Esoknya, Ruslan diminta untuk datang lagi ke rumah Mira. Tapi kali ini, Nyonya Zainab Dimantara ada di rumah.
"Cari siapa?" tanya Nyonya Zainab sembari memicingkan mata melihat penampilan Ruslan yang sangat sederhana.
"Saya cari Mira," sahut Ruslan.
Mbok Ipah yang berada di belakang Ruslan berdiri agak membungkuk.
"Mbok, lain kali jangan sembarangan membuka pintu pagar untuk orang yang tidak dikenal!"
"Aa ini temannya Non Mira, Nyonya," sahut Mbok Ipah cepat.
"Mana mungkin teman Mira dekil seperti ini. Naik apa kau ke sini? Sebentar .... !" Nyonya Zainab memperhatikan Ruslan dengan seksama. "Kau laki-laki yang kemarin berdiri di depan pagar rumahku?" lanjut Nyonya Zainab.
Ruslan mengangguk dengan sopan.
Nyonya Zainab Dimantara mengernyit. "Suruh orang ini pergi, mana mungkin ia kawannya Mira!"
Ruslan tercekat. Ia menelan ludah. Saat ia hendak membalikkan badan, terdengar suara Mira dari dalam.
"Dia temanku, aku yang memberinya izin masuk ke rumah ini!" Mira muncul, tatapannya pada Nyonya Zainab sangat berani.
"Kau yakin, Sayang?" tanya Nyonya Zainab.
"Dia yang selalu membuatku pusing mengejar nilai seluruh mata pelajaran di sekolah. Aku harus menjadi yang terbaik dan tertinggi memperoleh nilai. Tapi dia penghalang sekaligus motivasi terbesarku di sekolah, Mi!"
Nyonya Zainan terbelalak. "Anak ini yang kau bilang saingan terberatmu?"
Mira mengangguk.
"Aku bisa konsentrasi belajar karena bantuan dia. Aku senang belajar bersamanya! Ayo, Rus. Kita ke kamarku!" Mira menarik pergelangan tangan Ruslan.
Ruslan sedikit menahan langkahnya karena takut diusir oleh Nyonya Zainab.
"Ayolah!" Mira sedikit menyeret Ruslan.
Ruslan menuruti Mira. Ia melangkah takut-takut.
Nyonya Zainab masih terbelalak tak percaya melihat Mira menggandeng Ruslan menuju kamarnya.
"Tidak bisa dibiarkan! Mira bisa-bisanya membawa laki-laki dekil itu masuk kamar. Aku harus menelepon Stevan. Harus!"
Mbok Ipah hanya menghela napas melihat majikan perempuannya beraksi menelepon seorang lelaki bernama Stevan.
"Halo, Stevan, gawat! Kau di mana? Bisa ke rumah Tante sekarang? Ini tentang Mira!" Jeda sesaat mendengar jawaban dari seberang telepon. "Iya, sekarang. Tante tunggu, ya!" Nyonya Zainab menutup telepon lalu bergegas menuju kamarnya.
Mbok Ipah hanya mendesah prihatin melihatnya.
Di kamar Mira, Ruslan duduk di tepi tempat tidur Mira yang empuk, bersih dan wangi. Tumpukan buku berserakan di atas kasur. Mira, dengan posisi tengkurap, sibuk membuka halaman demi halaman materi yang akan dibahas bersama Ruslan.
"Mir, apa tidak sebaiknya kita belajar di ruang tamu saja?" usul Ruslan.
Mira melirik Ruslan. "Di ruang tamu aku tak bisa konsentrasi mendengar omelan mamaku yang sungguh tidak jelas apa yang ia omelkan!" sahut Mira enteng.
Ruslan menunduk.
"Kau takut pada mamiku?" kekeh Mira.
Ruslan menggeleng. "Aku justru mencemaskanmu."
"Mencemaskan aku?" Kening Mira berkerut.
"Iya, aku takut kau akan dimarahi mamimu nanti!"
Mira terbahak. "Tidak akan! Ayo, santailah!"
Ruslan mulai menenangkan hatinya yang gelisah. Sepertinya Mira tidak terintimidasi oleh maminya sendiri.
Mereka mulai belajar bersama dengan fokus dan serius.
Sementara Nyonya Zainab gelisah menunggu Stevan yang masih belum juga datang. Ia berkali-kali menelpon tapi tak juga diangkat Stevan.
Mbok Ipah hanya tersengum kecil melihat Nyonya Zainab sibuk dengan kekhawatirannya sendiri.
Menjelang jam empat sore, Ruslan pamit pulang. Ia sudah selesai belajar bersama Mira. Saat ia hendak keluar pintu pagar. Ia berpapasan dengan Stevan.
Stevan adalah anak dari sahabat papinya Mira. Usia mereka sama, hanya saja Stevan sekolah di Jakarta. Sudah lama ia berusaha menaklukan hati Mira.
Stevan yang perlente turun dari mobilnya. Ia melepas kacamata hitamnya saat melihat Ruslan keluar dari pagar. Tidak ada tegur sapa. Stevan berpikir Ruslan hanyalah pesuruh di rumah Mira.
Ruslan mengintip dari balik pagar tembok halaman Mira. Nyonya Zainab menyambut Stevan dengan sangat ramah. Mereka berdua duduk di teras. Tak lama, Mira muncul. Dilihatnya Mira juga begitu ramah dengan Stevan. Nyonya Zainab pergi ke dalam, meninggalkan Mira dan Stevan berbincang berdua di teras.
Ruslan menggigit bibirnya getir. Laki-laki kaya itu sungguh tampak serasi dengan Mira. Mira sepertinya senang dengan kedatangan Stevan. Mereka tertawa dan menikmati kebersamaannya di sana. Ruslan membalikkan badan, berjalan lunglai menjauh dari rumah Mira.
Ia sadar siapa dirinya. Anak seorang buruh cuci mana bisa mengharapkan Mira, anak pengusaha kaya raya.
Esoknya, seperti biasa. Mira selalu minta ditemani Ruslan ke kantin. Tidak hanya ke kantin, Mira seakan tak mau Ruslan lepas dari penglihatannya. Hanya masuk toilet saja mungkin Ruslan dibiarkannya menunggu di luar.
Mereka berdua makan siang dengan memesan mie ayam.
"Mir, saat aku pulang, kemarin ada yang datang. Saudaramu, ya?" tanya Ruslan hati-hati.
Mira yang sedang menambahkan saus pada mie ayamnya tersenyum.
"Itu Stevan, anaknya sahabat Papi aku. Dia memang sering ke rumah bersama orang tuanya. Bukan saudaraku tapi kami sangat dekat," sahut Mira.
"Kalian tampak akrab dan cocok sekali."
"Dia memang kaya raya tapi aduh, ngobrol dengannya sebetulnya membosankan. Sepertinya dia bodoh di sekolahnya. Yang dia bicarakan hanya hobinya, duit orang tuanya dan ya, obrolan-obrolan lain yang meaningless, menurutku," papar Mira.
Ruslan menahan debaran di hatinya.
"Lebih enak ngobrol denganmu, Rus!" puji Mira sambil mengaduk mie ayamnya dengan sumpit.
Meski Mira ternyata lebih menyukainya daripada laki-laki kaya itu, Ruslan tetap membentengi hatinya agar perasaannya untuk Mira tidak berkembang lebih jauh lagi.
Status sosial Mira dengan dirinya sungguh seperti bumi dan langit. Ia sudah sangat senang dan bahagia bisa terus menjadi teman debat Mira, melihat senyum Mira tiap hari dan menemani Mira kemana pun di sekolah. Kantin, perpustakaan, lapangan basket, taman sekolah dan seringkali Mira mengajaknya ke toko buku. Hobi mereka sama, membaca.
Hingga tiba saatnya kelulusan memisahkan mereka. Mira dan maminya pindah ke Jakarta. Alasannya karena lokasi kampus Mira di Jakarta sangat jauh dari tempat tinggalnya sekarang.
Ruslan hilang komunikasi. Ia sama sekali tidak memiliki ponsel saat itu. Jangankan ponsel, uang SPP aja kalau tidak didapatkan dari beasiswa, sudah pasti akan sering menunggak. Upah ibunya menjadi buruh cuci tetangga sekitar tidak mencukupi untuk membiayai sekolah dia dan adiknya, Anisa.
Ingin sekali Ruslan meneruskan pendidikannya ke jenjang perkuliahan. Namun ia lebih memilih mencari kerja. Membantu ibunya yang sakit-sakitan. Ia tidak tega melihat ibunya harus membanting tulang sendirian untuk membiayai hidup mereka.
Saat Ruslan diterima bekerja di pabrik elektronik, ia sungguh senang luar biasa. Segera ia meminta ibunya untuk berhenti menjadi buruh cuci. Gaji yang ia dapatkan dari pabrik sangat mencukupi kebutuhan hidup mereka.
Kesibukannya bekerja mampu membuatnya melupakan Mira. Berkat keuletannya, Ruslan diangkat menjadi karyawan tetap di pabrik dan Mira benar-benar sudah hilang dari hatinya.