3- Transmigrasi Draco

1049 Words
Kerajaan Hellas merupakan kerajaan terkuat dari lima kerajaan berkuasa di abad itu yang dipimpin oleh seorang Raja dengan rupa yang akan membuat siapa saja rela merasakan sakit hanya untuk dapat melihat secara langsung, pahatan wajahnya yang begitu tercipta dengan indah. Namun dibalik fakta ketampanan sang raja, ada kisah kelam dibaliknya, ada yang mengatakan tentang raja yang suka meminum darah manusia untuk mendapatkan kekuatan abadi, beberapa yang lain mengatakan jika raja yang kali ini telah bersekutu dengan iblis neraka untuk keabadian dan kekuasaan yang didapatnya. Banyak sekali kabar dan cerita bubruk mengenai raja Draco Allerick. Namun yang pasti adalah, Draco selalu suka bermain dengan pedang apalagi untuk menghukum seseorang yang bersalah, faktanya ia begitu lihai dalam mengayunkan pedangnya hingga membuat si pelaku menangis dan meminta untuk segera diantarkan ke gerbang kematian, ketimbang harus menjadi bahan permaianan Draco. Draco itu begitu kejam dan berhati dingin. “Kakak, Dhara sudah menunggumu di kamar utama,” ucap Jaden, adik dari Draco yang saat itu sedang melewati ruang kerja Draco. Droco hanya abai, ia bahkan tak sekalipun menoleh pada Jaden yang saat itu sedang mengajaknya berbicara, sudah menjadi rahasia publik memang, Draco adalah seseorang yang angkuh dan tak suka berbicara sesuatu yang tak penting baginya. “Kakak, Dhara sudah menantimu lebih dari tiga jam!” ucap Jaden lagi, kali ini Jaden sedikit meninggikan suaranya agar paling tidak Draco mendengarkannya, tak peduli jika mungkin nanti Draco akan memarahinya. “Lalu? Aku harus apa?” Tanya Draco dengan memandang adiknya itu tajam. Ia tak suka konsentrasinya dalam bekerja diganggu seperti ini. Draco sungguh membenci penganggu! “Temuilah dia, dia bahkan sampai menggigil kedinginan selama tiga jam, Dhara hanya memakai pakaian terbuka sialan itu!” Jaden tadi sempat melihat Dhara yang duduk di lantai kamar utama dengan posisi bersimpuh dengan hanya menggenakan kain tipis. “Bukankah itu gunanya selir? Mereka ada untuk menghangatkan ranjang yang dingin. Bukankah itu benar?” Tanya Draco dengan licik. Jaden tak habis pikir dengan apa yang kakak pertamanya itu pikirkan, jalan pikiran Draco membuat Jaden muak, namun ia tak bisa berbuat apapun, takhta kerajaan kini sepenuhnya berada di tangan Draco, Dracolah pemimpinnya dan semua selalu terjadi atas keinginan dan perintah dari Draco seorang. Sedangkan Jaden hanyalah pangeran terakhir yang hidup menumpang di kerajaan Hellas, Jaden adalah pangeran tanpa kekuasaan apapun. “Setidaknya jangan bersikap seperti ini pada wanita kak! Jika saja bunda masih-“ “Aku tak mau mendengar apapun yang kau katakan, sekarang keluarlah dan jangan ganggu aku!” ucap Draco yang terlebih dahulu memotong kalimat Jaden. “Cih!” Jaden langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruang kerja kakaknya. Di dalam ruangan besar dengan nuansa emas itu, Draco sedang memikirkan segalanya yang terjadi. Ia tak pernah menyangka akan terlahir kembali menjadi sosok berkuasa seperti sekarang. “Andai saja kau ada di sini, Alisa! Akan kutunjukan padamu tentang seberapa banyak harta yang kumiliki saat ini, akan kubuat kau menangis dan memohon di kakikku,” gumam Draco dengan pandangan lurus ke jendela besar yang memperlihatkan betapa indahnya kerajaan Hellas yang terletak di dekat lautan biru dan hutan hijau yang lebat. “Aku akan membuatmu menjadi wanita paling menderita, aku berjanji Alisa! Saat kau datang kembali dalam kehidupanku kali ini, kupastikan tak akan ada lagi kebahagiaan dalam setiap detik hidupmu!” ucap Draco dengan suara serak yang terdengar sangat menggetarkan di tengah kesunyian malam tanpa bintang kali ini. Draco kembali terfokus pada kenyataan, ia langsung melangkahkan kakinya ke kamar utama, tempat dimana Dhara berada. “Raja Draco,“ ucap Dhara seraya membungkukkan tubuhnya saat Draco membuka pintu kamar itu. Dhara adalah salah satu selir yang paling sering menemani malam Draco. Droco sebenarnya tak begitu tertarik pada selir itu, ia hanya sebatas menuntaskan hasratnya sebagai seorang pria kepada Dhara. “Naik kemari!” titah Draco yang saat itu sudah duduk di ranjang. Dhara mengangguk dan ia mulai duduk di samping Draco, jemari lentiknya ia gunakan untuk memijat pundah Draco. Draco membiarkan Dhara melakukan itu, tak bisa Draco elak, ia memang sangat lelah hari ini. Pagi tadi ada masalah di perbatasan kerajaan dan juga beberapa penyihir hutan yang mulai memberontak. Draco harus turun tangan untuk mengatasi semua masalah yang terjadi. “Raja, bolehkan aku meminta sesuatu padamu?” Tanya Dhara yang masih memijat Draco dengan lembut. “Apa?” Tanya Draco dengan suara datar miliknya. Dhara tersenyum kecil, inilah salah satu keuntungan menjadi selir utama sang raja, ia setidaknya lebih unggul dari ratusan selir Draco yang lain, Dhara diberi lebih banyak gaun indah dan juga tempat dan kedudukan yang nyaman. “Perjamuan Kerajaan Mexry yang akan dilakukan esok lusa, aku ingin ikut bersamamu kesana, apakah boleh Raja?” Tanya Dhara dengan senyuman cantik memikat yang ia punya. “Kau hanya selir!” ucap Draco dengan sangat lantang. Dhara terdiam, ia tahu jika ia hanya seorang selir, tapi bukankah Draco memperlakukan Dhara lebih tinggi daripada selir-selirnya yang lain? Apa tak bisa sekali saja Dhara ikut dalam acara perjamuan besar ini? “Tapi aku bisa menemanimu raja, aku bisa membuat para raja lain iri padamu, karena kau memiliki selir sesempurna diriku ini,” ucap Dhara dengan rasa kepercayaan diri yang sangat tinggi. “Tidak.” Ucap Draco dengan singkat. “Aku tak akan membawa selir kemanapun, kalian hanyalah alat yang kugunakan untuk mengisi dan menghangatkan ranjang. Jangan berharap hal lain.” Ucap Draco tanpa hati. “Dan ingat posisimu Dhara, kau hanya selir, tak lebih!” ucap Draco dengan membawa dagu lancip Dhara untuk ia kecup dengan sangat agresif. “Ah!” Dhara meringis kesakitan saat ia merasakan gigi rancing Draco tak sengaja merobek sudut bibirnya. “Sekarang jalankan tugasmu, selir!” ucap Draco dengan nada rendah dan membawa tubuh Dhara untuk ia nikmati, Draco menindih tubuh Dhara dan mulai menarik paksa kain tipis yang menutupi tubuh Dhara. “Raja…” lirih Dhara saat Draco melakukan hal itu dengan sangat kasar. Draco benar-benar tak pernah lembut saat bercinta. Bahkan Dhara sudah biasa terbangun dengan badan yang sangat terasa sakit, seolah remuk hingga ketulang-tulang, mungkin itulah salah satu alasan banyak sekali selir-selir muda yang tak kuat dengan gaya bercinta Draco yang sebrutal ini dan memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan gantung diri atau bahkan menggigit nadi di pergelangan tangan mereka hingga terputus. Tapi walau begitu, Draco tetap masih memiliki banyak sekali selir, ia tak akan risau walau hanya kehilangan sepuluh selir dalam sebulan yang mati karena bunuh diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD