Part 6 - Pagi Pertama

1647 Words
“Bangun!” “Gendis, bangun!” “Gendis bangun anak kamu lapar!” “Ih, apaan berisik!” seru Gendis sambil membuka matanya penuh dengan emosi. Orang yang membangunka ia nampaknya tidak tahu kalo membangunkan Gendis yang sedang tidur sama saja seperti mengaganggu beruang yang sedang hibernasi. “Bangun, Gema lapar! Cepat kamu susuin,” suruh Gyan berdecak kesal. Gendis yang sudah membuka kelopak matanya terdiam sebentar saat melihat lelaki di depannya, siapa pria itu? Siapa pula Gema? Astaga, dia lupa kalo sudah menjadi seorang isteri dan ibu sekarang! Gendis baru sadar jika ada tangis yang memenuhi kamarnya, wanita itu buru-buru mengubah posisinya menjadi duduk dan menatap ke arah Gema yang sudah berlinang air mata. “Gema kenapa nangis?” tanya wanita itu membuat Gyan menggertakan giginya kesal. “Gema. Nangis. Karena. Dia. Lapar,” eja lelaki itu penuh emosi membuat Gendis mengerutkan dahinya. “Kenapa enggak kamu susuin?” tanyanya wanita itu balik dengan ekpresi polos. “Otak kamu kayaknya enggak dimasukin balik sama Dokternya!” hina Gyan membuat Gendis langsung tersulut emosi. “Sejak kapan laki-laki punya fungsi untuk menyusui, hah?!” sentak pria itu lagi membuat Gendis akhirnya sadar. Gyan yang kasihan dengan anaknya buru-buru memberikan Gema kepada Gendis untuk disusui. Untung saja isterinya itu langsung menurut, menarik sedikit gaun tidurnya, membuka bagian branya dan memberikan ujung anggota tubuh itu pada anaknya yang langsung dihisap dengan kuat. Pria itu sebenarnya ingin kembali tidur karena besok dirinya akan bekerja. Tapi saat melihat bagian gunung kembar isterinya yang terbuka, membuat Gyan malah terpaku. Glek! Gendis langsung melotot ke arah Gyan ketika mendengar pria itu menelan ludah. Sensor bahaya di tubuhnya tiba-tiba berbunyi, membuatnya segera waspada. Walau di kehidupan sebelumnya Gendis sudah berusia lebih dari 30 tahun namun ia masih perawan! “Jangan lihat!” seru Gendis saat Gyan semakin intens menatap gunung kembarnya. “Kenapa?” tanya pria itu dengan suara seraknya membuat Gendis membeku. s**t, kenapa sangat seksi? “Ee—susunya jadi enggak lancar!” alibi Gendis langsung berbalik menghadap ke dinding. Gyan yang melihat perilaku aneh isterinya kembali tertegun. Tapi, entah kenapa dia malah tersenyum seperti orang gila saat mendengar alasan Gendis. Sejak kapan pengaruh asi disebabkan oleh tatapan suami? Namun yang paling pria itu syukuri adalah Gendis yang ingin menyusui Gema, padahal biasanya saat tengah malam begini wanita itu akan selalu menolak. Itulah kenapa anak bungsunya itu memiliki s**u formula. Gendis mengalihkan perasaan membara di tubuhnya dengan menatap wajah Gema yang begitu tenang. Ketika merasa suasana sangat sepi, Gendis segera curiga dan langsung berbalik. Ia melotot ketika melihat Gyan sudah tertidur di samping kasurnya dengan nyenyak. Sialan, suami tidak bertanggung jawab! Gendis memaki Gyan di dalam hatinya. Ia hendak mendorong agar pria itu bangun namun saat melihat wajah lelahnya, entah kenapa Gendis tiba-tiba saja terhenti. Jika memang Gendis Khalila mengabaikan suami dan anaknya, maka orang yang paling menderita di rumah ini adalah Gyan. Pria itu harus bekerja dari pagi sampai sore namun juga harus mengurus anak-anak. Gendis tidak bisa membayangkannya, belum satu hari saja Gendis berada disini, dia merasa tubuhnya sudah kelelahan. Tapi, ada hal yang membuat Gendis sangat bingung sekarang. Jika memang hubungan keduanya tidak bagus, kenapa Gyan masih mempertahankan hubungan pernikahan mereka? Gendis juga tidak percaya jika keduanya tidak memiliki cinta, bagaimana bisa tiga anak lelaki itu lahir?! Sudah sejak lama Gendis menduga bahwa pernikahan itu sulit dan melelahkan. Gendis kembali melirik ke arah Gema yang sudah kembali tertidur nyenyak. Wanita itu menghela nafasnya panjang, meletakan bayi lelaki itu kembali ke tempat tidurnya. Ia tiba-tiba menguap, memutuskan untuk kembali tidur walau masih merasa agak aneh karena tidur bersama orang asing. Namun baru bebedapa menit menyentuh bantal, wanita itu langsung tertidur nyenyak sampai membuatnya bangun kesiangan. Itu pun karwma Gavin hendak meminta salam padanya. Gendis seketa buru-buru bangun, kepalanya bergerak ke kiri dan kanan seperti seseorang yang tengah kesurupan karena mencari Gema. Tapi, saat melihat bahwa Gyan tidak ada bersamanya, pria itu pasti sudah membawa Gema terlebih dahulu. “Abang Apin udah sarapan? Kak Gaffi sama Dek Gema mana?” tanya Gendis yang akhirnya bisa sedikit tenang. “Lagi di depan, ibuk,” jawab Gavin cepat. “Ibu kenapa enggak dibangunin?” tanya Gendis heran, mengingat sikap Gyan seperti majikan yang tidak ingin pembantunya mendapat gaji buta dengan berleha-leha, pastilah lelaki itu tidak mau membuatnya tidur lebih lama. “Ayah bilang kalo malam tadi ibu jaga adek, jadi enggak papa bangun siang.” Gendis tertegun mendengarnya, dia sedikit terkejut ternyata Gyan memiliki sisi baik juga. Walaupun itu tertupi dengan kejahatannya. “Ibu cuci muka dulu, nanti nyusul ke depan.” Wanita itu menghela nafasnya panjang saat sendirian di kamar, pagi ini adalah pagi pertamanya menjadi seorang Gendis Khalila. Seorang isteri dan ibu dari tiga anak. Saat mendengar suara gaduh dari luar, membuatnya buru-buru untuk cuci muka dan keluar. Gendis agak malu saat melihat Gyan dan ketiga anaknya sudah rapi, bahkan Gema sudah mandi dan sarapan dengan makanan pendamping yang dibuat oleh Gyan. Jika teman-teman nongkrong Gendis mengetahui ada sosok Gyan di dunia ini, mereka pasti akan tergila-gila. Seorang family-man yang nampak sangat seksi. “Ibuk? Ibu masih loading bangun?” tanya Gavin polos membuat Gendis tersentak dari lamunanya. “Gema udah makan, tinggal tidurin aja,” beri tahu Gyan sambil bangkit dari kursi dan memberikan Gema pada Gendis yang masih mengenakan gaun tidurnya. Gendis yang masih agak kaku berusaha untuk menggendong Gema, untung bayi itu nampaknya sudah mengantuk setelah kenyang sehingga tidak banyak bergerak. “Hati-hati di rumah. Jangan tinggalin Gema sendirian!” peringat Gyan membuat Gendis mengangguk. Tidak ada yang bisa diprotes dari perkataan pria itu, mana mungkin dia meninggalkan seorang bayi? “Ibu, salim,” pinta Gavin mengulurkan tangannya ke arah Gendis yang langsung disambutnya. “Belajar yang senang ya.” “Kak Gaffi juga, jangan belajar terus. Main sama teman-temannya, biar senang,” pesan Gendis membuat Gaffi sedikit tertegun, anak laki-laki itu biasanya selalu diperingatkan untuk belajar terus agar nilainya tinggi. Baru kali ini dia mendengar Gendis menyuruhnya bermain-main. Gyan hendak protes tentang ajaran Gendis namun buru-buru menutup mulutnya saat mengingat sang isteri saat meminta cerai. Sifat isterinya tiba-tiba berubah sejak Dokter mengatakan bahwa Gendis mungkin kehilangan ingatannya, dia jadi lebih berani, baik pada anak-anak dan sedikit lucu tapi Gyan juga tidak menyangka isterinya itu akan meminta cerai begitu mudah, membuatnya sedikit takut. Dia tidak mau kehilangan Gendis yang seperti ini. Yah, walapun membuatnya harus sakit kepala dengan perkelahian mereka. Gyan lalu memberikan telapak tangannya pada Gendis membuat wanita itu mengerutkan dahi. “Kamu mau salim juga? Emang mau berangkat ke sekolah?” tanya Gendis membuat Gyan mendengus. Baru saja, wanita itu kembali memancing emosinya. “Ibu yang salim sama Ayah!” seru Gavin membuat Gendis melotot. Apa? Dia harus mencium tangan Gyan? Seperti adegan suami isteri bahagia di sinetron itu? “Cepat, aku nanti terlambat!” seru Gyan membuat Gendis menghela nafas dan buru-buru mengambil tangan suaminya itu. Ketika melihat ketiga lelaki itu keluar rumah, Gendis jadi penasaran dan segera membawa Gema bersamanya untuk mengantar ketiga pria itu. Gyan, Gaffi dan juga Gavin yang melihat Gendis mengantar mereka sampai di depan rumah sedikit terkejut sekaligus senang. Mereka tidak pernah diantar seperti ini sebelumnya. “Hati-hati,” pesan Gendis yang mengingat betapa mengerikannya Gyan membawa motor. “Iya, Ibu,” jawab Gavin memberikan jempolnya membuat Gendis terkekeh. Gendis menunggu motor Gyan benar-benar hilang dari pandangannya sebelum kembali ke dalam rumah. Ia melatakan Gema ke dalam bouncer yang ada di ruang keluarga sehingga bisa mendegar jika anaknya itu menangis. Wanita itu sarapan dengan cepat lalu membawa Gema ke dalam kamar tidur saat dia mandi. Gendis juga tidak berani terlalu lama di dalam karena takut sesuatu yang buruk terjadi pada Gema. Namun wanita itu memuji dirinya sendiri yang bisa mandi dibawah waktu sepuluh menit. Sebuah rekor luar biasa untuk Gendis yang mencintai mandi. Memandangi Gema yang sedang tidur, Gendis benar-benar tidak memiliki pekerjaan lain. Seketika wanita itu sedikit merasa bosan, memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk menghabiskan waktu luangnya. Dia tidak tahu jika pakaian kotor sudah menumpuk di mesin cuci. Bekerja? Tidak mungkin. Gyan pasti akan langsung memakannya hidup-hidup jika berani meninggalkan rumah dan anak-anak. Tapi, Gendis benar-benar tidak bisa seperti ini karena merasa bosan. Menurutnya, seorang wanita harus memiliki penghasilannya sendiri agar tidak terlalu bergantung, apalagi dengan kondisi ekonomi keluarganya yang seperti ini membuat Gendis semakin ingin bekerja. Hanya Gyan yang bekerja dan perlu menghidupi empat orang. Bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada Gyan? Maka keluarga mereka akan mati. Gendis tiba-tiba memiliki ide, sewaktu kuliah dulu dia memiliki pekerjaan sampingan yang bisa dilakukan dari mana saja. Simplenya seorang freelancer, dimana Gendis akan bekerja saat ada yang meminta bantuannya. Walaupun tidak sebesar gajinya di perusahaan tapi setidaknya Gendis memiliki penghasilan sendiri. Uangnya juga bisa wanita itu investasikan, selain belerja di perusahaan, Gendis juga bisa dibilang seorang trader—dimana dia membeli saham dan menjualnya saat harganya telah naik. Tentunya dia harus mengumpulkan dana darurat dan asuransi dulu. Tok! Tok! Gendis yang matanya sudah lima watt mengerutkan dahinya saat mendengar ketukan pintu. Gavin dan Gaffi belum pulang saat ini, jadi apa itu Gyan yang pulang karena ada yang tertinggal? Wanita itu akhirnya perlahan bangkit dari kasur, sangat pelan agar tidak membuat Gema terbangun. Ketukan pintu semakin kuat ketika dia hampir sampai membuat Gendis jadi kesal. Apa sebelumnya Gendis Khalila memiliki hutang dan itu adalah penagih hutang? Clekk! Gendis melihat seorang wanita paruh baya di depan pintunya dengan pakaian yang nampak sederhana dengan membawa map di tangannya, seketika Gendis jadi paham tujuan wanita ini. “Maaf, Buk. Enggak terima sumbangan,” ucap Gendis santai. “Kurang ajar, apa seperti itu perlakuan kamu dengan mertua?!“ GLEGAR! Gendis sangat terkejut bak disambar petir ketika mendengar bahwa perempuan di depannya ini adalah Ibu dari Gyan yang artinya adalah ibu mertuanya. Wanita itu seketika langsung meringgis menahan malu. “Ini soalnya bawa map sih, jadi kayak minta sumbangan gitu,” alibi Gendis.. “INI SURAT CERAI KAMU DAN GYAN!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD