Antares menunggu dengan sabar. Bahkan tak mengacuhkan wanita-wanita penhuni Atap Merah yang berusaha menggodanya. Seorang induk semang pemilik penginapan ini tadi mendatanginya, menanyakan keperluan Antares.
“Wanita baru yang datang dari desa Arcadia?”
Sang Induk Semang yang memiliki wajah tua serta sebagian rambut yang telah memutih itu mengulang permintaan Antares, tatapannya menelisik penuh kecurigaan.
“Tempat kami memang kedatangan wanita tersebut. Sekitar awal musim kemarin,” jelasnya. “Tapi … saya yakin dia telah lolos dari pemeriksaan.”
Antares menduga Induk Semang ini mengira Antares akan menyelidikinya sebagai prajurit istana yang mencari gadis pembawa keabadian. Mungkin juga tengah menutupi fakta bahwa ia menampung wanita itu secara illegal. Dalam arti wanita itu bisa masuk ke daerah ibu kota tanpa melewati pemeriksaan, atau….
“Apa yang saya dapat jika wanita itu ternyata merupakan gadis yang Anda cari selama?” Wajah di hadapannya tampak kesenangan seakan mendapat sepeti harta karun dan ingin memilikinya sendiri.
“Jika dia ternyata telah ternodai, maka anda lah yang akan pertama kali mendapat hukuman karena membiarkan calon istri raja Orion disentuh pria lain.”
Senyuman itu seketika surut dan digantikan oleh pias kecemasan.
“Saya tidak melakukan apa pun.”
“Bawa dia padaku.”
“Tentu saja. Saya akan menyiapkan kamarnya.”
Butuh waktu beberapa saat yang dihabiskan Antares untuk menunggu. Lelaki itu memperhatikan bagaimana bangunan ini terdiri tidak jauh berbeda dari rumah-rumah penduduk. Hanya saja lebih luas dan sedikit lebih tinggi dengan banyak karma yang memang dipersiapkan untuk para tamu. Hal yang menjadi pembeda paling mencolok adalah atapnya yng tidak terbuat dari jerami kering, bambu berwarna merah yang telah dibuat sedemikian rupa sehingga membentuk atap yang licin dan berwarna merah.
Di sini lah dirinya sekarang berada, mendatangi sebuah kamar dengan seorang wanita yang tengah dicarinya. Antares memperhatian dengan seksama raut wajah wanita ini, berusaha mengingat apakah mereka pernah saling mengenal sebelumnya. Namun, baik Antares dan wanita itu tampaknya sama-sama tidak saling memiliki memori di masa lalu.
“Siapa namamu?”
“Lalita. Apa kita pernah mengenal sebelumnya?” tanya wanita itu cukup berani mengingat sang Induk Semang telah memberitahu identitas lawan bicaranya.
Antares terkekeh, terlebih melihat rambut Lalita yang berwarna hitam. Serupa dengan milik Lettasya. “Benarkah kau berasal dari wilayah Arcadia?”
“Kau cukup tahu wilayah itu rupanya.” Lalita tersenyum mendekati Antares dengan gerakan menggoda. “Apa kau sedang mencari informasi untuk menaklukan wilayah itu? Sejauh ini hanya wilayah tersebut yang belum dikuasai oleh Raja Orion.”
“Bisakah aku melihat bahumu?”
Senyum penuh makna tersirat semakin jelas di wajah Lalita. Wanita itu berdiri persis di depan Antares untuk kemudian menanggalkan seluruh pakaiannya tanpa canggung sebelum berbalik memperlihatkan punggung mulus wanita itu yang polos.
“Kenapa? Kau kecewa karena tak menemukannya?”
Antares bergeming dengan tenang, bukan itu tujuannya bertemu wanita ini. Namun, tidak masalah jika memang itu yang dipikirkan orang-orang.
“Tak perlu sungkan. Saya telah mendapat tugas untuk menyenangkan anda malam ini. Sekali pun tidak dengan cara menjadi gadis pembawa keabadian bagi Raja Orion."
Lalita yang belum membetulkan kembali pakaiannya dengan berani duduk di pangkuan Antares. Merangkul lelaki itu dengan tubuh bagian depan yang masih terpampang jelas. Mendekatkan untuk kemudian membisikan hal-hal yang menggoda sambil memberi sapuan halus di leher Antares dengan bibirnya.
Sedangkan Antares sebisa mungkin membiarkan pikirannya bekerja dengan cara yang berbeda. Ketika tubuhnya disentuh oleh tangan lembut dengan cara paling sensusal di tempat-tempat yang membangkitkan gairahnya. Antares tahu ia harus melakukan ini, membayangkan wanita yang kini memuaskan hasratnya adalah Lettasya.
“Jika memang Tuan tidak menemukan gadis itu, kenapa anda tidak mencoba mencari seseorang yang bersedia menggantikannya?” ujar Lalita. “Saya bersedia melakukan apa pun bahkan jika itu harus melukai tubuh saya sendiri untuk menjadi pendamping Raja Orion.”
“Dan apa keuntungannya untukku?”
“Tentu saja saya tidak akan melupakan jasa anda.”
“Bisa kah sekarang kau cukup menyelesaikan pekerjaanmu dengan mulut tertutup?”
Antares butuh memusatkan pikirannya untuk tetap membayangkan wajah Lettasya, sedangkan suara Lalita membuat konsentrasinya hilang.
*****
“Kenapa kau ingin menjadi istri Raja Orion di saat banyak orang yang menolak?”
Pertanyaan Antares itu ia lemparkan saat keduanya telah menyelesaikan malam panas. Antares tengah mengenakan kembali pakaiannya, sedangkan Lalita masih terbaring di tempat tidur dengan sebagian tubuh yang tetutup selimut sambil memandangi tubuh Antares yang sempat ia cicipi tadi. Di antara para tamu yang datang mengunjunginya, tubuh Antares adalah satu-satunya yang membuat Lalita melupakan cara bernapas. Begitu gagah, meski dengan beberapa luka yang mungkin menjadi saksi berapa banyak pertarungan mempertaruhkan nyawa yang telah Antares lewati. Tetapi itu justru menambah kesan maskulin yang memukau. Sungguh berbanding terbalik dari kebanyakan tamu berperut buncit serta bau tak sedap yang nyaris membuat Lalita muntah.
Namun apa boleh buat, kedatangan Lalita ke sini adalah bertahan hidup jauh dari desa kelahirannya. Lalita tidak bisa memilih mana yang bisa dia layani dengan senang selama ia mendapat banyak imbalan.
“Kenapa aku harus tidak mau? Sebagai wanita apa salah bila aku menginginkan hidupku menjadi lebih baik? Menjadi ratu di negara ini. hanya orang-orang bodoh yang menolak.”
Antares tersenyum miring. Tengah menerka barang kali Lalita masih belum mendengar tentang sosok Cleosana. “Bukan kah di daerah Arcadia juga memiliki pemimpin?”
“Aku tidak akan pergi sejauh ini jika memang bisa melakukan itu.”
“Kenapa?”
Lalita mengedikan bahu setelah sebelumnya duduk di atas ranjang. “Mungkin karena pemimpin yang sekarang lebih gila dari Raja Orion.”
“Siapa pemimpin Arcadia sekarang?” Antares duduk di pinggir ranjang agar lebih jelas mendengarkan penjelasan Lalita.
“Saya merasa Tuan mulai tertarik dengan kehidupan saya di masa lalu. Apa kah benar?” Lalita mengalungkan kembali lengannya di leher Antares, membiarkan selimut yang semula membungkus tubuhnya jatuh.
“Kau harus menjawab pertanyaanku jika kau ingin menjadi berguna. Karena aku tidak meniduri wanita yang sama dua kali,” jawab Antares dengan senyum memikat seraya menurunkan lengan Lalita.
Wanita itu kontan cemberut, menarik kembali selimut dan bercerita dengan nada terpaksa. “Romanof.”
Satu nama keluar dari mulut Lalita. “Dia merupakan keturunan langsung dari ketua sebelumnya.”
Antares tengah mengingat nama itu, mungkinkah di antara masa anak-anak ada bocah bernama Romanof yang pernah ditemuinya. Namun, nihil. Mungkin Antares terlalu ingin melupakan masa lalu sehingga tidak banyak kenangan yang ia ingat. Hanya saja jika Romanof adalah putra dari pemimpin sebelumnya maka….
“Anak dari Pouran?” Seingat Antares, Ketua sebelumnya hanya memiliki satu anak perempuan bernama Bryoni.
“Betul.” Lalita menegaskan. “Kami semua sama terkejutnya. Ternyata Romanof adalah putra dari istri tidak sah. Sebelumnya anak itu sempat menghilang entah kemana, tetapi sekembalinya Romanof dan membuktikan jika ia adalah keturunan Ketua Pouran. Dia pun segera diangkat menjadi ketua yang baru.”
Lalita berhenti sejenak untuk mengenakan kembali pakaiannya. “Siapa yang menyangka jika Romanof adalah seorang Ryzmith.”
“Apa yang membuat kalian yakin dia benar-benar seorang Ryzmith?”
“Ia menghilang setalah bergabung bersama para Ryzmith dan kembali untuk mengobati Ketua Pouran yang saat itu menderita sakit.”
“Bukan kah bagus jika kalian memiliki seorang Ryzmith?”
Banyak warga yang memuja Ryzmith dan mengibaratakan mereka sebagai mujizat dari Zeus. Dengan adanya seorang Ryzmith itu artinya desa mereak tidak akan kesulitan mencari pengobatan.
“Tentu saja. Akan bagus seandainya Romanof tidak menjadi Ryzmith gila yang menjadikan hampir seluruh warga desa sebagai kelinci percobaan. Banyak orang yang meninggal setelah dipanggil oleh Romanof ke rumahnya dan sebagaian besar dari mereka mengaku jika Romanof memberikan sesuatu padanya.”
Antares terdiam cukup lama. “Kenapa tidak ada oang yang mencoba menggulingkannya?”
Bukankah sebagaian besar penduduk wilayah Arcadia merupakan ahli senjata yang pandai berburu.
“Anda tidak akan mengerti karena Tuan tidak berasal dari wilayah yang sama. Dulu … sempat pembunuhan tiga orang anak. Pelakunya merupakan kakak dari seorang korban. Anak itu bahakan membunuh anak-anak yang dicalonkan menjadi ketua di masa depan.”
Tidak perlu bertanya, Antares tahu jelas siapa yang sedang dibicarakan oleh Lalita.
“Keluarga dan penduduk yang lain sepakat untuk membunuh anak itu karena diaramalkan akan menjadi penghancur wilayah Arcadia. Sejak saat itu, setiap anak laki-laki akan belajar pedang dan berburu hanya dari keluarga mereka dan hanya boleh ditunjukan ketika seyembara pemilihan Ketua.”
Antares hendak menyela karena merasa belum mendapat jawaban yang tepat untuk membunuh Romanof dan Lalita memahaminya. “Sudah banyak yang mencoba melakukan percobaan terhadapa Romanof, tetapi semua berakhir gagal. Dan Romanof berkata jika ia datang kembali bersama arwah anak yang telah warga bunuh.”
Antares nyaris tertawa seperti orang gila, bagaimana mungkin arwah dirinya bersama Romanof jika ia masih hidup. “Dan kalian percaya?”
“Tentu tidak. Hanya saja kami sudah mencari jalan lain yaitu tidak mendatangi panggilannya. Dari yang aku dengar terakir kali mereka akan tetap menjadikan Romanof sebagai ketua karena yakin sebentar lagi Raja Orion akan menyerang wilayah itu. Jadi… sebelum aku menjadi salah satu orang yang menanggung kesulitan itu. Lebih biak aku pergi.”
“Dari mana kau berpikir jika Raja Orion akan menyerang Arcadia?”
“Bukan kah kita semua tahu bahwa Raja Orion begitu terobsesi untuk menjadi Raja Abadi, untuk itulah mereka mencari gadis dengan tanda di bahu.”
“Bagian pencarian gadis itu memang hampir semua penduduk ibu kota tahu, tapi rencana p*********n wilayah Arcadia?” Antares menyipitkan mata penuh kecurigaan.
Lalita mendengus. “Sepertinya aku memang harus berhati-hati jika berbicara dengan tangan kanan raja Orion.”
Dia lalu memandang Antares lebih dekat. “Ada satu rahasia. Katakan lah aku bisa melihat sedikit dari masa depan.”
“Kau peramal?” pertanyaan itu ditujukan setengah meledek. Karena yang Antares tahu, seorang peramal akan selalu menjaga diri untuk tetap suci.
“Tidak juga, aku tidak punya kekuatan sebesar itu. Tapi aku bisa mengatakan dengan yakin kau sudah menemukan yang kau cari.”
“Aku akan beri satu rahasia juga. Aku … tidak percaya dan tidak suka dengan peramal.” Senyum Antares tersungging miring di satu sudut bibirnya. Tentu saja, ia palng benci pada peramal. Ucapan mereka yang belum tentu kebenarnya yang membuat Antares dibunuh oleh seluruh warga dan orang tuanya sendiri.
Bahkan jika bukan karena perintah Raja Orion, ia tidak akan sudi mengikuti ucapan peramal untuk mencari gadis bertanda khusus yang digadang-gadang akan membawa keabadian sempurna bagi Orion.
****
Hari sudah berlalu lebih dari sepekan sejak kepergian Antares dari rumah, sedangkan Lettasya masih terkurung di sana bersama dengan Miguel. Bocah yang hingga saat ini masih belum mengingat apapun tentang keluarga dan tempat tinggalnya. Sesekali Miguel akan menjawab pertanyaannya. Akan tetapi jika sudah ditanya perihal orang tua, mulut anak ini seolah merapat jadi satu.
Seperti yang sudah Antares perintahakan, Lettasya memang tidak lagi bisa memasak hidangan di rumah itu dia hanya bisa meracik obat yang ada di taman belakang. Ruangan rahasia berpintu besar itu terkunci rapat sedangkan pengawal berjaga di sana saling bergantian. Sehari dua kali akan ada seorang ibu setengah baya yang mengantarkan makanan untuk mereka.
Lettasya tengah duduk memandani Miguel yang bermain dengan tanah juga boneka kayu buatan salah seorang penjaga. Luka lebam ditubuhnya sudah berangsur pulih, tetapi Lettasya masih ragu akan luka bagian dalam. Jika Miguel telah sering mendapat luka seperti itu bukan tidak mungkin organ dalamnya juga menangalami masalah.
Seandainya Lettasya tahu ia akan terjebak bersama anak itu di sini, mungkin Lettasya hanya perlu untuk memberi makan lalu meninggalkannya saja sendiri. Namun satu sisi hatinya merasa tidak yakin. Sejak anak itu merengek di bwah kakinya dengan wajah pucat yang menyedihkan dan tubuh ringkih. Lettasya merasa punya kewajiban untuk menyembuhkannya. Salah satu hal yang Lettasya tidak bisa abaikan.
“Lettasya,” panggil anak itu.
“Ya?”
“Apakah kau bisa menyembuhkan dia juga?”
Miguel menunjukan seekor serangga dengan sayap yang telah rusak.
Lettasya menggeleng pelan, wajah Miguel tampak murung.
“Serangga ini sudah kehilangan sayapnya. Dia tidak akan mati, tapi dia tidak akan bisa terbang lagi,” tutur Lettasya menjelaskan.
Miguel tidak bertanya lagi, ia membawa serangga itu ke sebuah tanaman kecil.
Dari tempatnya berada Lettasya samar-samar mendengar obrolan penjaga.
“Aku akan tetap berjaga di sini sampai besok.”
“Artinya aku yang ikut ke sana.”
“Tidak masalah. Bukan kah banyak prajurit yang menjaga upacara agar tetap lancar.”
“Ini pertama kalinya aku ikut mengawasi acara penumbalan. Bulu kudukku meremang bahkan hanya dengan membayangkannya.”
Telinga Lettasya menajam.
“Haruskah aku beralasan sakit agar tidak perlu ikut?”
“Haish!!! Sejak kapan istana menerima alasan seorang prajurit sakit dan tidak bisa bertugas?”
Wajah penjaga itu mulai gelisah.
“Katanya mereka yang pernah ikut menyaksikan acara penumbalan para putri kerajaan di kuil Athena merasa tidak pernah tenang sepanjang ritual. Terutaman yang menemani Vadless ke dalam kuil.”
Lettasya seakan teringat kembali tujuan awalnya ke ibu kota adalah untuk menyelamatkan adiknya, Theona. Otaknya seketika ikut berpikir bagaimana ia bisa lolos dari penjagaan rumah ini. Sekali pun mungkin, ia tidak bisa meninggalkan Miguel sendirian. Lettasya menghitung kembali jika kurang lebih ada sepuluh penjaga yang memang ditugaskan menjaganya di sini.
Ia ingat kemarin bahkan Miguel tidak diijinkan untuk mengintip sesuatu di balik pagar dinding belakang. Karena seorang penjaga juga berdiri di luar sana. Lagi pula tinggal di tempat ini tidak buruk. Tak ada yang lebih penting baginya dari tempat tinggal dan makanan untuk seorang pendatang yang tak punya uang seperti dirinya. Maka dari itu Lettasya harus segera merencanakan cara agar bisa menyusup keluar dan kembali ke rumah ini tanpa perlu ada yang curiga dirinya pernah kabur. Benar, itu yang terbaik. Lima hari dari sekarang ia rasa cukup untuk menyiapkan semuanya.
Theona tunggu, aku! Janji Lettasya terucap dalam hati.
*****
To Be Continue….