Part 2 - Eiffel Tower

1534 Words
Part 2 - Eiffel Tower Keesokan harinya. Aliya dan Raisa berjalan menuju menara Eiffel. Karena bukan hari weekend, jadinya tempatnya tidak terlalu ramai seperti biasanya. "Gimana kamu suka tempat ini?" tanya Raisa. "Keren banget kak! Aliya enggak nyangka bisa ke tempat ini," ucap Aliya kagum. Persis seperti Raisa pertama kali menginjakan kaki ke negara ini. Tapi rasanya sekarang sudah biasa saja. Mungkin karena Raisa sudah tinggal di paris hampir dua tahun jadi semua terasa biasa saja. "Lebih bagus lagi kalau malem de. Mungkin sebagian orang menganggap hanya lampu-lampu biasa aja. Tapi bagi kakak lampu-lampu yang menghiasi menara Eiffel itu sangat indah Al. Coba deh nanti malem kamu ajak Digo ke sini. Lebih romantis juga," saran Raisa. "Iya kak. Kak tau tempat gembok cinta?" tanya Aliya. "Tahu dong. Kamu mau kesana?" Raisa tanya balik. Aliya mengangguk mantap. "Abis naik ke menara Eiffel ajak Aliya ke sana ya, kak," pinta Aliya. "Iya sayang. Yuk kita naik dulu. Di atas sana kita bisa lihat keindahan kota Paris," ajak Raisa. "Ayo ayo kak!" seru Aliya antusias. Eiffel Tower. Sesampainya di puncak menara Eiffel. Terlihat sekali Aliya sangat senang melihat keindahan negara ini. Kota sejuta cahaya yang selalu dibilang kota paling romantis sedunia. Ternyata memang benar-benar sangat indah sekali. "Waaaaahhhh indah banget kakak. Aku pengen banget ajak Digo ke sini!" seru Aliya saat melihat keindahan kota Paris dari atas menara Eiffel. "Nanti malem aja. Pasti romantis!" saran Raisa. "Tapi kak Riyan izinin enggak ya, kak?" tanya Aliya ragu. "Izinin lah. Masa enggak. Biar kakak yang bilang. Sekarang kita ke gembok cinta aja dulu. Abis itu kita belanja baju buat kamu. Kakak bakalan dandanin kamu. Dijamin Digo terpesona deh sama penampilan kamu, buat nanti malam," dukung Raisa sangat bersemangat. "Serius ka? Aasssiiikk beruntung banget aku punya kakak sebaik kak Raisa. Makasih ya, kakak." Aliya peluk Raisa. Aliya menganggap Raisa bukan hanya sekadar kakak iparnya saja. Tapi sudah seperti kakak kandungnya sendiri. Raisa memang sangat ramah dan perduli pada adik iparnya. Bahkan mungkin Raisa juga sudah menganggap Aliya seperti adiknya sendiri. Setelah puas melihat pemandangan kota Paris dari atas menara Eiffel. Mereka pergi ke gembok cinta dan belanja. Persiapan untuk kencan Aliya dan Digo nanti malam. ********* Malam hari. Aliya meminta izin pada Riyan agar diperbolehkan kencan bersama Digo. Raisa juga membantu Aliya meminta izin pada Riyan. Raisa yakin, Riyan pasti mengizinkan. "Boleh tapi jangan malam-malam pulangnya, ya," izin Riyan. "Assiikk makasih ya kakakku yang baik dan ganteng!" puji Aliya yang telah mendapatkan izin dari sang kakak. "Sebentar.. sebentar.. Kayaknya ada yang beda deh sama kamu," selidik Riyan. Aliya sudah rapih dengan dress warna merahnya. Raisa sengaja membelikan dress berwarna merah. Karena memang katanya merah adalah lambang cinta. Kebetulan juga Aliya sangat suka warna merah. Tidak semua perempuan suka warna merah. Buktinya, Raisa sukanya warna putih kok. Persis menggambarkan dirinya yang selalu rapih dan bersih. "Beda apa kak?" "Rapih bener dan.." "Cantik," ceplos Raisa. "Wajar lah sayang. Orang mau ngedate harus tampil cantik kaya gitu. Kayak yang enggak pernah muda aja. Hahaha!" ledek Raisa. "Hhehe iya sih. Oh mau ngedate pantesan. Kamu yang dandanin sayang?" tanya Riyan. "Iya kak. Kak Raisa yang dandanin. Gimana cantik kan aku?" tanya Aliya kepedean. "Masih cantikan istriku lah. Ahahahah," sahut Riyan dengan tertawa renyah. Aliya manyun. Ya, iyalah. Seorang suami akan selalu melihat istrinya paling cantik di dunia. ******** Eiffel Tower. Panorama yang indah di malam hari. Di kota sejuta cahaya yang membuat sebagian orang mempertaruhkan sebagian mimpinya di sini. Membuat kota Pari menjadi kota romantis di dunia. Digo dan Aliya sedang berjalan menaiki lift menara Eifel. Meski tadi pagi Aliya sudah kesini bersama Raisa. Namun, rasanya berbeda. Kalau kesini pada malam hari. Apalagi sama pacar, tentunya akan membuat jantung berdegup kencang. Suasana disekitar juga sangat mendukung. Di Paris tidak seperti di Indonesia. Di sini orang-orang berpacaran terlihat bebas. Sudah banyak pasangan yang dengan santainya berciuman. Menikmati rasa yang menggebu di dadanya. Padahal ini tempat umum. Ya, sudahlah itu urusan mereka juga. Hehe "Indah kan?" tanya Digo saat ada di puncak menara Eifel. "Banget. Aku ga pernah nyangka bisa ke kota paling romantis sedunia bareng kamu sayang. Tadi pagi aku sama kak Raisa padahal kesini. Heran, kok sekarag lebih indah ya," sahut Aliya. "Itu karena ada aku. Makanya jadi terasa lebih indah. Haha. Aku pingin banget kaya kakak kamu. Romantis, setia banget sama kak Raisa. Tegar dan enggak pernah menyerah buat segalanya. Dari mulai pertama nikah, mereka di uji dengan menantikan kehadiran seorang anak. Saat diberikan anak. Malah keguguran, tapi alhamdulillah sekarang malah dikasih dua langsung. Semoga mereka berdua bahagia selalu yah," oceh Digo memuji pasangan Riyan dan Raisa. "Be your self sayang. Ksmu harus bisa jadi diri sendiri. Kalau kamu ingin seperti orang lain. Tentu tidak akan pernah bisa," komentar Aliya. Sebetulnya bagus Digo ingin menjadi seperti kakaknya, Riyan. Riyan itu penuh semangat, pekerja keras, perhatian, penuh kasih sayang, setia dan mau berjuang melawan penyakitnya. Siapa yang enggak mau coba punya pacar seperti Riyan? Hanya saja Aliya lebih suka kalau Digo menjadi dirinya sendiri. "Maksud aku, kak Riyan itu inspirasi aku sayang. Ga ada salahnya kita mencontoh sikap baik seseorang kan?" ralat Digo. "Iya sih. Besok kita ke gemok cinta yuk!" ajak Aliya bersemangat. "Kamu tahu tempatnya?" tanya Digo. "Tahu dong." "Kayanya kamu udah tahu banyak tentang Paris. Hebat aku sama pacarku," puji Digo. "Ya, iyalah Sayang. Aku pengen banget ke sini bareng pangeran aku. Jadi aku caritl tahu semuanya. Baik melalui internet maupun kak Raisa atau kak Riyan. "Iya putri hatiku hhe," gombal Digo. Suasana semakin romantis saat makan malam di menara Eifel. Aliya sangat menikmati momen ini. Sudah saatnya Aliya memutuskan menerima lamaran Digo. Semoga saja Digo tidak seperti suaminya dokter Rina. Meninggalkan dirinya saat terlalu sibuk, oleh pekerjaannya sebagai dokter. Apalagi Aliya mau jadi dokter spesialis jantung seperti kakak iparnya Raisa. ********* Apartement in Paris. Malam ini sangat dingin. Memang di Paris memasuki musim dingin. Sejak tadi si kembar Gavyn dan Davyn terus-terusan menangis. Riyan jadi semakin khawatir, karena tidak biasa Gavyn dan Davyn menangi lama seperti ini. Biasanya kalau digendong atau diberi asi langsung diam. "Sayang. Davyn nangis terus nih," cetus Riyan cemas. "Coba aku periksa dulu." Raisa memeriksa Davyn. Sayang. Davyn demam," ucap Raisa. "Terus gimana dong?" tanya Riyan sedikit panik. "Tenang kamu jangan panik. Aku kan dokter. Lagian ini wajar, si kembar tadi siang kan baru diimunisasi. Aku kasih obat penurun demam saja. Nanti juga turun demamnya," jelas Raisa. "Kayaknya Gavyn juga sakit," Riyan memegang kening Davyn yang ternyata panas juga. "Kontak batin mereka kuat banget. Mungkin karena mereka kembar identik. Sayang, kamu tenang yah. Ini efek imunisasi aja kok," Raisa mencoba terus menenangkan Riyan yang mulai panik lagi. "Semoga demam bisa cepat turun yah," harap Riyan. "Aamiin." Kemudian Raisa pergi untuk mengambil obat. Raisa memberikan obat sesuai takaran pada Gavyn dan Davyn. Selang beberapa menit. "Keluar yuk! Gavyn sma Davyn kan udah tidur," ajak Raisa. "Yuk!" Setelah diberikan obat Gayn dan Davyn sedikit lebih tenang. Mereka sudah tidur pulas di box bayi. Rasanya damai mereka bisa tidur lelap seperti itu. Mereka kembali ke kamar Riyan dan Raisa. Ini sudah malam juga. Sudah saatnya mereka tidur. Sesampainya di kamar. Raisa tak lupa membersihkan wajahnya. Ia selalu mengutamakan kebersihan dan kesehatan dirinya. Raisa melihat Riyan dari pantulan cermin, yang ada dihadapannya sekarang. Riyan tampak murung dan melamun. Ada apa sebenarnya? Apa Riyan masih memikirkan Gayn dan Davyn? "Loh kok kamu ngelamun, sayang? Ada apa?" tanya Raisa. "Yakin Gavyn sama Davyn enggak sakit jantung juga? Aku takut mereka sakit kayak aku," sahut Riyan lirih. "Kok kamu ngomongnya gitu? Sayang, aku kan dokter spesialis jantung. Jadi aku tahu kondisi anak aku sendiri. Aku udah sering cek kok. Semua baik-baik saja. Enggak kok. Mereka enggak sakit. Kamu tenang aja. Mereka cuma demam biasa, efek dari imunisasi pada umumnya," jelas Raisa. Ia paham sekali kekhawatiran Riyan. Wajar saja, ini adalaha anak pertama mereka berdua. Riyan kan belum pernah mengurus bayi. "Aku takut aja kalo mereka mewarisi riwayat penyakit jantung aku. Aku kan punya penyakit jantung bawaan dari kecil," Riyan nampaknya terlalu parno sama kondisi Gavyn dan Davyn. "Enggak kok sayang. Inssya Allah mereka akan baik-baik aja. Kamu jangan parno gitu," ucap Raisa tenang. Ia harus tenang, agar Riyan juga ikut tenang. "Makasih ya sayang. Kalian itu anugrah yang Allah berikan buat aku. Dan membuat jantung ini terus berdetak," ucap Riyan mellow. Raisa memegang d**a Riyan. Raisa memegang d**a Riyan. "Jantung ini akan selalu berdetak kok. Kamu harus tetep semangat dan optimis. Kita akan tua bersama. Kita pasti akan melihat Gavyn dan Davyn menikah. Jadi kamu jangan berhenti berjuang. Aku yakin kok kamu bisa sembuh. Semangat!" seru Raisa penuh semangat. "Aamiin. Tidur yuk! Kita buat dede baru buat Gavyn sma Davyn. hhehe," ujar Riyan bercanda. "Riyyyaaan!! Gavyn sama Davyn masih kecil!" tukas Raisa. Ya, iyalah langsung kena semprot. Ngurus si kembar sudah sangat sibuk sekali. Apalagi kalau ditambah satu lagi. "Ahhaaa.. Becanda kali. Hhehe. Ayo tidur," ajak Riyan lagi. Raisa mulai memeluk Riyan. Ia merasakan detak jantung Riyan yang normal. Semoga saja Riyan cepat sembuh. Itu yang Raisa harapkan selama ini. Tak lama setelah berbincang-bincang. Mereka terlelap tidur. Mereka mulai tenggelam dalam mimpi mereka masing-masing. Apa yang akan dilakukan Digo dan Aliya di gembok cinta? Apakah Gavyn dan Davyn akan baik-baik saja? Yuk baca kisah selanjutnya besok.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD