Pagi itu Kerajaan Hellas tengah sibuk akan penyambutan kedatangan dari sahabat jauh mendiang Ratu Irisa, Ibu dari Draco yang telah meninggal bertahun-tahun silam. Jika saja bukan tuntutan pekerjaan dan tanggungjawabnya sebagai seorang aja, Draco rasanya enggan mengadakan penyambutan seperti saat ini.
“Yang Mulia,” Rhea menghampiri Draco dengan membawakan secangkir madu hutan asli yang memiliki tingkat kemanisan paling sempurna, madu yang hanya bisa dicicipi dan diminum oleh para anggota Kerajaan.
Draco mengambil cangkir emas itu dari tangan Rhea dan mulai menyesap madu itu, merasakan betapa manisnya madu yang seolah mampu membakar emosinya dan menyejukan pikiran keruhnya, Draco melirik kepada Rhea, Rhea memang jauh lebih tua dari Draco, selir itu Nampak cantik dan juga berkelas. Draco tak mengatakan ia mencintai Rhea, Draco tak lagi pernah mengatakan dan merasakan cinta, itu adalah janjinya kepada dirinya sendiri. Tujuan Draco yang paling utama adalah untuk membuat hidup Calla menjadi menderita.
“Yang Mulia, Weylan mengatakan padaku jika rombongan Putri Amabel akan tiba di saat senja,” ucap Rhea menyampaikan pesan dari Weylan.
“Dimana Weylan?” tanta Draco yang menanyakan keberadaan orang kepercayaannya.
“Dia masih berada di perbatasan untuk memastikan jika para penyihir hutan yang tersisa tidak berulah,” ucap Rhea tanpa ragu. Masalah lain yang begitu sering terjadi di Kerajaan Hellas adalah pemberontakan para penyihir hutan. Mereka tak terima saat Kerajaan Hellas mengakui dan mengambil paksa tanah hutan tempat para penyihir tinggal. Draco memang telah hamper memusnahkan semua ras dari penyihir hutan itu, hanya tersisa ras penyihir hutan dengan kekuatan tak seberapa yang tentunya sangat mudah untuk dimusnahkan.
Draco kembali meyerahkan cangkir itu kepada Rhea, “datang ke kamar utama nanti malam. Aku ingin tubuhmu!” ucap Draco begitu saja dan kemudian pergi meninggalkan Rhea.
Rhea menatap kepergiaan Rajanya dengan sebuah senyuman kecil, lalu setelahnya Rhea dikagetkan dengan kehadiran Dhara yang ternyata sedari tadi menguping di balik pilar tinggi, “kau penjilat! Raja harusnya menghabiskan mala mini bersamaku! Kau tahu kan? Raja akan menghabiskan sebanyak seminggu denganku setiap bulannya!” ucap Dhara yang merajuk. Sungguh Dhara memang sangat kekanak-kanakan.
“Lalu? Apa urusanku?” ucap Rhea acuh tak acuh dan pergi dari sana meninggalkan Dhara.
Saat Dhara hendak meneriakan emosinya ia dikagetkan dengan tepukan di pundaknya, “permisi…” ucap suara lembut Calla. Ternyata orang yang menepuk pundak Dhara adalah Calla.
“Ah! Kau!” kaget Dhara.
“Ck! Tak bisakah aku menjalani hariku tanpa emosi? Kau menyebalkan seperti mereka semua!” ucap Dhara sambil memandang Calla jengah.
Calla tersenyum kikuk, ia meremas gaun yang Draco berikan padanya semalam, Calla tak tahu harus berganti gaun dengan gaun apalagi, masalahnya Draco hanya memberikan satu gaun itu semalam, Calla tak berani untuk membuka lemari pakaian Draco di kamar, jadilah Calla memutuskan untuk berjalan keluar dari ruangan yang ternyata adalah kamar pribadi milik Draco. Kamar yang letaknya lumayan terpisah jauh dari Kerajaan utama.
“Maafkan aku… Aku, bolehkan aku meminta satu gaun ? Tak masalah jika mungkin itu gaun bekas,” pinta Calla.
Dhara memiringkan kepalanya dan mengamati gaun yang Calla pakai, Dhara baru tersadar jika ternyata Calla memakai gaun kualitas rendah yang bahkan tak dipakai oleh para pelayan di Kerajaan Hellas. Dhara mulai tersenyum meremehkan, ia pikir Calla adalah selir istimewa yang Draco bawa semalam akan menjadi saingan barunya, tapi sepertinya tidak. Draco seperti hanya membeli Calla untuk dipermainkan. Tapi yang masih mengganggu pikiran Dhara adalah, mengapa Draco harus membawa Calla ke paviliun pribadinya?
“Semuanya memiliki harga…” ucap Dhara yang mulai memperlihatkan senyuman liciknya.
Wajah cantik Calla kembali murung, Calla hanya meminta selembar gaun, ia sangat gerah dan ingin mandi, sejak dating kemari semalam, Calla sama sekali belum memandikan dirinya.
“Aku tak memiliki uang,” ucap Calla ragu, lalu Calla teringat kepada Draco yang semalam secara terang-terangan melemparkan banyak sekali uang dan juga koin emas. Tetapi, walaupun begitu Calla tak akan pernah sudi untuk menggunakan uang yang Draco lemparkan padanya seperti semalam. Calla sama sekali tak ingin menjual tubuhnya. Calla tahu dia hanya selir yang kehidupannya sudah pasti akan selalu berhubungan dengan ranjang dan juga Raja.
“Apa aku meminta uangmu?” Tanya Dhara dengan angkuh.
“Aku bahkan memiliki sepertiga tanah Kerajaan Hellas. Raja Draco sangat menyayangiku! Aku adalah selir favoritnya,” sombong Dhara dan menatap rendah kepada Calla yang saat itu memilih untuk menundukkan kepalanya.
“Lila!” teriak Dhara memanggil pelayan pribadinya, lalu tak seberapa lama seorang wanita dengan pakaian pelayan yang bahkan lebih bagus dari yang Calla kenakan datang dan membungkuk hormat kepada Dhara.
“Ada yang kau butuhkan Putri?” ucap pelayan itu dengan hormat, lalu lagi dan lagi bahkan seorang pelayan menatap Calla dengan pandangan yang begitu merendahkan.
“Apa Raja sudah pergi dari Kerajaan?” tanya Dhara.
“Ya, Raja sudah meninggalkan istana dengan perdana mentri dan beberapa pengawal untuk mengurusi masalah para penjahat kelamin di wilayah timur, dan akan melanjutkan dengan menjemput Putri Amabel di malam harinya,” jelas Lila, pelayan setia Dhara.
Dhara tersenyum senang dan memandang Calla dengan sangat licik, “ayo ikut aku!” perintah Dhara pada Calla.
Calla yang mengerti langsung mengikuti Dhara, Lila yang berjalan di belakang keduanya juga hanya diam. Mereka bertiga mengunjungi Ruangan Violet, tempat para selir Raja yang lain.
“Teman-teman, lihatlah siapa yang kubawa!” Dhara berteriak di depan pintu masuk ruangan itu, para selir ang tadinya sibuk dengan beragam aktivitas yang mereka lakukan mulai menaruh fokusnya kepada Rhea dan Calla yang masih menunduk.
Dhara mengangkat dagu Calla sehingga kini wajah cantik Calla itu terpampang jelas. “Lihatlah kucing kecil ini, aku membawanya…” ucap Dhara memandang bangga kepada dirinya sendiri melalui cermin besar yang memang terpasang di setiap sudut ruangan.
“Bukannya dia adalah selir yang Raja beli dengan harga yang begitu mahal? Bahkan kau tak Raja hias dengan gaun mahal seperti saat Raja membelimu dengan harga mahal
” ucap seorang selir yang membuat Rhea rasanya ingin mencekik lehernya dan berteriak marah. Tapi tidak, itu akan merusak citranya kan?
“Dia memang mahal, tapi lihatlah…” Rhea menunjuk kepada gaun yang Calla pakai.
“Bahkan Raja tak memberinya gaun seperti yang kita kenakan, Raja hanya membelinya untuk dijadikan b***k!” ucap Dhara yang semakin membuat hati dan perasaan Calla sakit.
"Sesakit inikah sebuah kehidupan?” batin Calla bersuara.
“Wah! Kau benar, gaunnya bahkan tak sebagus milik pelayan!”
Para selir itu beramai-ramai mendekati Calla dan melihat tubuh Calla, beberapa dari mereka mengamati dan menyentuh rambut coklat kemerahan milik Calla, beberapa yang lain merasakan seberapa lembut kulit putih nan mulus milik Calla. Jujur saja, Calla merasa tak nyaman dengan apa yang mereka perbuat. Calla rasanya ingin menangis dan lari dari sana.
“Jika kau ingin selembar gaun, bekerjalah kepada kami!” ucapan Rhea membuat Calla kembali menitihkan air matanya dalam diam.
Calla hanya bisa mengangguk dan mengiyakan. Toh ini adalah hidup yang mungkin akan ia rasakan sepanjang usianya. Calla tak akan pernah bahagia. Tuhan mungkin mengutuknya karena memiliki wajah yang mirip dengan Alisa.
“Mulai hari ini, setiap kali Raja telah pergi dari Kerajaan, kau harus dating kemari dan mulailah bersihkan semua sudut di ruangan ini. Ah, kau juga harus merawat bunga-bunga cantik kami di sana! Pastikan jika bunga –bunga itu tumbuh dengan sehat, kau juga harus mencuci gaun-gaun indah milik kami. Maka sebagai bayarannya kau akan mendapatkan sepotong gaun bekas.” Ucapan Dhara sungguh terasa sangat menyakitkan untuk di dengar.
“Baiklah… Dha-“
“Siapa kau berani memanggilku dengan nama Dhara?!”
Plak
Dhara menampar pipi tirus milik Calla, bahkan Calla sampai jatuh dengan bibir yang sedikit robek dan mengeluarkan darah.
“Panggil aku Nona!” ucap Dhara.
“Ah, dan bukan hanya aku, tapi semua selir yang ada di tempat ini. Kau harus memanggil kami ‘Nona’ Apa kau paham?!” tanya Dhara yang kini menjambak rambut indah Calla, hingga terdengar suara meringis kesakitan dari Calla.
“Akhs, baiklah Non-a,”ucap Calla meringis kesakitan karena Dhara menarik rambutnya dengan sangat kuat.
“Bagus!” ucap Dhara sambil melepaskan tarikannya pada rambut Calla.
“Sekarang tugas pertamamu adalah menyapu kebun bunga kami! Pastikan kebun itu bersih tanpa selembar daun kering yang tersisa jatuh di tanah. Jika saja kau lali maka aka nada hukuman untuk itu! Kau mengerti?!” Tanya Dhara dengan angkuh.
Calla mengangguk, ia mulai berdiri dan membersihkan belakang gaunnya, Calla membungkuk hormat dan pergi untuk menjalankan perintah dari Dhara. Calla melangkahkan kakinya pelan, mengapa rasanya ribuan kali lebih menyakitkan ketimbang saat ia masih berada di Kerajaan Mexry? Calla terus saja memikirkan hal itu.
Hingga saat ia telah sampai di kebun itu ia membulatkan matanya, “kebun ini besar sekali..” ucap Calla dengan mata yang bergerak liar memandangi setiap sudut kebun yang ditumbuhi oleh bunga-bunga yang sangat cantik.
Wajah sedih Calla perlahan mulai berubah, rona kegembiraan kembali muncul dan menghiasi wajah cantik itu, “setidaknya aku bisa merawat dan bermain dengan kalian… “ Calla berjongkok dan menyentuh bunga Camelia indah di sebelahnya/
Calla begitu menyukai bunga dan juga…
Teman-teman kecilnya! Para serangga dan burung.
“Kemarilah teman-teman…” panggil Calla, dan ajaibnya adalah para serangga dan bahkan burung-burung kecil dating mengerubungi Calla.
Calla tersenyum, setidaknya ia masih bisa merasakan sedikit rasa bahagia di kebun bunga ini. Calla mulai bernyanyi dengan ditemani oleh teman-teman kecilnya.
“In the past I wanted to die, even if I just a dumbless…” Calla menyanyikan lagu ciptaanya dengan nada ceria, namun kalian tahu sedalam dan gelap apa lagu itu.
“Be the monster for a real, I cant reach out the heaven…”