1. Ke Rumah Uak Sanim

1049 Words
"Dek, Abang mainnya kurang lama, ya? Adek kurang puas, ya?" Ruslan menyentuh bahu Halimah. Malam itu Ruslan sudah menunaikan kewajibannya memberi Halimah nafkah batin. Halimah membalikkan badannya menghadap Ruslan. Ia tersenyum. "Abang, apa aku pernah mengeluh tentang hal itu?" Ruslan menggeleng. "Tapi Abang merasa bersalah karena setiap kita bermain, Abang tak bisa menyenangkanmu, Dek," sahut Ruslan lirih. "Aku sudah cukup merasa bahagia menjadi istrimu, Bang. Abang suami yang setia dan bertanggung jawab." Halimah meraih jemari tangan kiri Ruslan lalu meletakkan di pipinya menjadi bantalan. Ruslan membelai rambut Halimah dengan tangan satunya lagi. "Maafkan, Abang. Sudah satu tahun kita membangun biduk rumah tangga, Abang belum pernah membuatmu terbang ke surga, Dek." Halimah terkikik. "Tapi aku senang karena Abang sudah berkali-kali bisa terbang ke surga. Itu sudah menjadi pahala buat aku, bukan?" Ruslan tersenyum mendengar jawaban Halimah. Ia meraih kepala istrinya dan mendekapnya erat. "Abang janji akan membuatmu bahagia lahir dan batin, Dek!" Setitik air mata menetes di sudut mata Ruslan. Halimah membalas pelukan Ruslan dengan hangat dan penuh kasih sayang. Keduanya lalu terlelap hingga azan Subuh berkumandang. Halimah yang bangun pertama kali. Ia lalu membangunkan Ruslan untuk salat Subuh berjamaah. Selesai salat Subuh, Ruslan lama berdoa, begitu juga dengan Halimah. Mereka selalu rajin berdoa agar segera mendapatkan keturunan. "Dek, gaji Abang bulan ini lumayan ada lebihnya. Sebulan kemarin Abang banyak lembur. Bagaimana kalau Abang beli obat kuat?" Ruslan mengutarakan keinginannya itu. Ia sebetulnya sudah sejak lama ingin memakai obat kuat. Halimah terperanjat. Tak pernah sekalipun terlintas di benak Halimah agar Ruslan memakai obat kuat demi untuk membahagiakannya. Meski memang, malam-malam yang ia lalui dengan Ruslan selalu membuatnya tak pernah mencapai titik puncak, Halimah tetap menerima kurang dan lebihnya Ruslan. "Abang, obat kuat untuk apa? Supaya Abang mainnya bisa lama? Aku tidak mau, Bang!" cegah Halimah. "Kalau Abang mainnya lama, Adek pasti bahagia," tukas Ruslan. "Semalam aku sudah bilang, aku sudah sangat bahagia, Bang. Abang masih kurang yakin kalau aku bahagia?" Ruslan menggeleng. Ia menatap Halimah lama. "Abang mau buat aku bahagia, kan?" tanya Halimah. Ruslan mengangguk mantap. "Abang harus sehat, berhenti merokok. Rajin olahraga juga rajin ajak aku belanja di minimarket yang baru buka di ujung jalan depan itu, Bang," papar Halimah sungguh-sungguh. Ruslan memeluk Halimah yang masih mengenakan mukena warna merah muda, warna kesukaan Halimah. "Abang usahakan untuk bisa berhenti merokok, Dek. Tapi pelan-pelan, ya. Suasana pabrik terkadang membuat Abang pusing. Apalagi kalau habis makan siang, tidak merokok Abang tidak ganteng kata kawan-kawan Abang," canda Ruslan. Halimah mengangguk. "Dari sejak kita pacaran, aku tak pernah melarang Abang merokok. Baru hari ini aku bilang agar Abang berhenti merokok. Tak apa-apa merokok sekali-sekali. Ibarat perempuan, rasanya ada yang kurang kalau pergi-pergian tak memakai riasan wajah.  Laki-laki juga seperti itu, kan? Sehabis makan, rasanya ada yang kurang kalau tidak menghisap rokok." "Istri Abang ini memang sangat pengertian. Itulah kenapa Abang cinta mati denganmu, Dek!" Ruslan semakin mempererat pelukannya. Halimah selalu merasa nyaman berada di pelukan Ruslan. Namun jauh di dasar hatinya, sesungguhnya ia ingin Ruslan memberinya nafkah batin yang maksimal. Namun lagi-lagi Halimah tetap harus bersabar. Ia tahu suaminya bekerja menjadi buruh pabrik elektronik yang tentu saja menguras tenaga. Halimah selalu melihat Ruslan kelelahan setiap kali pulang kerja. Ia selalu memijat kaki dan seluruh tubuh suaminya. Seringkali pula Ruslan tertidur hingga pagi dan melupakan nafkah batin yang dirindukan Halimah. "Pagi ini aku buatkan Abang sarapan nasi goreng pakai cinta, ya!" ucap Halimah. "Apapun yang kau hidangkan buat Abang pasti Abang habiskan " Halimah tersenyum lalu membereskan mukena dan tempat tidur. Setelahnya ia bergegas menuju dapur. Sementara Ruslan beranjak menuju ruang tengah, menyalakan televisi dan menonton berita. Rutinitas pagi hari sebelum ia berangkat kerja. Tring! Ponsel Halimah yang tergeletak begitu saja di atas meja berbunyi. Ruslan membuka pesan aplikasi berwarna hijau. Pesan dari Uak Sanim. Halimah, nanti setelah suamimu berangkat kerja ke rumah Uak, ya. Ada oleh-oleh Tahu Sumedang kesukaanmu. Begitu isi pesan Uak Sanim. Ruslan meletakkan kembali ponsel Halimah di atas meja. Tak berselang lama, Halimah muncul dari dapur dengan sepiring nasi goreng lengkap dengan irisan tomat, mentimun juga telur mata sapi. "Sarapan sudah siap!" Halimah meletakkan piring nasi goreng di atas meja. "Uak Sanim barusan kirim pesan. Dia menyuruhmu ke rumahnya ambil oleh-oleh," ucap Ruslan sambil mengambil piring nasi goreng yang dibawa Halimah. "Oh, pasti Tahu Sumedang, Bang. Kemarin Uak Sanim menawarkan oleh-oleh sebelum berangkat ke Sumedang," sahut Halimah sumringah. "Jangan lama-lama berada di rumah Uak Sanim. Dia itu duda dan hanya seorang diri di rumahnya," pesan Ruslan pelan. "Iya, Bang!" sahut Halimah sambil menuang air dingin ke dalam gelas besar khusus untuk minum Ruslan. Setelah selesai sarapan dan ganti baju, Ruslan segera berangkat kerja. Honda Genio pemberian mertuanya setia menemani kemanapun Ruslan pergi. Ruslan merawat motor itu dengan sangat baik. Di pintu teras, Halimah melepas kepergian Ruslan mencari nafkah. Ia mencium tangan Ruslan, mendoakan untuk keselamatan Ruslan di tempat kerja dan kembali ke rumah tanpa kurang suatu apapun. Ruslan pun selalu mencium kening Halimah dengan sayang, berharap Halimah menjadi istrinya yang setia dan pandai menjaga marwahnya. Selepas suaminya berangkat kerja. Halimah beres-beres rumah terlebih dahulu sebelum ia pergi ke rumah Uak Sanim. Ia bingung di rumah tidak ada apa-apa untuk dibawanya ke rumah uaknya itu. Uak dari pihak suaminya. Kebetulan Halimah belum belanja bulanan jadi persediaan makanan di rumah habis. Nanti saja aku dan Abang berkunjung ke rumah Uak Sanim sambil membawa makanan. Sekarang aku ke sana mengambil oleh-oleh dulu. Halimah bergumam dalam hati. Bergegas ia menuju rumah Uak Sanim. Rumah Halimah dan Uak Sanim saling berdekatan, hanya terhalang enam rumah. Ia mengetuk pintu depan rumah uaknya. "Permisi, Uak. Ini Limah!" "Masuk, Limah. Pintunya tidak dikunci!" Terdengar sahutan Uak Sanim dari dalam. Halimah membuka pintu. "Assalamu'alaikum", salam Halimah. "Wa'alaikumussalam," sahut Uak Sanim yang sedang duduk di kursi ruang tamu. Ia sedang asyik membaca koran. "Ruslan sudah berangkat kerja?" tanya Uak Sanim dari balik koran. "Sudah, Uak," jawab Halimah. "Ambil sendiri Tahunya di meja makan, Limah!" kata Uak Sanim. Halimah bergegas menuju ruang makan. Uak Sanim melirik dari balik koran. Memperhatikan Halimah dari belakang. Ia menelan ludah melihat tubuh mulus Halimah. Apalagi Halimah berkulit putih dan berwajah cantik. Uak Sanim benar-benar iri dengan Ruslan yang beruntung mendapatkan Halimah.  Uak Sanim beranjak dari kursi, meletakkan koran dan menyusul Halimah ke ruang makan. Ia menyusuri kemolekan tubuh Halimah dari bawah hingga atas. Saat itu Halimah hanya mengenakan daster sepanjang betis. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD