“Apakah dia belum makan juga?” sinis Keijiro kepada Sebastian yang tengah melapor kepadanya terkait kondisi putranya. Sebastian menundukkan kepalanya sopan di hadapan pria di ruang belajar itu. “Tuan muda sepertinya melakukan aksi mogok makan.” Keijiro Matsuyama mendengus angkuh. “Dia masih keras kepala seperti itu? Apa dia sudah tidak sayang nyawa sendiri? Kalau begitu, kenapa dia tidak sekalian mati saja saat kecelakaan?” Mendengar sarkasme darinya, otot-otot wajah Sebastian langsung mengencang menahan amarah. Pria di depannya benar-benar sangat kejam kepada putra satu-satunya! Bisa-bisanya dia berkata demikian di saat kondisi tuan muda mereka sedang tidak stabil! “Aku akan menemuinya. Katakan kepadanya kalau siang ini dia harus makan bersamaku di ruang utama,” titah Keijiro dingi

