3. 2 Juta Dolar

2030 Words
Menjalani rutinitas baru bukan seperti dia sedang mencoba menghafal kosa kata yang belum dipahami. Paula harus tegas pada dirinya sendiri yang kini tengah ingin bermain-main bersama teman, kemudian mabuk hingga pagi. Kini Paula harus bekerja paruh waktu setelah selesai kuliah, bahkan hari ini dia membolos demi bisa belajar menjadi barista. Walau muncul niat untuk itu, rupanya Narash tidak memberi izin dengan alasan Paula akan mengecewakan banyak pelanggan. Dengan perasaan kecewa pun dia harus menerima, dia kembali ke meja dapur menyiapkan satu menu pesanan orang. "Sudah?" tanya Paula pada salah satu koki di sana. "Iya," koki itu memberi tanda semangat dengan satu tangan nya. "Semangat gadis cantik Indonesia." Paula menebar senyuman walau tidak ingin. "Terima kasih." Pelan dia berjalan membawa menu di baki menuju ke meja yang sudah tertera, rasanya berat karena menahan beban dan Paula sendiri takut jika gelas panjang berisi minuman itu akan tumpah. Benar-benar ini merupakan pekerjaan sulit, dan Paula harus tetap mengerjakan demi mendapatkan uang. Saat berada di meja yang dituju, Paula segera menyiapkan makanan di atas meja. "Selamat malam, ini menu Anda." Seorang wanita dengan ramah menyambut, Paula pun merasa senang dan percaya diri untuk memberikan pelayanan yang terbaik. "Ada yang bisa saya bantu lagi?" "Oh, tidak ada Nona. Terima kasih." ucap wanita itu pelan. "Baik, jika ada sesuatu atau… Menambahkan menu di meja Anda jangan sungkan memanggil saya!" Paula menunjukkan tempat di mana dia biasa berada. "Pasti, terima kasih." ucap lagi seorang pelanggan kepada Paula. Kemudian Paula sedikit menjauh dan berbalik arah. Tetapi, dia langsung mendapat tekanan kuat dari sisi kiri pada pundaknya, Paula seketika terpental dan jatuh menimpa bangku kosong. Sakit. Paula merasakan pahanya mengenai kaki kursi. Sialan. Sebisa mungkin dia menahan untuk tidak membentak seorang pria yang baru saja datang, tubuh tinggi dan tegap itu hanya melihat sekilas dan duduk di meja sebelah. "Nona, kau baik-baik saja?" seorang wanita yang berada di depannya membantu Paula bangkit. "Iya, aku… Baik-baik saja," Paula menatap geram ke arah pria yang kini duduk dengan santai sambil memegang sesuatu. "Terima kasih, maaf merepotkan." "Oh, tidak apa-apa." Segenap rasa kesal Paula kemas dengan tetap ramah kepada semua pengunjung yang ada di sana. Walau malu, juga merasakan sakit luar biasa pada bagian kaki. Tepat di sisi pria mengenakan jaket hitam itu Paula ingin memaki. Tetapi, dia hanya berlalu begitu saja. "Hei, tunggu! Kemari!" Paula mengerutkan kening, dia mencoba mencari di mana suara yang memanggilnya. Dan paula tidak ragu jika suara bass itu berasal dari meja si pria yang sudah menabraknya secara keras. Dengan berat hati, juga rasa kesal yang sedang menggunung Paula berjalan ke meja pria itu. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Paula mengamati wajah yang menatap lurus. Pria itu mengangkat wajahnya, secara langsung dan tegas melihat Paula. "Mana Narash?" Sungguh, Paula ingin menampar bibir terlihat begitu seksi. "Maaf Ibu Narash sedang pergi, sejam lalu." Tampak pria itu mengeratkan rahang. "Kapan dia kembali?" "Um… Saya… Tidak tahu Tuan, tapi saya akan segera memberitahukan kepada Ibu Narash jika Anda… Maaf dengan Tuan siapa?" tanya Paula sopan. Pria itu bangkit, Paula pun harus mendongakkan kepala agar bisa menatap wajah itu. Kemudian pria dengan mata cokelat pekat itu mengambil sesuatu di balik jaket, lalu tidak lama menarik tangan Paula kasar dan memberikan sebuah amplop cokelat ke telapak tangan. "Berikan ini pada Bos mu," pria itu menatap liar ke sekeliling. "Lusa dia suruh menemuiku!" Tangan besar itu masih membuat Paula terkejut, dia terperangah mendapat titipan yang tidak tahu apa isinya. Dan setelah tersadar, Paula sudah kehilangan pria itu. Dia pun menaruh baki ke meja dan mengejar pria dengan jaket hitam tersebut. Namun, Paula kalah cepat karena sebuah mobil sedan putih sudah berlalu dari kawasan kafe. "Ah, sial. Siapa sih dia? Kasih sesuatu kok kayak ngancam segala?" rutuk Paula menatap sekitar, dia juga tidak ingin ada yang melihat. Saat Paula merasakan bentuk tipis di tangan, dia berkeinginan membuka amplop tersebut. "Apa sih? Surat? Jaman sekarang masih musim surat menyurat?" Karena tertekan oleh rasa penasaran akhirnya Paula membuka amplop yang tidak terlipat dengan perekat. Dia mengambil selembaran kertas kecil dari dalam, dan betapa Paula tidak sanggup bernapas melihat cek dengan jumlah uang yang sangat besar. 2 juta dolar Amerika. Paula segera mengemas lagi secara sempurna kertas itu, dan menyelipkan ke dalam saku celemek. Dia bergegas masuk, dan menuju ke loker nya. Di sana Paula menekan punggungnya di lemari besi tersebut, dia mengamati sekitar yang masih sepi. "2 juta dolar?" Paula masih tidak percaya dengan semua ini. Dia segera menyimpan amplop tersebut ke dalam tas, entah otaknya tiba-tiba dipenuhi dengan aksi kriminal tanpa memikirkan dampak yang akan didapat. Tetapi, kemudian Paula murung dan perlahan tubuhnya beringsut di depan loker. "2 juta dolar, aku… Bisa sewa apartemen yang sederhana dan… Beli obat buat Papi. Ah, kenapa sih aduh… Kenapa ini?" Paula mencoba menyadarkan diri. "Itu bukan milikku!" dengan berkata demikian, Paula tetap enggan melepas amplop tersebut. Tidak ada yang bisa menyadarkan dari rasa ketertarikan Paula pada uang tersebut, jumlah itu walau sudah biasa ada di tangannya dulu tetap saja saat ini adalah dia sangat membutuhkan. "Ya ampun, dia itu siapa sih? Kasih Narash uang sebanyak itu? Kerja jadi simpanan si Narash?" Tiba-tiba saja suara seseorang memanggil, Paula cepat-cepat berdiri dan merapikan pakaiannya. "Iya, aku datang." Paula menepuk-nepuk pintu loker. "Baik-baik dulu di sana ya, uang!" Cepat-cepat Paula keluar, dia kedatangan tamu bersamaan dengan kehadiran Narash. Tidak ada percakapan di antara mereka karena Paula harus bekerja, sampai beberapa menit menuju jam otak Paula dipenuhi dengan rasa kurang percaya dan berniat jahat. [...] Jam malam telah usai, segenap rasa lelah para pekerja diakhiri dengan membersihkan meja juga menata bangku. Paula pun mencoba untuk meluruskan badan terasa berat, dia berjalan ke dapur membawa sedikit alat makan kotor. Setelah semua selesai, barulah Paula bisa merebahkan tubuhnya di atas meja kosong tidak terpakai di sisi dapur. Tetapi, rasa kantuk dan lelah dikejutkan oleh kehadiran Narash. "Eh, hai Bos. Maaf aku tiduran di sini." "Tidak masalah Paula, kau mau tinggal di sini pun bukan hal berat bagiku." Narash menunjukkan ruang kosong yang memang terkadang digunakan untuk beristirahat. "Ah, tidak terima kasih. Aku… Harus mendampingi Ayahku." ucap Paula mengamati wajah Narash yang kebingungan. Narash mengangguk, dia seperti mencari sesuatu. Paula pun merasa terancam, sebisa mungkin dia tetap tiduran sebagai sikap biasa. "Hei, kau kenapa?" "Tidak, apa… Tadi ada yang mencariku?" tanya Narash cemas. Paula mengerjapkan mata. "Uh… Tidak, entah dengan yang lainnya. Coba saja kau tanya!" "Sudah, dan… Tidak ada yang merasa menerima tamu selain pelanggan." ucap Narash menatap jeli wajah Paula. Merasa diperhatikan secara intens, Paula pun langsung menguap dan bangkit. "Tidak ada tamu yang datang, mungkin besok." "Tidak mungkin, tamu ini orangnya tepat waktu soal janji. Dan justru aku yang… Melupakan janji dengannya, benar-benar aku ini bodoh!" sesal Narash. Tangan Paula membelai pundak Narash. "Sudah, jangan khawatirkan hal itu! Besok, kau tunggu saja dia! Pasti datang!" Meski usaha Paula itu benar, tidak lantas membuat Narash tenang. Dan kali ini dia merasakan hal yang begitu besar menimpa batin, Narash merasakan perbedaan dari belaian tangan Paula. Bahkan jarak mereka sedekat itu, telah membuat pikiran juga keinginan melakukan sesuatu secara lebih timbul di benak Narash. "Aku pulang dulu, besok aku sift malam lagi karena ada kuliah sampai siang." ucap Paula mengecup pipi Narash. Benar-benar gila, bagi Narash daya tarik seorang Paula mampu membangkitkan hasrat sejenis yang sudah tidak dilakukannya selama 3 bulan terakhir. Tetapi, Narash menahan semua itu. "Dia milik Bos." Suara yang tidak terlalu jelas didengar oleh Paula, dia berbalik ke arah Narash setelah berjalan beberapa meter menuju pintu keluar. "Apa? Kau… Bicara sesuatu padaku, Bos?" "Tidak ada, pergi saja sana! Semoga harimu menyenangkan!" ucap Narash menahan untuk tidak melihat Paula. Paula tidak langsung berjalan keluar melainkan dia terus menatap Narash dengan perasaan bersalah. Orang yang dimaksud telah datang beberapa jam lalu, dan memberikan sebuah amplop berisi uang yang sangat banyak. Atas perasaan itu, Paula pun cepat-cepat pergi untuk menemui Ayahnya. [...] Dari sebuah perbuatan yang tidak disengaja, berasal dari kesempatan inilah Paula mengajak Efran keluar. Mereka menikmati sarapan bersama di kafe biasa, tanpa perasaan apa pun Paula berusaha caria seperti biasa. "Pi, aku mau ajak Papi pindah ke apartemen yang lebih murah. Papi mau 'kan?" Efran sedang mengunyah pun tersedak. "Apa? Ke mana?" "Ke mana aja, aku udah ada uangnya kok." jawab Paula sulit menelan makanan setiap ingat asal uang tersebut. Tiba-tiba Efran melempar kacang almond dari toping kue nya ke arah Paula. "Kurang ajar kamu, Papi masih sanggup mempertahankan apartemen itu!" "Sampai kapan?" tanya Paula lirih, dia juga takut menyinggung perasaan Efran. "Ya selamanya lah, kan itu apartemen punya kamu sayang." jawab Efran menganggap ini permasalahan mudah. Dari semua usaha Efran agar terlihat bahagia dan baik-baik saja tentu bukan perkara mudah, dia tahu jika anak gadisnya telah melihat brosur iklan apartemen yang akan dijual. "Oh ya, gimana sama kerjaan kamu di kafe? Ok?" Padahal hanya sebatas tanya. Tetapi, Paula langsung salah tingkah. "Um… Ya, baik Pi. Aku… Punya Bos yang luar biasa baik, pokoknya ok deh cari uang di sana." Efran menggapai tangan kecil putrinya. "Maafin Papi ya sayang, sekarang keadaan kita udah beda." Memang tidak ada raut yang menyedihkan, bahkan hari ini Efran terlihat sangat segar. Namun, Paula paham itu akan berjalan sementara jika persediaan obat masih ada. Paula pun langsung menjatuhkan kepalanya di pundak Efran, cahaya matahari pagi yang seharusnya hangat tiba-tiba menjadi hawa dingin menusuk tulang. "Sekarang giliranku yang bikin Papi bahagia," Paula mengecup pipi kiri Efran. "Jangan takut ya Pi, kita akan hadapi ini sama-sama." Efran mengangguk, bukan berarti dia mengiyakan semua usaha anaknya. Dia tetap akan berusaha menjadi Ayah yang baik, berjuang demi masa depan Paula. "Ah kamu, udah dewasa sekarang. Papi jadi kangen kamu cengeng, enggak mau makan kalau… Papi belum nyuapin." Paula membalas perkataan itu dengan tawa ringan, dia pun mengambil sedikit kue dari piring kecil milik Efran. "Hm… Enak, buat aku semua ya Pi?" Makanan yang sedang dinikmati akan direnggut, Efran tentu tidak membiarkan hal itu terjadi. Dia menyingkirkan tangan Paula dari sana, kemudian menjauhkan kue tersebut. "Enak aja, punya kamu masih banyak. Makan sana!" "Ah," Paula berusaha mengambil kue milik Ayahnya. "Aku kan maunya yang itu, tiba-tiba aja kue yang aku pesan kurang enak." "Dasar kamu ini," Efran tetap menjaga kue miliknya. "Enggak, ini kan punya Papi!" Terpaksa Paula kembali pada kue di depannya. Sambil mengamati sekitar di mana burung-burung merpati mulai berdatangan, Paula memendam dendam kepada Efran. "Awas aja nanti kalau aku bisa bikin, Papi dilarang nyentuh!" Efran memicingkan mata. "Sana bikin! Papi bisa beli. Lagian sejak kapan kamu jago bikin kue? Bikin karamel aja gosong." "Jadi… Papi masih ingat itu?" Paula menutupi wajahnya. Malu. "Ingat dong," Efran mengelus-elus puncak kepala Paula. "Kan kamu pingin banget kayak Mami, bisa masak apa aja. Tapi… Malas belajar, malas membantu Mami dulu." Keduanya saling menatap, terlintas kenangan masa lalu bersama wanita yang begitu mereka cintai. Kemudian Paula menarik napas pelan, dia mencoba tetap semangat dalam menjalani hidup ini. Apalagi sekarang dia sedang memiliki banyak uang, Paula melupakan dari mana asalnya yang terpenting dia bisa membeli obat untuk Efran beberapa bulan ke depan, selama Paula belum mempunyai uang lain. "Ayo Pi, kita harus pergi! Kan mau liat-liat apartemen baru." bisik Paula pelan di telinga Efran. Entah, dia hanya takut jika ada yang tahu atau sekadar mendengar rencananya. "Kamu serius mau cari apartemen? Buat kamu?" tanya Efran memastikan lagi. "Ya, buat… Kita lah, kok aku sih?" jawab Paula masih menganggap tinggal bersama orang tua itu hal yang wajar. "Enggak, Papi mau tinggal di apartemen sendiri." jawab Efran kurang setuju akan usaha Paula. "Lagian, mana ada apartemen murah di kawasan ini? Ada, tapi jauh dari kampus kamu. Boros waktu." imbuh Efran lagi. Mendadak Paula kehilangan selera makan, dia langsung mengambil tas yang ada di sisi bangku kemudian mencium pipi kiri dan kanan Efran. "Ya udah, aku cari sendiri aja. Nanti kalau udah dapet baru pamer sama Papi." "Hm… Terserah kamu deh, Paula. Hati-hati ya! Jangan lupa nanti makan malam di rumah!" Efran melambaikan tangan, sambil menikmati dissert nya. Seakan tidak ada beban yang sedang dipikul, Paula tetap berjalan menuju jalan raya untuk mencari taksi. Hari ini dia memutuskan untuk tidak memakai mobil, walau nanti akan menjadi sebuah pemandangan aneh untuk teman-temannya di kampus. Memang sangat berat, Paula yang dulunya hidup mewah dan serba menggunakan barang bermerek kini harus belajar hidup sederhana, dan itu tidak semudah anggapan Paula.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD