Pulang ke rumah enggak membuatku bisa beristirahat dengan nyaman, ada yang mengganggu pikiranku. Ya, perkataan Zionino di rumah sakit. Entah ia sedang menyindirku atau aku saja yang terbawa perasaan dan tersindir oleh kalimat yang ia ucapkan. Tapi harus ku akui, ia benar. Dan aku menjadi takut. Apa seharusnya aku mengaku saja pada Zionino tentang semuanya. Tapi kalau dia marah dan meninggalkan aku, apa aku siap? Aihhh… kenapa aku malah terjebak dalam permainanku sendiri. “Kamu kenapa?” tanya ibu yang entah sejak kapan berada di dalam kamarku. “Ibu kapan masuk?” tanyaku “Barusan, waktu kamu ngacak-ngacak rambut kayak orang frustrasi gitu,” jawab ibu. “Kamu kenapa sih, Rif?” tanya ibu. Ibu mendekatiku duduk disisi tempat tidur tepat disampingku. “Rifa bingung,” kataku. “Kenapa? Cerita

