, tapi karena satu suku kata yang baru saja diucapkan tanpa disadari pentingnya oleh orang yang mengucapkannya. Ia menahan diri untuk tidak menunjukkan reaksi berlebihan, meski jantungnya mulai berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia pura-pura sibuk menulis di buku catatannya, memberi dirinya sendiri beberapa detik untuk menyusun ekspresi wajah yang lebih netral sebelum menatap Bu Ijah lagi.
Ini mungkin bukan apa-apa, pikirnya, mencoba meredam harapan yang tiba-tiba muncul terlalu cepat. Banyak kode yang diawali huruf N dalam dunia logistik — nama perusahaan, kode gudang, nomor batch produksi. Tidak ada alasan kuat untuk langsung meloncat ke kesimpulan bahwa ini terhubung dengan sesuatu yang lebih besar.
Tapi bagian dirinya yang sudah bertahun-tahun dilatih untuk curiga pada kebetulan menolak untuk sepenuhnya percaya pada penjelasan sesederhana itu.
"Ibu yakin itu bukan cuma kode pengiriman biasa? Kadang perusahaan logistik punya kode aneh-aneh buat barang mereka."
"Aku sudah jualan di sini tiga puluh tahun, Nak. Aku sudah lihat ribuan peti keluar-masuk pelabuhan ini — barang elektronik, bahan bangunan, bahkan pernah lihat peti isi mobil mewah yang diselundupkan tanpa pajak. Tapi peti yang ini beda. Cara orangnya angkat, cara mereka jaga jarak dari sekitarnya, cara mereka buru-buru nutup lagi begitu sadar ada celah sedikit terbuka — itu bukan reaksi orang yang jaga barang dagangan. Itu reaksi orang yang jaga sesuatu yang kalau ketahuan, mereka sendiri yang kena masalah."
"Kenapa Ibu baru cerita ini sekarang? Ibu bilang tadi sudah lihat truk itu selama sebulan lebih."
Bu Ijah terdiam sejenak, menatap ke arah genangan air yang mulai terbentuk di sudut gudang. "Karena minggu lalu aku dengar kabar. Ada wartawan lain, dari kota, yang katanya juga sempat nanya-nanya soal pelabuhan ini beberapa tahun lalu. Tiba-tiba pindah kerja, katanya. Nggak pernah nulis apa-apa soal sini lagi." Ia menghela napas panjang. "Aku nggak tahu itu benar apa cuma gosip. Tapi bikin aku sadar, kalau aku terus diam, mungkin nggak akan ada yang pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik pagar itu. Dan kalau aku sendiri yang mati duluan bawa cerita ini, ya sudah, hilang begitu saja, kayak nggak pernah ada."
Kalimat itu menggantung di udara lembab gudang, lebih berat dari yang seharusnya diucapkan oleh seseorang yang hanya berjualan kopi di pinggir jalan. Arka menatapnya, mencoba membaca berapa banyak ketakutan yang sebenarnya disembunyikan di balik nada bicaranya yang tenang.
Bu Ijah menatapnya lurus, matanya yang tua tapi tajam menangkap sesuatu di wajah Arka yang mungkin baru saja berubah tanpa ia sadari. "Kamu tahu sesuatu soal ini, ya?"
"Belum," jawab Arka jujur. "Tapi mungkin akan tahu."
Bu Ijah mengangguk, seolah jawaban itu sudah cukup baginya, meski matanya masih menyimpan sedikit keraguan yang belum sepenuhnya hilang. "Kalau begitu, hati-hati. Orang-orang yang aku lihat malam itu bukan orang yang main-main. Aku sudah tua, sudah nggak terlalu penting buat mereka urus — paling banter mereka anggap aku pikun kalau aku cerita ke orang lain. Kamu — " ia menatap Arka dari ujung kepala sampai kaki, seolah menilai seberapa besar bahaya yang akan ia hadapi, " — kamu masih terlalu muda buat mereka anggap nggak berbahaya. Kalau kamu mulai tanya-tanya, mereka bakal anggap kamu ancaman beneran."
"Saya akan hati-hati, Bu."
"Semua orang bilang begitu sebelum mereka nggak hati-hati." Tapi ada sesuatu yang melunak di wajahnya, sesuatu yang mendekati kepedulian seorang ibu ke anak orang lain. "Kalau kamu butuh aku lagi, datang ke gerobak kayak biasa. Aku akan kasih tahu lewat cara yang cuma kita berdua ngerti kalau aman atau nggak buat ngobrol. Kalau aku taruh tehnya di sisi kanan gerobak, artinya aman. Kalau di sisi kiri, artinya jangan mendekat, pergi aja seolah cuma numpang lewat."
"Baik, Bu. Terima kasih sudah mau cerita." Arka menutup buku catatannya, meski pikirannya masih berputar cepat mencoba menyusun langkah selanjutnya — dokumen apa yang harus ia cari, siapa lagi yang mungkin tahu soal kode itu, dan bagaimana caranya melakukan semua itu tanpa membahayakan perempuan tua di depannya ini.
"Jangan berterima kasih dulu. Aku belum tahu ini bakal berakhir baik atau nggak." Ijah menatapnya sekali lagi, ekspresinya sulit dibaca — campuran antara harapan dan penyesalan, seolah sebagian dirinya berharap tidak pernah membuka mulut sama sekali. "Tapi kalau ini beneran sesuatu yang besar, mungkin sudah waktunya seseorang tahu. Aku sudah terlalu lama diam sendirian."
Mereka berpisah lima menit kemudian, dari arah yang berbeda, seperti yang sudah disepakati tanpa perlu diucapkan. Arka berjalan menyusuri jalan pelabuhan yang mulai basah oleh hujan yang semakin deras, kertas berisi plat nomor terselip aman di antara halaman-halaman buku catatannya, pikirannya masih berputar pada satu detail kecil yang terus terngiang.
N-E, terus disegel dengan pita merah.
Ia belum tahu apa artinya. Tapi entah kenapa, ia merasa ini bukan kebetulan bahwa detail itu terasa begitu penting, padahal secara logis seharusnya hanya sepotong informasi kecil di antara ribuan potongan lain yang biasa ia kumpulkan untuk liputan-liputan rutin yang berakhir tidak ke mana-mana.
Ia tidak menoleh ke belakang. Kalau ia menoleh, mungkin ia akan melihat sosok yang berdiri diam di seberang jalan, di bawah kanopi toko yang sudah tutup, mengamati setiap langkahnya sejak ia keluar dari celah gudang tujuh — sosok yang sudah ada di sana bahkan sebelum Arka tiba, dan yang sudah mencatat, dengan caranya sendiri, siapa saja yang baru saja Arka temui di balik gudang kosong itu.
Sosok itu tidak bergerak sampai Arka benar-benar menghilang dari pandangan, lalu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya — bukan ponsel biasa, tapi perangkat kecil dengan layar yang menyala redup, cukup untuk mengetik beberapa baris singkat sebelum dimasukkan kembali ke dalam saku. Tidak ada yang bisa Arka lihat dari kejauhan, seandainya ia menoleh. Hanya bayangan yang kemudian berbalik dan berjalan ke arah berlawanan, menghilang ke dalam gerimis yang semakin deras, membawa informasi yang baru saja terkumpul menuju seseorang yang jauh lebih berkuasa dari sekadar petugas keamanan pelabuhan, seseorang yang akan menerima laporan itu dalam hitungan jam, jauh sebelum Arka sendiri sempat memahami betapa berbahayanya sepotong informasi kecil yang baru saja ia kantongi.
Kereta terakhir menuju Ardhapura berangkat empat puluh menit lagi.