14

992 Words
Han Rae menggeliat saat merasakan cahaya matahari yang menerpa wajahnya. Ia merasakan ada yang memeluk perutnya erat. Han Rae menundukan kepalanya, dan menemukan Yongtae tertidur dengan memeluk perutnya dan menempelkan wajahnya pada perutnya. Semalam mereka bertengkar, dan Yongtae tiba-tiba berteriak kalau anak mereka bergerak, jadi Yongtae langsung memeluk perutnya, mengobrol didepan perut Han Rae, seolah sedang berbicara dengan bayi mereka, kemudian mereka tertidur bersama tanpa disadari. Padahal tidak mungkin janin yang berada diperut Han Rae sudah bergerak, baru juga beberapa minggu. Yongtae hanya ingin menghentikan perdebatan. Han Rae mencoba melepaskan pelukan Yongtae pada perutnya, namun Yongtae malah memeluk pinggang Han Rae semakin erat. "Maafkan aku Han." Gumam Yongtae sembari mengusapi wajahnya pada perut Han Rae. Han Rae tercengang untuk beberapa saat mendengar apa yang Yongtae ucapkan dalam tidurnya. Tak lama, tangannya terulur untuk menyentuh kepala Yongtae. Ia mengelus pelan rambut coklat Yongtae yang sangat berantakan. Kemudian ia beralih menge cek suhu tubuh pria itu, yang rupanya masih belum normal. "Yongtae, bangun." Ucap Han Rae dengan nada berbisik dan lembut. Ia mau membangunkannya kencang-kencang rasanya tidak tega. Entah kenapa. Tok tok tok. Tiba-tiba terdengar seseorang mengetuk pintu. "Yongtae, Han Rae, ini sudah jam tujuh lewat sepuluh menit. Maaf kalau menganggu kalian. Tapi Yongtae harusnya ada meeting pagi ini dengan perusahaanku, ada Ayahku juga nanti jadi tamu. Aku dan Yongtae harus bersiap lebih awal. Kalau Ayah melihat Yongtae rajin, dia pasti akan lebih percaya untuk menanamkan saham lebih besar di perusahaan Yongtae." Terdengar suara Woojung dari luar kamar. Tak lama Yongtae langsung membuka matanya, dan merubah posisinya jadi duduk. "Astaga, aku hampir lupa." Ucap Yongtae sembari menuruni ranjang. "Tapi... kau masih sedikit demam." Timpal Han Rae. "Saham itu lebih penting." Balas Yongtae dan langsung melesat ke kamar mandi. Han Rae hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Yongtae.                                                                                  ***                                 Han Rae membantu Edward menata rambutnya yang masih lembab. "Nah, sudah." Ucap Han Rae setelah ia selesai merapihkan rambut Edward. "Terimakasih." Ucap Edward sembari tersenyum lebar. "Rambutku berantakan juga." Kata Yongtae yang tiba-tiba datang sembari mengerjapkan matanya pada Han Rae. Woojung berdecih melihatnya, padahal jelas-jelas keluar kamar rambut Yongtae sudah rapih, tapi dia tiba-tiba mengacak rambutnya, hingga jadi benar-benar kusut. "Memangnya tidak bisa sisir sendiri?" tanya Han Rae. "Tidak bisa, kalau bisa untuk apa aku minta bantuanmu?" balas Yongtae. "Aku sering melihatmu menyisir rambut sendiri, baik-baik saja." Kata Han Rae. "Sejak kemarin malam saat aku mencarimu semalaman, ilmuku soal menyisir rambut hilang. Astaga, cepatlah rapihkan rambutku. Nanti aku bisa terlambat meeting." Yongtae beralibi, kemudian mentitah Han Rae. Han Rae mendengus dan akhirnya berjalan mendekati Yongtae. Ia pun menyisir rambut pria itu menggunakan jari-jarinya. Yongtae memejamkan matanya sembari tersenyum merasakan jari-jari Han Rae pada kepalanya. "Buat aku lebih tampan ya?" ucap Yongtae. "Memang sebelumnya sudah tampan? hidung pesek saja sudah merasa tampan." Cibir Han Rae. Yongtae hanya bisa menghela napasnya mendengar balasan Han Rae pada ucapannya. Kalau mau dibalas, mereka akan berdebat tidak habis-habis, dan Yongtae bisa-bisa tidak jadi meeting hanya karna masalah sepele. *** Yongtae tidak bisa fokus meeting, kepalanya pusing dan sesekali pandangannya berkunang. Woojung sudah menyuruh Yongtae berhenti saja, dan sekretarisnya akan mewakilkannya. Namun Yongtae menolak. Beruntung meeting akhirnya selesai juga. Begitu Ayah Woojung keluar ruangan meeting, ob tak lama masuk ke ruangan meeting, membawa obat dan segelas air mineral. Woojung kemudian memanggilnya, dan ob itu mendekat padanya dan Yongtae yang memang duduk bersebelahan. "Terimakasih." Ucap Woojung sembari mengambil obat dan air mineral itu dari tangan sang ob. Memang Woojung yang memesan obat dan air mineral, saat meeting sedang berlangsung tadi. Dan meminta ob itu masuk begitu semua orang di ruangan meeting sudah keluar, kecuali dirinya dan Yongtae. "Diminum. Mungkin bisa meringatkan pusing dan demammu." Ujar Woojung sembari menyodorkan obat dan air mineral tersebut pada Yongtae. Yongtae menerimanya sembari bergumam terimakasih. Ia kemudian segera meminum obat tersebut. Woojung memijat pelan bahu Yongtae, selagi pria itu sedang meminum obatnya, agar pria itu merasa lebih ringan. "Kau... benar-benar masih mencintai Han Rae?" tanya Yongtae tiba-tiba tanpa menatap Woojung. "Eum, ya, jujur saja.’’ Balas Woojung. ‘’Kenapa memangnya?" tanya Woojung. "Tapi sepertinya kau sangat mendukung hubunganku dan Han Rae membaik. Padahal seharusnya kau menghancurkan pernikahan kami." Kata Yongtae. Woojung tertawa kecil mendengar perkataan Yongtae. "Seperti tidak ada wanita lain saja di dunia ini, sampai-sampai harus menghancurkan pernikahan kalian." Kata Woojung. "Namun awalnya, aku memang berpikir punya kesempatan untuk bersama Han Rae lagi, setelah mendengarmu berkata, kalau Han Rae hanya sampah dan tidak menganggapnya istri. Tapi setelah melihat kartu ucapan yang kau tulis untuk Han Rae. Aku jadi berpikir, ada kesempatan pernikahan kalian diselamatkan. Apa lagi Han Rae juga selalu bicara, jika ia berharap pernikahannya masih bisa dipertahankan." Woojung kembali berujar panjang lebar. "Apa lagi ternyata kalian akhirnya sudah melakukan itu. Sebenarnya hal itu tidak mengurangi rasa sukaku pada Han Rae, jujur saja. Tapi..... aku berpikir, Han Rae pasti akan lebih nyaman disentuh satu pria seumur hidupnya." Woojung menjeda kalimatnya sejenak. "Dia pernah bilang. Bahkan tidak mau berciuman dengan mantan-mantannya terdahulu, sebelum akhirnya berkencan denganku. Karna ia sadar hubungannya akan berakhir suatu saat. Dan dia tidak mau menyia-nyiakan ciuman pertamanya. Apa lagi dia orangnya mudah geli dan merasa jijik dengan skinship." Woojung akhirnya menyudahi perkataannya. "Tapi kalian pernah berciuman?" tanya Yongtae. "Yah... hanya sekali, karna dia berpikir hubungan kami akan berakhir sampai menikah. Tapi nyatanya tidak. Intinya meskipun aku tidak bisa membahagiakan Han Rae, aku ingin membuatnya bahagia dan merasa nyaman, sebelum akhirnya nanti aku mencoba move on." Kata Woojung. "Kenapa kau sepertinya sangat menyukainya? Dia sebenarnya biasa-biasa saja, Aku juga heran kenapa akhirnya aku menyukainya." Kata Yongtae. "Dia berhasil menghilangkan rasa kesepianku, juga membuatku banyak tertawa. Sesederhana itu memang untuk mencintai seseorang. Kalau kau dibuat terlalu rumit. Fisik dan tahta, adalah hal konyol untuk digunakan sebagai alasan bisa mencintai seseorang." Kata Woojung. Yongtae seketika terdiam, ia menatap telapak tangan kanannya, dimana jari-jarinya kini tersemat dua buah cincin. "Jadi selanjutnya, langkah apa lagi yang ingin kau ambil untuk meyakinkan Han Rae, jika kau memang mau berubah?" tanya Woojung. ‘’Entahlah.’’ Gumam Yongtae.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD