Nayna menjalankan mobil dengan kecepatan standart. Berkali-kali Gibran menanyakan tujuannya. Tapi, Nayna tak menjawab. Dia hanya mengatakan, “Kakak percaya, ‘kan sama aku?” Hampir satu jam perjalanan. Dia berhenti di depan sebuah rumah sakit jiwa. “Kenapa kita ke sini? Kamu pikir kak Gibran gila?!” Gibran membelalakkan matanya. “Kamu dengar ya baik-baik selama kamu ada dia samping kak Gibran. Kak Gibran baik-baik aja.” Nayna tidak menanggapi perkataan Gibran. Sekarang dia bisa membedakan sikap manis Gibran itu ada di bawah kendali obat. Jika dia melupakan candunya, tutur kata pun akan berantakan dan akan menggunakan kata ‘aku’, bukan ‘kak Gibran’ lagi seperti biasanya. “Ayo turun kak.” Nayna sudah berdiri di luar mobil dekat pintu mobilnya. Gibran tetap duduk tak mau keluar. “Ayo say
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


