Yongtae mencoba berpikir positif terlebih dahulu, ia menge cek kamar, mungkin saja Han Rae memindahkan koper dan barang-barangnya ke tempat yang lain, namun tidak ada.
Yongtae pergi ke kamar mandi, kosong.
Mata Yongtae seketika bergetar. "Tidak, tidak, tidak mungkin dia kabur. Dia tidak mungkin berani melakukan itu." Gumam Yongtae.
Ia kemudian segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Ibu Han Rae. Mungkin saja Han Rae pulang.
"Halo Bu." Ucap Yongtae, ekspresi wajahnya begitu gusar.
"Halo Yongtae. Tumben kau menelfon, ada apa?"
"Apa Han Rae ada di rumah Ibu?"
"Tidak."
"Be-benarkah? Ibu tidak bohongkan?"
"Astaga, untuk apa Ibu bohong. Han Rae sama sekali tidak datang ke rumah. Tapi... tadi pagi Han Rae mengirim pesan pada Ibu, kalian akan bercerai, apakah itu benar? Bukankah Han Rae sedang hamil, tapi kenapa malah mau bercerai. Kalian kenapa? Ada masalah apa?"
Yongtae menundukan kepalanya sembari memegangi keningnya. Isakan tangis keluar dari mulutnya.
"Maafkan aku Bu, aku tidak bisa menjadi suami yang baik untuk Han Rae." Ucap Yongtae dengan nada lirih dan bergetar.
Tidak langsung ada jawaban dari Ibu, hanya terdengar helaan napas untuk beberapa saat.
"Han Rae itu, anak Ibu satu-satunya, dan dia perempuan. Sejak Ayahnya meninggal, Han Rae selalu bekerja keras untuk membahagiakan Ibu, sampai dia lupa dengan kebahagiaannya sendiri. Kalau Han Rae tidak bisa bahagia bersamamu, memang lebih baik kalian berpisah. Ibu ingin Han Rae bahagia sebelum Ibu melihatnya untuk yang terakhir kali." tangisan Yongtae pecah tanpa bisa ia tahan setelah mendengar penuturan Ibu Han Rae.
Rasa penyesalan seketika menumpuk, membebani hatinya.
Bukannya ia tidak mau membahagiakan Han Rae, tapi entah kenapa iblis sangat menguasainya, dan disaat ia sadar dan ingin minta maaf, selalu ada saja kendala dan masalah. Seperti mereka memang tidak diizinkan bersama oleh Tuhan.
"Aku minta maaf Bu." Ucap Yongtae.
"Ibu tidak tahu harus bilang apa. Maafkan wasiat Ayah Han Rae juga, yang ingin kalian menikah. Seharusnya Ibu batalkan saja, meskipun itu wasiat Ayah Han Rae. Karna Han Rae tidak akan bahagia."
"Aku akan berusaha, mencoba membuatnya bahagia Bu. Aku berjanji."
"Kalian akan berceraikan?"
"Tidak, tidak, kami tidak akan bercerai. Kami tidak akan bercerai."
"Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian."
***
Woojung menatap Han Rae yang sedang menyiapkan makan siang, sembari tersenyum dan melipat kedua tangannya di depan d**a. "Kau tidak mual masak ikan?" tanya Woojung.
"Sedikit. Tapi aku sudah memberinya lemon, jadi tidak terlalu mual." Balas Han Rae.
"Yongtae..... benar-benar bodoh menyia-nyiakanmu." Kata Woojung.
"Jangan bahas dia." Sahut Han Rae.
"Maaf." Gumam Woojung.
Han Rae menganggukan kepalanya.
Woojung melirik kartu ucapan yang ada ditangannya. ia sangat ingin memperlihatkannya pada Han Rae, namun, Woojung ragu perasaan Yongtae masih sama seperti dalam kartu ini. Yongtae sudah menyakiti Han Rae terlalu dalam.
Akhirnya Woojung memilih mengantongi kartu ucapan itu ke dalam saku celananya. Ia masih berharap Yongtae akan berubah dan menyatakan permintaan maaf juga perasaannya langsung pada Han Rae, karna Han Rae pasti akan lebih nyaman jika tidak berganti pasangan, apa lagi dia sudah hamil anak Yongtae.
Meskipun Woojung masih mencintainya, ia tidak ingin merusak begitu saja pernikahan Han Rae dengan Yongtae. Kalau masih ada kesempatan untuk dipertahankan, kenapa tidak dicoba dulu? Tapi kalau Yongtae benar-benar tidak bisa berubah dan terus menyakiti Han Rae. Woojung akan ambil tindakan lebih keras. Menjadikan Han Rae miliknya.
Ddrrrrtttt… Woojung dan Han Rae sama-sama tersentak saat mendengar deringan telfon, dan rupanya itu berasal dari ponsel Woojung.
"Sebentar Han, aku mau angkat telfon dulu." Ujar Woojung.
"Oke." Balas Han Rae.
Woojung pun segera menjauh dari dapur, dan pergi ke ruang tamu.
"Halo."
"Dimana Han Rae?"
"Kenapa kau mencarinya? Bukankah dia sampah? Untuk dibuang. Kenapa mau kau pungut lagi?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Dimana Han Rae sekarang?!"
"Aku tidak mengalihkan pembicaraan, bukankah yang aku katakan benar?"
"Dimana Han Rae?!"
"Aku sudah bilang. Kalau kau menyakitinya lagi, jangan berharap ia masih bersamamu. Kau lupa apa yang aku katakan?"
Yongtae hanya diam diseberang sana.
"Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Kau terus saja menyakitinya, bahkan tidak peduli dia sedang mengandung anakmu. Sekarang kau mencarinya, mau menyakitinya lebih dan lebih lagi? Maksudmu apa? Kalau kau memang membenci Han Rae dan merasa dia tidak pantas untukmu, kenapa tidak kau lepaskan saja Han Rae?" Woojung berbicara panjang lebar.
"Kau tidak tahu apa yang ada dipikiran dan perasaanku."
"Hah, ya, dan aku yakin kau sendiri tidak tahu."
"Sekarang kembalikan Han Rae. Aku ingin memperbaiki semuanya."
"Bisakah aku percaya? Aku ingin percaya, tapi aku merasa ragu setelah kau berkali-kali menyakiti Han Rae."
"Kau harus percaya! Aku tidak bisa memperbaiki semuanya, karna terus saja ada masalah saat aku ingin memperbaikinya, dan semua masalah itu berasal darimu!"
"Kau tidak bercermin? Kau terlalu mudah emosi, itu yang menyebabkan semuanya terhambat. Sekarang aku hanya ingin melindungi Han Rae, dan mungkin kalian memang tidak ditakdirkan bersama, itu sebabnya selalu saja ada kendala saat kau ingin memperbaiki hubunganmu dengan Han Rae."
Terdengar gertakan gigi Yongtae dari seberang sana.
"Apa yang kau katakan salah! Akan aku buktikan apa yang kau katakan salah!"
Piip. Sambungan telfon terputus. Woojung kemudian tersenyum. 'Selamat bekerja keras Yongtae.'
***
"Terimakasih." Ucap Yongtae pada seseorang yang baru ia tanyai. Sekretaris Woojung. Yongtae sampai sejauh ini untuk bertanya dimana rumah Woojung. Yongtae mendengus kesal sembari mengacak rambutnya frustasi.
Ia keluar dari kantor Woojung dengan langkah sempoyongan, sembari menatap jalan raya dengan tatapan kosong.
"Dimana kau Han?" gumam Yongtae.
Yongtae tidak bisa menghubungi Han Rae sama sekali, karna gadis itu sudah memblokir semua kontaknya, bahkan sampai media sosialnya.
Yongtae memasuki mobilnya, dan menjauh dari kantor Woojung. Ddrrrrttt… ponselnya tiba-tiba bordering, ia akhirnya terpaksa mengangkat telfon disaat sedang menyetir begini.
"Halo Yut,"
"Ketemu?"
"Tidak."
"Menyerah?"
"Enak saja!"
"Bersenang-senang sebentar yuk, aku tunggu di bar yang biasa aku datangi."
"Kau tidak akan dimarahi istrimu apa?"
"Aku tidak akan mabuk. Istriku juga tidak tahu."
"Lalu untuk apa ke bar kalau bukan untuk mabuk?"
"Cuci mata."
"Ck, kebiasaan. Aku masih mau mencari Han Rae, Han Rae pasti tidak jauh dari sini, aku yakin."
"Yah, dia memang pasti masih di Korea saja, tapi Korea itu kan luas."
"Masih luas Indonesia."
"Aku tahu bodoh."
"Sudahlah, aku jadi tidak fokus menyetir."
"Ya sudah kalau begitu, bye. Jangan ganggu Johnny, dia mau produksi anak lagi."
"Dari mana kau tahu?"
"Tadi aku menghubunginya sebelum ke bar, dan dia marah, sampai keceplosan, hahaha."
"Hah, rumah tangga kalian benar-benar baik ya?"
"Jangan iri. Yang merusak rumah tanggamu itukan dirimu sendiri. Han Rae selama ini sudah berusaha membuat rumah tangga kalian baik-baik saja."
Ciiittt. Yongtae me-rem mobilnya secara mendadak.
"Astaga. Sudah dulu Yuto, aku hampir menabrak anak kecil!"
Yongtae langsung mengesampingkan mobilnya ke samping trotoar, dan turun dari mobil.
Yongtae menghampiri seorang anak kecil yang sedang berjongkok di jalan raya sembari menutup matanya. Yongtae jadinya ikut berjongkok disamping anak perempuan itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Yongtae.
Anak perempuan itu mendongakan kepalanya menatap Yongtae, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Aku baik-baik saja." Ucap gadis kecil itu.
Yongtae menghela napas lega.
"Syukurlah, bahaya sekali anak kecil malam-malam begini menyebrang jalan sendirian." Kata Yongtae.
"Aku bukan mau menyebrang. Aku melihat ada bling-bling disitu." Ucap gadis kecil itu sembari menunjuk aspal jalanan yang tak jauh dari tempat ia dan Yongtae berjongkok sekarang. Yongtae mengernyitkan keningnya, memang ada sesuatu seperti kristal disana, yang berkelap-kelip karna terkena cahaya.
Yongtae segera mengambil benda tersebut, yang sedikit terselip diretakan kecil aspal. Mata Yongtae seketika melebar saa melihat benda itu.
"Ada apa Paman?" tanya gadis kecil itu.
"Ini..... cincin istri Paman." Gumam Yongtae.
"Benarkah?" tanya gadis kecil itu memastikan.
"I-iya. Ah, ini, ini uang untuk kau jajan. Jangan main di tengah jalan lagi ya? Paman pergi dulu."
Yongtae pergi begitu saja setelah memberikan beberapa lembar uang pada gadis kecil tersebut.
"Astaga! Banyak sekali! Paman! Ini terlalu banyak!" seru gadis itu setelah ia menghitung jumblah uang pemberian Yongtae.
Namun Yongtae sudah berlalu menggunakan mobilnya.
"Aku bisa membelikan adikku sepatu baru kalau begini." Ucap gadis itu sembari tersenyum.
"Semoga Tuhan memberkatimu Paman!" teriak gadis itu sembari melompat-lompat, meskipun Yongtae tidak tahu.
***
Yongtae mengenggam erat cincin yang hampir rusak itu. Air matanya sudah benar-benar membasahi wajahnya kali ini.
Seserius ini Han Rae ingin berpisah dengannya, sampai-sampai ia membuang cincin pernikahannya begitu saja ke jalan. Mungkin Han Rae memang berharap cincin itu rusak, hancur lalu lenyap dari dunia ini. Itu sebabnya Han Rae melemparnya ke jalanan.
***
Woojung membuka pintu kamar tamu secara perlahan, ia hanya berdiri diambang pintu, sembari menatap Han Rae yang sudah terlelap. Woojung mengulas senyum tipis.
"Yongtae sedang mencarimu. Aku ingin tahu sebesar apa dia menyesal dengan perbuatannya, jadi aku tidak memberitahu dimana rumahku. Dia harus bekerja keras untuk mendapatkanmu lagi. Setelah menemukan rumahku nanti pun, dan bertemu denganmu, Yongtae pasti butuh waktu yang panjang untuk meyakinkanmu, kalau ia sungguh-sungguh mau berubah." Monolog Woojung.
"Aku ingin kau susah dibujuk olehnya nanti. Aku juga akan menjadi penghalang yang kuat. Aku ingin tahu, sebesar apa Yongtae benar-benar ingin kau kembali padanya. Kalau Yongtae tidak menyerah, aku akan melepaskanmu padanya, tapi jika dia menyerah. Berarti Yongtae memang tidak pantas untukmu."
"Aku selalu ingin yang terbaik untuk orang-orang yang aku cintai. Termasuk kau."
***
Yongtae menyandarkan punggung dan kepalanya pada sandaran jok mobil. Wajahnya sudah tampak sangat lelah dan sayu. Yongtae mengambil satu kaleng kopi hitam yang sudah ia beli selusin sejak semalam, dan meneguknya. Yongtae mencoba bertahan untuk tidak tidur semalam, dan tetap mencari Han Rae. Ia mendatangi berbagai perumahan dan apartemen untuk mencari rumah Woojung, namun tidak ketemu juga.
Yongtae menolehkan kepalanya ke samping, menatap keluar jendela. Memandangi orang-orang yang berlalu lalang di trotoar, memulai aktifitas mereka dengan bersemangat dan segar. Sekarang sudah jam 8 pagi.
"Aku pulang dulu saja. Mandi, sarapan..... tidur sebentar." gumam Yongtae.
Ia baru saja hendak menyalakan mesin mobilnya, namun niatannya terhenti, saat melihat seorang gadis yang sangat familiar di matanya, tengah berjalan dengan seorang pria bersurai karamel, dan tak lama mereka memasuki sebuah toko roti. "Han Rae?" gumam Yongtae.
Yongtae buru-buru turun dari mobilnya, dan memasuki toko roti yang dimasuki gadis juga pria itu tadi.
"Han Rae!" panggil Yongtae.
gadis berambut lurus itu menolehkan kepalanya kearah sumber suara. Ia melebarkan matanya saat melihat Yongtae.
Ia buru-buru bersembunyi dibalik punggung Woojung. Pria bersurai coklat karamel itu, yang datang bersamanya. Raut wajah Yongtae berubah sendu.
"Han Rae, ayo pulang." Ucap Yongtae lirih.
"Han-" panggil Yongtae dengan nada yang masih lirih. Ia sudah sangat lelah, itu sebabnya Yongtae terlihat begitu lemah sekarang.
"Aku mencarimu semalaman." Ucap Yongtae dengan raut wajah semakin memelas.
"Untuk apa? Tidak ada, bahan untuk kau hina-hina atau siksa ya?"
Woojung hanya bisa menghela napasnya mendengar jawaban Han Rae.
"Tidak Han." Ucap Yongtae.
"Lalu untuk apa mencariku?" tanya Han Rae dengan sarkastik.
"Aku-" Yongtae menggantungkan sejenak kalimatnya.
Woojung seketika menatap Yongtae saat pria itu tiba-tiba menghentikan kalimatnya.
'Ayo buang gengsimu.' batin Woojung.
"Han Rae ayo pulang."
Woojung menghela napasnya, saat kalimat yang sudah dinantikan keluar dari bibir Yongtae, tidak kunjung keluar.
Yongtae berjalan mendekati Woojung dan Han Rae, ia menggeser tubuh Woojung ke samping. Sebenarnya hanya dengan gerakan yang pelan, namun Woojung memilih segera menyingkir. Yongtae tiba-tiba merengkuh Han Rae ke dalam pelukannya. Tubuhnya hampir ambruk jika saja Han Rae tidak berdiri di depannya. Namun Han Rae dengan cepat mendorong tubuh Yongtae menjauh darinya.
"Jangan sentuh aku!" seru Han Rae.
Hingga sekarang mereka jadi perhatian pengunjung toko roti. Beruntung, pengunjungnya belum terlalu banyak.
"Han Rae-" kalimat Yongtae terpotong karna Han Rae tiba-tiba memotongnya.
"Kau mau apa?! Kau kira melihatmu begini, melihat dan mendengar suaramu yang lesu, aku jadi goyah dan mau pulang denganmu?! Aku tidak bisa bertahan lagi!" Han Rae berujar dengan nada tinggi, dan wajah memerah karna emosinya.
"Han Rae- aku akan memperbaiki semuanya-" lagi, kalimat Yongtae harus terpotong oleh Han Rae.
"Memperbaiki apa?! Apa sebenarnya maumu? Kau pasti gelisahkan karna tidak bisa menghina dan menyiksa seseorang, itu sebabnya kau mencariku!" kata Han Rae.
"Han Rae! maksudku tidak begitu!" Yongtae terpaksa berteriak.
"Ayo Woojung kita pulang." Kata Han Rae sembari meraih lengan kanan Woojung kemudian menariknya.
"Tapi, kau bilang kau mau roti." Ucap Woojung.
"Tapi aku sudah tidak ingin, ayo kita pulang." Kata Han Rae.
Woojung akhirnya menganggukan kepalanya, dan menarik tangan Han Rae untuk pergi, namun Yongtae segera menahannya.
"Han Rae, aku mohon kau pulang ya? Kita mulai semuanya dari awal." Ucap Yongtae dengan tatapan memelas dan memohon.
"Mulai apa? Mulai menjadikanku b***k pemuas nafsumu mu?" Tanya Han Rae dengan frontal dan sinis.
Yongtae hanya terdiam, namun ia tiba-tiba jatuh ke depan, tumbang begitu saja ke lantai tidak sadarkan diri. Membuat Han Rae dan Woojung melebarkan matanya.
Woojung segera menarik tangannya dari Han Rae, berjongkok mendekati Yongtae.
"Kita bawa ke rumahku saja." Ucap Woojung.
"Aku tidak mau!" teriak Han Rae dengan nada sedikit histeris. Seolah ia memiliki trauma yang berat terhadap pria itu.
"Han Rae, tapi Yongtae pingsan, badannya panas sekali." Kata Woojung.
"Tidak! jangan!" Han Rae kembali berteriak kali ini diselingi tangisan yang tiba-tiba pecah begitu saja.
"Han, bagaimana pun dia masih suamimu. Jangan begitu." Woojung mencoba membujuk Han Rae.
Han Rae menutup mulutnya menggunakan lengan kirinya untuk menahan isakan tangisnya.
"Dia akan memukulku karna sudah pergi dari rumah, dia akan menghinaku p*****r, karna semalam bersamamu." Kata Han Rae sembari memejamkan matanya dan membiarkan air matanya meluruh.
"Ada aku, dia tidak akan melakukannya, aku akan melindungimu." Ucap Woojung menenangkan.ongtae mencoba berpikir positif terlebih dahulu, ia menge cek kamar, mungkin saja Han Rae memindahkan koper dan barang-barangnya ke tempat yang lain, namun tidak ada.
Yongtae pergi ke kamar mandi, kosong.
Mata Yongtae seketika bergetar. "Tidak, tidak, tidak mungkin dia kabur. Dia tidak mungkin berani melakukan itu." Gumam Yongtae.
Ia kemudian segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Ibu Han Rae. Mungkin saja Han Rae pulang.
"Halo Bu." Ucap Yongtae, ekspresi wajahnya begitu gusar.
"Halo Yongtae. Tumben kau menelfon, ada apa?"
"Apa Han Rae ada di rumah Ibu?"
"Tidak."
"Be-benarkah? Ibu tidak bohongkan?"
"Astaga, untuk apa Ibu bohong. Han Rae sama sekali tidak datang ke rumah. Tapi... tadi pagi Han Rae mengirim pesan pada Ibu, kalian akan bercerai, apakah itu benar? Bukankah Han Rae sedang hamil, tapi kenapa malah mau bercerai. Kalian kenapa? Ada masalah apa?"
Yongtae menundukan kepalanya sembari memegangi keningnya. Isakan tangis keluar dari mulutnya.
"Maafkan aku Bu, aku tidak bisa menjadi suami yang baik untuk Han Rae." Ucap Yongtae dengan nada lirih dan bergetar.
Tidak langsung ada jawaban dari Ibu, hanya terdengar helaan napas untuk beberapa saat.
"Han Rae itu, anak Ibu satu-satunya, dan dia perempuan. Sejak Ayahnya meninggal, Han Rae selalu bekerja keras untuk membahagiakan Ibu, sampai dia lupa dengan kebahagiaannya sendiri. Kalau Han Rae tidak bisa bahagia bersamamu, memang lebih baik kalian berpisah. Ibu ingin Han Rae bahagia sebelum Ibu melihatnya untuk yang terakhir kali." tangisan Yongtae pecah tanpa bisa ia tahan setelah mendengar penuturan Ibu Han Rae.
Rasa penyesalan seketika menumpuk, membebani hatinya.
Bukannya ia tidak mau membahagiakan Han Rae, tapi entah kenapa iblis sangat menguasainya, dan disaat ia sadar dan ingin minta maaf, selalu ada saja kendala dan masalah. Seperti mereka memang tidak diizinkan bersama oleh Tuhan.
"Aku minta maaf Bu." Ucap Yongtae.
"Ibu tidak tahu harus bilang apa. Maafkan wasiat Ayah Han Rae juga, yang ingin kalian menikah. Seharusnya Ibu batalkan saja, meskipun itu wasiat Ayah Han Rae. Karna Han Rae tidak akan bahagia."
"Aku akan berusaha, mencoba membuatnya bahagia Bu. Aku berjanji."
"Kalian akan berceraikan?"
"Tidak, tidak, kami tidak akan bercerai. Kami tidak akan bercerai."
"Ibu hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk kalian."
***
Woojung menatap Han Rae yang sedang menyiapkan makan siang, sembari tersenyum dan melipat kedua tangannya di depan d**a. "Kau tidak mual masak ikan?" tanya Woojung.
"Sedikit. Tapi aku sudah memberinya lemon, jadi tidak terlalu mual." Balas Han Rae.
"Yongtae..... benar-benar bodoh menyia-nyiakanmu." Kata Woojung.
"Jangan bahas dia." Sahut Han Rae.
"Maaf." Gumam Woojung.
Han Rae menganggukan kepalanya.
Woojung melirik kartu ucapan yang ada ditangannya. ia sangat ingin memperlihatkannya pada Han Rae, namun, Woojung ragu perasaan Yongtae masih sama seperti dalam kartu ini. Yongtae sudah menyakiti Han Rae terlalu dalam.
Akhirnya Woojung memilih mengantongi kartu ucapan itu ke dalam saku celananya. Ia masih berharap Yongtae akan berubah dan menyatakan permintaan maaf juga perasaannya langsung pada Han Rae, karna Han Rae pasti akan lebih nyaman jika tidak berganti pasangan, apa lagi dia sudah hamil anak Yongtae.
Meskipun Woojung masih mencintainya, ia tidak ingin merusak begitu saja pernikahan Han Rae dengan Yongtae. Kalau masih ada kesempatan untuk dipertahankan, kenapa tidak dicoba dulu? Tapi kalau Yongtae benar-benar tidak bisa berubah dan terus menyakiti Han Rae. Woojung akan ambil tindakan lebih keras. Menjadikan Han Rae miliknya.
Ddrrrrtttt… Woojung dan Han Rae sama-sama tersentak saat mendengar deringan telfon, dan rupanya itu berasal dari ponsel Woojung.
"Sebentar Han, aku mau angkat telfon dulu." Ujar Woojung.
"Oke." Balas Han Rae.
Woojung pun segera menjauh dari dapur, dan pergi ke ruang tamu.
"Halo."
"Dimana Han Rae?"
"Kenapa kau mencarinya? Bukankah dia sampah? Untuk dibuang. Kenapa mau kau pungut lagi?"
"Jangan mengalihkan pembicaraan! Dimana Han Rae sekarang?!"
"Aku tidak mengalihkan pembicaraan, bukankah yang aku katakan benar?"
"Dimana Han Rae?!"
"Aku sudah bilang. Kalau kau menyakitinya lagi, jangan berharap ia masih bersamamu. Kau lupa apa yang aku katakan?"
Yongtae hanya diam diseberang sana.
"Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Kau terus saja menyakitinya, bahkan tidak peduli dia sedang mengandung anakmu. Sekarang kau mencarinya, mau menyakitinya lebih dan lebih lagi? Maksudmu apa? Kalau kau memang membenci Han Rae dan merasa dia tidak pantas untukmu, kenapa tidak kau lepaskan saja Han Rae?" Woojung berbicara panjang lebar.
"Kau tidak tahu apa yang ada dipikiran dan perasaanku."
"Hah, ya, dan aku yakin kau sendiri tidak tahu."
"Sekarang kembalikan Han Rae. Aku ingin memperbaiki semuanya."
"Bisakah aku percaya? Aku ingin percaya, tapi aku merasa ragu setelah kau berkali-kali menyakiti Han Rae."
"Kau harus percaya! Aku tidak bisa memperbaiki semuanya, karna terus saja ada masalah saat aku ingin memperbaikinya, dan semua masalah itu berasal darimu!"
"Kau tidak bercermin? Kau terlalu mudah emosi, itu yang menyebabkan semuanya terhambat. Sekarang aku hanya ingin melindungi Han Rae, dan mungkin kalian memang tidak ditakdirkan bersama, itu sebabnya selalu saja ada kendala saat kau ingin memperbaiki hubunganmu dengan Han Rae."
Terdengar gertakan gigi Yongtae dari seberang sana.
"Apa yang kau katakan salah! Akan aku buktikan apa yang kau katakan salah!"
Piip. Sambungan telfon terputus. Woojung kemudian tersenyum. 'Selamat bekerja keras Yongtae.'
***
"Terimakasih." Ucap Yongtae pada seseorang yang baru ia tanyai. Sekretaris Woojung. Yongtae sampai sejauh ini untuk bertanya dimana rumah Woojung. Yongtae mendengus kesal sembari mengacak rambutnya frustasi.
Ia keluar dari kantor Woojung dengan langkah sempoyongan, sembari menatap jalan raya dengan tatapan kosong.
"Dimana kau Han?" gumam Yongtae.
Yongtae tidak bisa menghubungi Han Rae sama sekali, karna gadis itu sudah memblokir semua kontaknya, bahkan sampai media sosialnya.
Yongtae memasuki mobilnya, dan menjauh dari kantor Woojung. Ddrrrrttt… ponselnya tiba-tiba bordering, ia akhirnya terpaksa mengangkat telfon disaat sedang menyetir begini.
"Halo Yut,"
"Ketemu?"
"Tidak."
"Menyerah?"
"Enak saja!"
"Bersenang-senang sebentar yuk, aku tunggu di bar yang biasa aku datangi."
"Kau tidak akan dimarahi istrimu apa?"
"Aku tidak akan mabuk. Istriku juga tidak tahu."
"Lalu untuk apa ke bar kalau bukan untuk mabuk?"
"Cuci mata."
"Ck, kebiasaan. Aku masih mau mencari Han Rae, Han Rae pasti tidak jauh dari sini, aku yakin."
"Yah, dia memang pasti masih di Korea saja, tapi Korea itu kan luas."
"Masih luas Indonesia."
"Aku tahu bodoh."
"Sudahlah, aku jadi tidak fokus menyetir."
"Ya sudah kalau begitu, bye. Jangan ganggu Johnny, dia mau produksi anak lagi."
"Dari mana kau tahu?"
"Tadi aku menghubunginya sebelum ke bar, dan dia marah, sampai keceplosan, hahaha."
"Hah, rumah tangga kalian benar-benar baik ya?"
"Jangan iri. Yang merusak rumah tanggamu itukan dirimu sendiri. Han Rae selama ini sudah berusaha membuat rumah tangga kalian baik-baik saja."
Ciiittt. Yongtae me-rem mobilnya secara mendadak.
"Astaga. Sudah dulu Yuto, aku hampir menabrak anak kecil!"
Yongtae langsung mengesampingkan mobilnya ke samping trotoar, dan turun dari mobil.
Yongtae menghampiri seorang anak kecil yang sedang berjongkok di jalan raya sembari menutup matanya. Yongtae jadinya ikut berjongkok disamping anak perempuan itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Yongtae.
Anak perempuan itu mendongakan kepalanya menatap Yongtae, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Aku baik-baik saja." Ucap gadis kecil itu.
Yongtae menghela napas lega.
"Syukurlah, bahaya sekali anak kecil malam-malam begini menyebrang jalan sendirian." Kata Yongtae.
"Aku bukan mau menyebrang. Aku melihat ada bling-bling disitu." Ucap gadis kecil itu sembari menunjuk aspal jalanan yang tak jauh dari tempat ia dan Yongtae berjongkok sekarang. Yongtae mengernyitkan keningnya, memang ada sesuatu seperti kristal disana, yang berkelap-kelip karna terkena cahaya.
Yongtae segera mengambil benda tersebut, yang sedikit terselip diretakan kecil aspal. Mata Yongtae seketika melebar saa melihat benda itu.
"Ada apa Paman?" tanya gadis kecil itu.
"Ini..... cincin istri Paman." Gumam Yongtae.
"Benarkah?" tanya gadis kecil itu memastikan.
"I-iya. Ah, ini, ini uang untuk kau jajan. Jangan main di tengah jalan lagi ya? Paman pergi dulu."
Yongtae pergi begitu saja setelah memberikan beberapa lembar uang pada gadis kecil tersebut.
"Astaga! Banyak sekali! Paman! Ini terlalu banyak!" seru gadis itu setelah ia menghitung jumblah uang pemberian Yongtae.
Namun Yongtae sudah berlalu menggunakan mobilnya.
"Aku bisa membelikan adikku sepatu baru kalau begini." Ucap gadis itu sembari tersenyum.
"Semoga Tuhan memberkatimu Paman!" teriak gadis itu sembari melompat-lompat, meskipun Yongtae tidak tahu.
***
Yongtae mengenggam erat cincin yang hampir rusak itu. Air matanya sudah benar-benar membasahi wajahnya kali ini.
Seserius ini Han Rae ingin berpisah dengannya, sampai-sampai ia membuang cincin pernikahannya begitu saja ke jalan. Mungkin Han Rae memang berharap cincin itu rusak, hancur lalu lenyap dari dunia ini. Itu sebabnya Han Rae melemparnya ke jalanan.
***
Woojung membuka pintu kamar tamu secara perlahan, ia hanya berdiri diambang pintu, sembari menatap Han Rae yang sudah terlelap. Woojung mengulas senyum tipis.
"Yongtae sedang mencarimu. Aku ingin tahu sebesar apa dia menyesal dengan perbuatannya, jadi aku tidak memberitahu dimana rumahku. Dia harus bekerja keras untuk mendapatkanmu lagi. Setelah menemukan rumahku nanti pun, dan bertemu denganmu, Yongtae pasti butuh waktu yang panjang untuk meyakinkanmu, kalau ia sungguh-sungguh mau berubah." Monolog Woojung.
"Aku ingin kau susah dibujuk olehnya nanti. Aku juga akan menjadi penghalang yang kuat. Aku ingin tahu, sebesar apa Yongtae benar-benar ingin kau kembali padanya. Kalau Yongtae tidak menyerah, aku akan melepaskanmu padanya, tapi jika dia menyerah. Berarti Yongtae memang tidak pantas untukmu."
"Aku selalu ingin yang terbaik untuk orang-orang yang aku cintai. Termasuk kau."
***
Yongtae menyandarkan punggung dan kepalanya pada sandaran jok mobil. Wajahnya sudah tampak sangat lelah dan sayu. Yongtae mengambil satu kaleng kopi hitam yang sudah ia beli selusin sejak semalam, dan meneguknya. Yongtae mencoba bertahan untuk tidak tidur semalam, dan tetap mencari Han Rae. Ia mendatangi berbagai perumahan dan apartemen untuk mencari rumah Woojung, namun tidak ketemu juga.
Yongtae menolehkan kepalanya ke samping, menatap keluar jendela. Memandangi orang-orang yang berlalu lalang di trotoar, memulai aktifitas mereka dengan bersemangat dan segar. Sekarang sudah jam 8 pagi.
"Aku pulang dulu saja. Mandi, sarapan..... tidur sebentar." gumam Yongtae.
Ia baru saja hendak menyalakan mesin mobilnya, namun niatannya terhenti, saat melihat seorang gadis yang sangat familiar di matanya, tengah berjalan dengan seorang pria bersurai karamel, dan tak lama mereka memasuki sebuah toko roti. "Han Rae?" gumam Yongtae.
Yongtae buru-buru turun dari mobilnya, dan memasuki toko roti yang dimasuki gadis juga pria itu tadi.
"Han Rae!" panggil Yongtae.
gadis berambut lurus itu menolehkan kepalanya kearah sumber suara. Ia melebarkan matanya saat melihat Yongtae.
Ia buru-buru bersembunyi dibalik punggung Woojung. Pria bersurai coklat karamel itu, yang datang bersamanya. Raut wajah Yongtae berubah sendu.
"Han Rae, ayo pulang." Ucap Yongtae lirih.
"Han-" panggil Yongtae dengan nada yang masih lirih. Ia sudah sangat lelah, itu sebabnya Yongtae terlihat begitu lemah sekarang.
"Aku mencarimu semalaman." Ucap Yongtae dengan raut wajah semakin memelas.
"Untuk apa? Tidak ada, bahan untuk kau hina-hina atau siksa ya?"
Woojung hanya bisa menghela napasnya mendengar jawaban Han Rae.
"Tidak Han." Ucap Yongtae.
"Lalu untuk apa mencariku?" tanya Han Rae dengan sarkastik.
"Aku-" Yongtae menggantungkan sejenak kalimatnya.
Woojung seketika menatap Yongtae saat pria itu tiba-tiba menghentikan kalimatnya.
'Ayo buang gengsimu.' batin Woojung.
"Han Rae ayo pulang."
Woojung menghela napasnya, saat kalimat yang sudah dinantikan keluar dari bibir Yongtae, tidak kunjung keluar.
Yongtae berjalan mendekati Woojung dan Han Rae, ia menggeser tubuh Woojung ke samping. Sebenarnya hanya dengan gerakan yang pelan, namun Woojung memilih segera menyingkir. Yongtae tiba-tiba merengkuh Han Rae ke dalam pelukannya. Tubuhnya hampir ambruk jika saja Han Rae tidak berdiri di depannya. Namun Han Rae dengan cepat mendorong tubuh Yongtae menjauh darinya.
"Jangan sentuh aku!" seru Han Rae.
Hingga sekarang mereka jadi perhatian pengunjung toko roti. Beruntung, pengunjungnya belum terlalu banyak.
"Han Rae-" kalimat Yongtae terpotong karna Han Rae tiba-tiba memotongnya.
"Kau mau apa?! Kau kira melihatmu begini, melihat dan mendengar suaramu yang lesu, aku jadi goyah dan mau pulang denganmu?! Aku tidak bisa bertahan lagi!" Han Rae berujar dengan nada tinggi, dan wajah memerah karna emosinya.
"Han Rae- aku akan memperbaiki semuanya-" lagi, kalimat Yongtae harus terpotong oleh Han Rae.
"Memperbaiki apa?! Apa sebenarnya maumu? Kau pasti gelisahkan karna tidak bisa menghina dan menyiksa seseorang, itu sebabnya kau mencariku!" kata Han Rae.
"Han Rae! maksudku tidak begitu!" Yongtae terpaksa berteriak.
"Ayo Woojung kita pulang." Kata Han Rae sembari meraih lengan kanan Woojung kemudian menariknya.
"Tapi, kau bilang kau mau roti." Ucap Woojung.
"Tapi aku sudah tidak ingin, ayo kita pulang." Kata Han Rae.
Woojung akhirnya menganggukan kepalanya, dan menarik tangan Han Rae untuk pergi, namun Yongtae segera menahannya.
"Han Rae, aku mohon kau pulang ya? Kita mulai semuanya dari awal." Ucap Yongtae dengan tatapan memelas dan memohon.
"Mulai apa? Mulai menjadikanku b***k pemuas nafsumu mu?" Tanya Han Rae dengan frontal dan sinis.
Yongtae hanya terdiam, namun ia tiba-tiba jatuh ke depan, tumbang begitu saja ke lantai tidak sadarkan diri. Membuat Han Rae dan Woojung melebarkan matanya.
Woojung segera menarik tangannya dari Han Rae, berjongkok mendekati Yongtae.
"Kita bawa ke rumahku saja." Ucap Woojung.
"Aku tidak mau!" teriak Han Rae dengan nada sedikit histeris. Seolah ia memiliki trauma yang berat terhadap pria itu.
"Han Rae, tapi Yongtae pingsan, badannya panas sekali." Kata Woojung.
"Tidak! jangan!" Han Rae kembali berteriak kali ini diselingi tangisan yang tiba-tiba pecah begitu saja.
"Han, bagaimana pun dia masih suamimu. Jangan begitu." Woojung mencoba membujuk Han Rae.
Han Rae menutup mulutnya menggunakan lengan kirinya untuk menahan isakan tangisnya.
"Dia akan memukulku karna sudah pergi dari rumah, dia akan menghinaku p*****r, karna semalam bersamamu." Kata Han Rae sembari memejamkan matanya dan membiarkan air matanya meluruh.
"Ada aku, dia tidak akan melakukannya, aku akan melindungimu." Ucap Woojung menenangkan.