Chapter 4

1059 Words
"Karena yang aku tau mencintai versi terbaik, yang tak tau caranya menyakiti." ***** Sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya. Kate tidak henti-hentinya menangis. Tangannya memeluk erat pinggang Leo yang sedang mengendarai motor. Dia beberapa kali juga mengelap air matanya. Malam ini semuanya kacau. Kate hancur, namun dia tidak tau harus seperti apa. Rasa sakit itu kembali dia rasakan kala Rafa lagi-lagi selalu memilih Vanilla dibandingkan dirinya. Kapan Kate akan menjadi pemenang dalam kehidupan cowok itu, kenapa harus selalu dia yang mengalah demi mempertahankan hubungan ini. Kate terus membayangkan kenang-kenangan yang pernah dia lalui bersama Rafa. Masa-masa pendekatan yang indah, namun saat menjadi sepasang kekasih malah seperti ini akhirnya. Kejadian-kejadian pahit yang padahal tidak Kate harapkan dalam hubungan ini terus saja terjadi hampir setiap harinya. Dulu, Kayla tidak terlalu seperti ini dengan Rafa. Tapi sekarang kenapa semuanya berbeda? Cewek itu seolah memang menginginkan seluruh perhatian Rafa kepadanya. Seolah mengunci Rafa agar tidak bersama orang lain. Padahal mereka berdua hanya sebatas sahabatan. Kate juga tidak pernah melarang persahabatan antara mereka berdua, namun haruskah sampai sangat berlebihan seperti ini. Jika Kayla memang mencintai Rafa. Kenapa dia tidak pernah berterus terang agar Kate bisa melepaskan Rafa dan membiarkan mereka bersama. Tanpa harus merasakan sakit seperti ini. "Kate, jangan nangis terus. Kamu bisa flu lho kalau nangisnya kelamaan." Leo melirik ke arah spion dan bisa melihat dengan jelas bahwa Kate masih menangis seperti beberapa menit yang lalu. Rambut cewek itu terlihat berantakan, matanya sembab dan pipinya masih basah karena air mata yang turun tanpa henti. Awalnya Leo sangat kaget menemukan Kate menangis, dan cewek ini sendirian di pasar malam. Setelah Kate menceritakan semuanya. Barulah Leo paham, bahwa lagi-lagi Rafa dan Kayla penyebab cewek ini menangis. Entah apa yang sudah perbuat, Kate cuma mengatakan bahwa selama mereka di pasar malam dirinya selalu diabaikan. "Lo kuat, masa nangis sih. Lupain aja hal-hal yang bikin lo sakit hati. Kalau lo nangis nanti langit juga ikut sedih. Udah cukup nangisnya, sewajarnya aja." Kate mulai mengikuti permintaan Leo. Dia menghapus jejak air mata yang membasahi pipinya. Menempelkan pipinya di punggung tegap Leo. Seandainya yang sekarang sedang Kate peluk adalah Rafa. Kate tersenyum perih, tidak akan pernah ada momen seperti ini antara dirinya dengan Rafa. Kenapa harus sesakit ini jatuh cinta sama lo, Raf. Kate terus bertanya-tanya tentang kesalahan apa yang sudah dia lakukan sampai harus menderita seperti ini. ***** Leo masuk ke rumahnya setelah mengantarkan Kate pulang. Cowok itu menyisir rambut tebalnya. Sampai sekarang dia masih memikirkan keadaan Kate. Semoga cewek itu bisa tidur nyenyak malam ini tanpa harus melanjutkan tangisnya. "Habis dari mana lo Kak? Rapi banget." Rafa yang baru saja datang dari dapur membawa cemilan, menatap kakaknya yang baru saja duduk di sofa. "Nganterin Kate pulang ke rumah." Leo berujar santai, dan memfokuskan pandangannya ke layar 31 inch di hadapannya. "Maksud lo?" Leo mengalihkan pandangannya. Rafa sudah duduk di sebelahnya. "Gue abis anterin Kate. Cewek lo nangis karena liat pacarnya asik sama sahabatnya." Rafa mulai paham ke mana arah pembicaraan Leo saat ini. "Dia minta jemput sama lo? Giliran gue anterin dia gak mau. Sebenarnya lo sama dia ada hubungan apa sih?" Leo melempar remot televisi ke meja dan menimbulkan suara yang lumayan keras. Untungnya di rumah hanya ada dirinya dan Rafa. "Seharusnya gue yang nanya gitu sama lo. Hubungan kalian sebenarnya apa? Kalau lo emang cinta sama Kayla. Lepasin Kate. Dia bisa dapetin cowok yang benar-benar sayang sama dia. Daripada gini, lo nahan dia karena tau Kate gak akan putusin lo. Tapi cara lo bikin Kate nangis tiap hari. Putusin dia Raf. Masih banyak cowok di luar sana yang pengen buat dia bahagia." "Apa aja yang udah dia ngadu sama lo? Dia kembali salahin gue sama Kayla?" Leo menatap datar wajah adiknya yang seolah memang tidak melakukan kesalahan apa-apa. "Dia gak ngadu, dia juga gak salahin kalian berdua. Apalagi Kayla, dia kan gak pernah salah. Cewek polos tanpa dosa itu gak patut disalahkan. Itu yang sering lo bilang sama gue. Kate cuma menceritakan apa yang terjadi, dan gue akan selalu percaya sama dia karena Kate gak pernah bohong." "Gue cinta sama Kate sampai detik ini. Kayla cuma sahabat gue." "Sahabat? Tapi semua hal yang diminta Kayla pasti lo kabulin. Sedangkan Kate? Dia cuma pengen berangkat sekolah bareng aja gak pernah lo iyain. Pacar apa lo gue tanya? Status doang pacar, tapi lo gak pernah ada buat dia. Lo gak pernah mau tau sama kesedihan dia. Cowok yang hobi bikin cewek nangis itu pengecut." Rafa terdiam, memutar otaknya agar bisa menjawab ucapan Leo barusan. Sayangnya sampai Leo pergi ke kamar meninggalkannya, Rafa belum menemukan jawaban yang tepat. ****** Rafa masuk ke kamar. Jam dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Apa Kate sudah tidur? Rafa mengambil ponselnya untuk menelepon Kate. Dia tau Kate tidak akan menjawab, namun tidak ada salahnya untuk mencoba. Tanpa diduga, Kate menjawab panggilan teleponnya. "Halo, kenapa Raf?" Suara Kate terdengar serak, mungkin karena cewek itu terlalu lama menangis. Namun dari nadanya berbicara yang terdengar santai seolah tidak terjadi apa-apa antara dia dan Rafa barusan. Apa Kate sudah melupakan semuanya? "Gue ganggu lo gak?" "Enggak. Kan gue belum tidur." "Gue mau ngomong," ujar Rafa. Terdengar suara tawa pelan dari seberang sana. "Lo daritadi udah ngomong kok Raf." "Hmm, gue minta maaf." Hening. "Kate. Lo tidur?" Masih hening. "Halo, Kate." "Jangan minta maaf kalau masih ngulangi hal yang sama di setiap harinya. Hati gue bukan bercandaan Raf. Lo selalu kasih gue harapan seolah-olah emang kita bisa kayak sepasang kekasih pada umumnya. Tapi apa yang gue dapat? Lo selalu lebih memilih Kayla, kan. Tanpa perlu minta maaf gue juga udah maafin lo kok. Selama gue masih bisa bertahan, gue akan selalu maafin lo Raf. Kecuali kalau gue udah capek dan gak bisa kontrol semuanya. Kita bisa menyudahi semuanya." "Kate, please. Lo selamanya akan sama gue oke. Intinya hari Senin kita berangkat bareng." Helaan napas berat bisa Rafa dengar dengan jelas. "Jangan kasih gue harapan palsu kayak kemarin Raf. Gue gak mau nunggu lagi kalau lo emang beneran gak bakal datang. Buang-buang waktu gue tau gak." "Kali ini gue serius. Gue bakal datang." "Jaminannya apa kalau lo gak jemput gue?" "Lo bebas mau gimana sama hubungan ini." Rafa berujar tegas. "Oke. Sampai ketemu di hari Senin, kalau lo emang berniat buat gak ingkar janji." "Kali ini gue bakalan datang Kate. Sekarang lo tidur. Selamat malam dan i love you." Tanpa ada sahutan lagi, sambungan telepon itu sudah dimatikan oleh Kate. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD