"Rilly cepat buatkan aku makan aku lapar!" teriak pria tampan yang duduk sambil memainkan game favoritnya di handphon.
"Tuan muda, anda punya tangan kan? jika anda punya tangan sebaiknya anda buat makanan itu sendiri!" jawab Rilly dengan ketus. "Apa-apaan ini aku bukan pembantu 'mu! Aku ini bodyguard mu!" umpatnya.
"Rilly kamu membantahku! Aku akan mengaduhkan 'mu pada ibuku!" ancamnya kepada Rilly.
"Ah baiklah," Rilly yang sedang duduk di sofa sambil main handphone kini harus terpaksa bangkit dan menuruti perintah tuan mudanya.
"Cepat yah Rilly, aku sungguh lapar ini," seru 'nya.
"Yah tuan muda!" balas Rilly dengan terpaksa.
Selesai membuat makanannya Rilly langsung memberikan nya ke Tuan Muda yang memiliki nama lengkap Levis Wilson.
"Terimakasih," katanya saat menerima makanan yang diberikan Rilly padanya.
"Hemm, aroma yang sangat lezat, Rilly good job untuk mu, kau memang yang terbaik Rilly!" pujinya sambil mencium aroma masakan yang Rilly buat.
Rilly tersenyum tipis lalu kembali duduk dan bermain handphone 'nya. Namun beberapa sat kemudian.
"Rilly! Uhuk! Uhuk! Tolong ambilkan minum!"
Rilly yang mendengar teriakan Tuan Muda Levis Wilson langsung bangkit lagi dengan terpaksa.
Ia ke dapur dengan cepat untuk mengambilkan minum yang Tuan Muda Levis Wilson minta, setelahnya ia kembali memberikannya ke Tuan Muda Levis Wilson.
Tuan Muda Levis Wilson langsung meminumnya dengan cepat, tapi setelahnya bukannya ia berterimakasih kepada Rilly ia malah marah dan membentak Rilly. "Kamu lama sekali Rilly, sungguh sakit sekali tenggorokan 'ku karena mu! Seharusnya kamu itu lebih cepat!"
Rilly sedikit mengerutkan dahinya, apa salahnya? Itukan salah dirinya yang ceroboh, makan saja bisa tersedak. Mengesalkan!
Rilly milih diam dan memutuskan untuk kembali bermain handphone nya ketimbang mendengarkan ocehan Tuan Mudanya yang gak berguna di telinganya.
"Sabar Rilly, dia Tuan Muda 'mu," tenangkan Rilly pada dirinya sendiri dengan mengusap pelan dadanya.
Namun belum setengah jalan melangkah keluar dari kamar Tuan Muda Levis Wilson, ia kembali dihentikan.
"Mau kemana kamu?" tanyanya.
"Main handphone," balas Rilly sambil membalikkan badannya.
"Tunggu dulu, kamu di sini tunggu aku habis makan baru bisa pergi," perintahnya sambil menyuruh Rilly duduk di sebelahnya.
"Ada sesuatu yang ku kerjakan melalui handphone tuan muda, jadi-"
"Tidak ada bantahan!" potongnya sebelum Rilly melanjutkan ucapannya.
"Oke oke, tapi saya duduk di sini saja," pasrah Rilly, namun ia milih duduk sedikit jauh dari Tuan Muda Levis Wilson.
"Baiklah sesukamu,"
Beberapa saat kemudian Tuan Muda Levis Wilson sudah menyelesaikan makanannya. Ia lalu menyuruh Rilly menaruhnya kembali dan Rilly menurutinya dengan kata terpaksa.
Setelah itu Rilly kembali ke kamar Tuan Muda Levis Wilson ia duduk ke tempatnya semula.
"Rilly nanti ayah dan ibu akan pulang 'kan?" tanya Tuan Muda Levis Wilson memastikan dengan serius dan penuh harapan.
Rilly menjawab dengan santai, "Sepertinya begitu, katanya mereka akan pulang jika tidak ada kendala,"
"Yah semoga mereka pulang, aku cukup kelelahan menghadapi Tuan Muda bodoh ini," gumam Rilly.
Tuan Muda Levis Wilson dengan semangat langsung berjingkrak-jingkrak di kamarnya, ia sangat senang ayah dan ibunya pulang. Sudah satu bulan penuh kedua orang tuanya meninggalkannya sendiri bersama Rilly bodyguard 'nya.
"Kekanakan, untung saja di rumah, jika tidak, malu sekali diriku," gumam Rilly sambil memketika menatap Tuan Muda Levis Wilson yang terlihat bahagia.
Kini malam hari telah tiba, Rilly siap-siap akan menjemput Tuan Wilson dan Nyonya Wilson, ayah dan ibu dari Levis Wilson. Rilly dengan pakaiannya yang serba hitam serta dengan kaca mata yang hitam, ia langsung masuk ke mobil dengan Tuan Muda Levis Wilson di sampingnya. Ia membuka pintu mobil jok depan tepat di samping ia mengemudi.
Awalnya Rilly enggan duduk bersama Tuan Muda Levis Wilson, namun saat ia menyuruhnya duduk di belakang, Tuan Muda Levis Wilson menolaknya dengan keras. Ia bilang ia ingin duduk di samping Rilly agar lebih aman.
Rilly mengumpat dalam hati, "Yah kau yang aman tapi aku yang tidak nyaman!"
Rilly pasrah walaupun hatinya gundam.
Sepanjang jalan menuju bandara Tuan Muda Levis Wilson sungguh sangat menikmati indahnya perjalanan di malam hari. Walaupun gelap, namun ada lampu yang menyala di setiap jalan dan kota-kota, itulah yang membuat malam semakin indah.
Saat ini Rilly memutuskan berhenti dulu untuk membeli makanan di Market. Ia memilih makanan yang dapat mudah di makan dan minuman dingin. Tuan Muda Levis Wilson pun ikutan mengambil makanan dan minuman, namun bedanya ia mengambil banyak dan tidak kira-kira hingga ia kesulitan memegangnya. Rilly yang melihatnya langsung membantunya dan mendengus kesal serta bergumam, "Mengesalkan!"
"Ah terimakasih Rilly, kau baik sekali," katanya dengan senyuman manisnya.
Rilly tanpa sengaja berkata pelan, "Dia tampan,"
"Ada apa Rilly?" tanya Tuan Muda Levis Wilson saat mendengar sekilas Rilly berkata, namun tidak terlalu jelas, jadi ia bertanya.
"Gak ada," kata Rilly dengan cepat.
"Baiklah kita ke kasir dulu, setelahnya kita langsung pergi dari sini," usul Rilly.
"Hemm," Tuan Muda Levis Wilson mengangguk.
Rilly langsung ke kasir menyerahkan semua makanan yang ia beli dan Tuan Muda Levis beli.
"Berapa harganya?" tanya Rilly kepada kasir di depan 'nya.
"320.000 USD," jawab kasir yang menjual.
"Cukup mahal," gumam Rilly.
"Biar aku saja yang bayar Rilly, kau simpan saja uang 'mu," usul Tuan Muda Wilson.
"Sungguh peka," gumam Rilly.
Rilly tersenyum seraya berkata, "Terimakasih,"
Setelah selesai membayarnya Rilly langsung naik ke mobilnya dan ia langsung menyetirnya menuju ke bandara. Bandara sangat jauh dari rumahnya, hingga Rilly terpaksa membeli makanan untuk cadangan bila lapar.
Rilly sungguh fokus menyetir mobilnya dan Tuan Muda Levis ia sibuk memakan snack 'nya yang ia beli.
"Rilly kau mau?" tanya Tuan Muda Levis Wilson sambil menyodorkan roti yang belum ia makan namun sudah ia buka.
"Hemm, tapi tolong suapi aku, kau tau aku kesulitan menyetir saat ini," balas Rilly.
Tuan Muda Levis Wilson langsung menyuapi Rilly dengan hati-hati dan Rilly memakannya.
"Anda makanlah juga Tuan," suruh Rilly.
"Tenanglah aku juga makan,"
"Rilly sepertinya gerimis, kamu berhati-hatilah, aku takut terjadi sesuatu," kata Tuan Muda Levis Wilson, hujan mulai turun semakin deras dan mulai menutupi jalan hingga cukup sulit mengemudikan.
"Tuan muda, pakailah sabuk pengaman anda agar tidak lebih aman," suruh Rilly, Tuan Muda Levis Wilson pun menurut perintahnya.
"Aku takut Rilly," lirihnya sambil mengunyah makanan yang di tangannya.
"Anda akan baik-baik saja jika anda tidak banyak bicara tuan," kata Rilly.
"Apakah itu benar?" tanyanya dengan wajah polosnya.
"Tentu saja, akan lebih baik anda diam," balas Rilly.
"Hemm,"
Rilly sekilas melihat Tuan Muda Levis Wilson dan berbicara pelan, "Sungguh polos,"
Sesuai dugaan Rilly pasti akan ada terjadinya kecelakaan, yah di depan sedikit jauh dari tempat Rilly, ada mobil yang bertabrakan dengan mobil lainnya. Untungnya Rilly langsung pendal rem dengan cepat hingga ia tak terkena dampaknya.
"Rilly sepertinya ada kecelakaan di depan, apakah orang itu banyak bicara jadi kecelakaan?" Tuan Muda Levis Wilson menatap Rilly dengan wajah khawatir dan bingung.
"Bodoh," batin Rilly,
Rilly menggelengkan kepalanya seraya berkata dengan jelas, "Tidak Tuan, maksud saya bukan seperti itu tadi yang saya katakan itu hanya rincian kecilnya saja, bisa jadi kecelakaan itu karena kita kurang ahli menyetir mobilnya, lalai dalam mengemudi, atau hal lainnya, untuk banyak bicara itu kita bisa ambil dalam kata lalai dalam mengemudi, nah seperti itu Tuan Muda,"
Angguk Tuan Muda Levis Wilson. "Oh jadi seperti itu, Rilly apakah mereka baik-baik saja?"
"Tidak tau, bisa jadi kecelakaan tadi sangat parah, baiklah kita sebaiknya langsung pergi dari sini agar tidak terkena masalah," kata Rilly.
Ia lalu kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan standar atau sedang.