"Namaku Sandrina, panggil aja Sandra, terimakasih kau sudah menolongku.Tapi aku harus pulang, orangtuaku pasti bingung mencariku, lukaku juga sepertinya tidak terlalu parah!" ucap Sandrina sambil mencoba untuk duduk.
"Namaku Raditya, panggil aja Radyt,
apa tidak sebaiknya Kau telpon kedua orangtuamu agar mereka tidak khawatir, tapi untuk sekarang dokter belum memperbolehkan mu pulang.
"Tapi aku tidak apa-apa, aku baik-baik saja, aku harus pulang!".
"Kau memang keras kepala ya, kondisimu masih belum membaik!" ucap Raditya.
"Bolehkah aku pinjam ponselmu? karena ponselku lowbatt, dan aku lupa bawa chargernya" ucap Sandrina.
Sandrina kemudian mencoba untuk menghubungi nomer telepon rumahnya, karena hanya itu yang ia ingat, tak lama kemudian panggilan telepon nya dijawab oleh Bi Ratih.
"Alhamdulillah ini Non Sandra, Ya Allah Non, tadi Nyonya bingung dan khawatir Non belum pulang jam segini, sudah tengah malam Non belum pulang, apa Non baik baik saja?"
"Alhamdulillah aku baik baik aja Bi, oh ya kasih tau Mama ya Bi, aku belum bisa pulang malam ini ,ada pekerjaan yang harus aku selesaikan".
"Baik Non, akan bibi sampaikan ke Nyonya".
"Terimakasih Bi"
" Sama-sama Non".
Sandrina menyerahkan ponselnya kepada Raditya.
"Kenapa Kamu berdusta?" tanya Raditya.
"Aku tidak mau mereka khawatir jika aku bilang aku kecelakaan" jawab Sandrina.
"Kalau begitu istirahatlah, kalau ada apa-apa kau bisa panggil aku, oh ya untuk mobilmu sudah diamankan, sudah diurus oleh anak buahku,kamu tidak perlu khawatir." ucap Raditya sambil melangkah pergi meninggalkan kamarnya.
Sandrina mencoba memejamkan matanya namun terasa begitu susah. Dipandanginya kamar Raditya yang begitu luas, dekorasi yang mewah namun sangat menenangkan. Dinding kamar dilapisi wallpaper warna silver berpadu dengan warna abu abu, memberikan kesan nyaman dan teduh.
Perlahan Sandrina mencoba bangun dan berdiri untuk menuju toilet, namun langkahnya terhenti saat melihat foto di atas nakas.
Foto Radyt saat wisuda didampingi seorang wanita cantik, mungkin kekasihnya atau apa istrinya?. Foto yang diambil 5 tahun yang lalu saat Radyt menyelesaikan program S2 nya di Inggris. Radyt nampak sangat tampan dalam balutan toga,sedangkan Sang wanita begitu anggun menggunakan gaun span hijau army tanpa lengan dengan tangan memegang buket bunga, keduanya nampak tertawa lebar, terlihat sangat bahagia.
Setelah dari toilet Sandrina merebahkan tubuhnya perlahan lahan ke atas kasur. Wajahnya meringis menahan sakit, Ia baru merasakan tubuhnya yang begitu pegal dan nyeri.
Sandrina mengingat kejadian sebelum kecelakaan ia dari mall, dan di mall ia bertemu Askara, mantan tunangannya. Askara mengejarnya meminta Sandrina mendengarkan penjelasannya.
"Ah, kenapa aku harus bertemu dia lagi?".
Sementara di kamar lain, Raditya juga tidak bisa tidur, padahal tadi ia merasakan badannya begitu lelah setelah seharian full meeting.
Raditya teringat gadis yang ia tolong.
"Sandrina!" gumamnya sambil tersenyum.
Raditya meraih ponselnya dan menekan nomer handphone asistennya, Tama.
"Halo Tam, bisa bantu aku cari secepatnya informasi gadis yang kita selamatkan tadi.Namanya Sandrina, besok pagi info itu harus sudah aku terima, oke?"
"Siap Bos, tumben Bos cari info cewek, ciyeeee ciyeee..Bos jatuh cinta ya..?" goda Tama dari ujung telepon sambil tertawa.
"Siapa yang jatuh cinta, baru kenal juga, pokoknya aku nggak mau tahu besok harus dapat infonya, kalau nggak gajimu aku potong 50%!" kata Raditya dengan ketus.
"Ya..Bos ,dikit-dikit potong, dikit-dikit potong".