Pintu kecoklatan itu masih berdiri kokoh di tempatnya. Tertutup rapat tanpa ada pergerakan untuk menunjukkan keberadaan perempuan cantik yang mungkin sedang duduk menunggu di balik sana. Atau mungkin setengah berbaring di salah satu kursi. Nyaris kebosanan menunggu berjam-jam lamanya. Romeo menghela napas panjang. Sudah sekitar lima belas menit hanya berdiri diam di depan pintu apartemennya. Dengan paksaan Pak Hendra, akhirnya Romeo pulang. Namun keberanian untuk membuka pintu seakan sirna begitu saja. Romeo takut jika pintu itu terbuka, hanya akan disandingkan wajah datar Sabiya yang menyorotnya tajam. Atau yang lebih parah, mendapati istrinya menangis dengan dirinya sebagai penyebab utama. Jelas saja, hal itu sangat membebani Romeo. Romeo pernah berjanji pada dirinya sendiri untuk seb

