Dia Harus Menjadi Milikku

1785 Words
1 tahun kemudian. Aldrich keluar dari bandara Internasional Soekarno Hatta dengan koper kecil yang ia geret dengan santai. Pria dengan setelan sporty tersebut tampak berjalan menatap kearah sekumpulan orang yang biasa menjemput kedatangan mereka. Aldrich menatap sepupunya yang terlihat bersandar di mobil sport berwarna silver metalik dengan gaya cool pria tampan kebanyakan. Aldrich menggeleng-gelengkan kepalanya melihat gaya sepupunya yang terlihat benar-benar layaknya seperti bintang top papan atas. “Sudah lama?” Aldrich menyambut tangan Richard saat ia mendekati nya. “Its oke, Brother, gue menikmati ini, loe bisa lihat semua mata para gadis di airport menatap ke arahku.” Aldrich hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ocehan Richard. Pria yang lebih muda lima tahun darinya ini memang selalu percaya diri. Aldrich langsung masuk ke dalam mobil sport tersebut diikuti Richard yang mengemudikan mobil tersebut. Mobil mereka menjauhi bandara melesat cepat keluar area. “Bagaimana keadaan, Tante?” Richard menoleh menatap kearah Aldrich. “Mama loe?” “Siapa lagi?” Richard terkekeh melihat mimik wajah Aldrich yang tampak lesu di hadapannya. “Loe bisa lihat sendiri,” “Maksud loe?” “Dia mau loe menikah secepatnya, supaya ada generasi penerus bokap loe.” “Gue kan udah bilang gue akan tetap jadi penerus Papa, meskipun gue belum menikah.” Richard mengangkat kedua pundaknya tidak mengetahui apa yang terjadi. Ia hanya tersenyum simpul menatap Aldrich yang terlihat gusar dengan tuntutan menikah. “Sudah satu tahun berlalu Bro, Denis bahkan sudah melupakan loe, kenapa loe masih juga sendiri?” “Gue sendiri bukan berarti belum Move On dari Denis, bahkan setelah gue mutusin Denis, detik itu juga gue kubur wanita itu dalam-dalam di hati gue.” Richard terkekeh mendengar jawaban Aldrich. “Pantesan aja loe kagak move on, lah si Denis tetep loe kubur di dalam hati loe, ya kagak keluar lah.” Jawab pria 28 tahun itu dengan tertawa lepas. Aldrich menghela nafasnya melihat tingkah sepupunya namun ia tetap diam dan tidak menanggapi ucapan Richard. Mereka memasuki rumah besar yang memiliki pagar tinggi berwarna hitam. Aldrich sudah lama tidak kembali ke Indonesia membuat orang tuanya memaksa ia harus segera kembali dan melihat sang ibu yang kabarnya sakit parah. Pria itu keluar dari mobilnya menatap rumah besar berwarna putih tersebut lalu menarik nafasnya sebelum masuk ke dalam rumah yang memiliki kenangan masa kecil hingga remajanya. *** Sebuah pesta anniversary yang di adakan di kediaman keluarga Richard mengundang banyak tamu penting. Richard adalah sepupu Aldrich dari pihak ibu, disana banyak tamu undangan termasuk sahabat Aldrich yang sudah lama tidak ia temui yaitu Andrew. Pria berprofesi sebagai model dan pengusaha itu terlihat datang menggandeng seorang wanita cantik menghadiri acara anniversary tersebut. Aldrich yang sejak tadi berdiri di lantai dua dengan memperhatikan para tamu undangan terus memperhatikan Andrew yang sejak tadi tiba di pesta tersebut. Suara langkah kaki mendekatinya membuat Aldrich menoleh melihat siapa yang datang. Richard mendekatinya menepuk pundak Aldrich lalu berdiri di samping Aldrich ikut menatap para tamu undangan. “Loe tidak turun?” tanya Richard kepada pria yang sejak tadi menghindari keramaian. “Kenapa loe tidak katakan saja sejak awal jika Mamaku baik-baik saja.” Richard terkekeh mendengar ucapan Aldrich, pria itu bukan tidak mau tapi karena memang harus diam. “Aku tidak bisa Al, Tante benar-benar mengancamku agar tidak buka suara kepadamu, dia hanya ingin kamu kembali ke Indonesia.” Aldrich menghela nafasnya kasar mendengar jawaban yang selalu sama dari Richard. “Kalau tahu akan seperti ini, aku tidak akan kembali ke Indonesia.” Richard tertawa mendengar ucapan Aldrich. “Ayolah, apa yang loe tinggalin di LA? Di sini banyak gadis yang bersedia dengan suka rela menikah denganmu,” Aldrich diam tidak menjawab ucapan Richard, tatapannya masih menatap Andrew yang berjalan sambil menyapa para tamu undangan. “Siapa wanita yang bersama Andrew itu?” tanya Aldrich dengan tatapan tak lepas dari pasangan itu. “Kekasihnya, dan katanya ia akan segera menikah dengan gadis itu.” Aldrich menoleh menatap kearah Richard dengan tatapan tak percaya. “Andrew akan menikah?” tanya Aldrich dengan tatapan tidak percaya. “Ya, dia gadis yang berbeda dari kebanyakan wanita yang selama ini dekat dengan Andrew.” Aldrich mengerutkan dahinya mendengar ucapan Richard. “Berbeda?” “Ya, berbeda, dari kasta menengah, bukan keluarga kaya, bahkan hanya lulusan universitas negeri.” Aldrich menautkan alisnya heran. “Apa istimewanya gadis itu?” tanya Aldrich bingung. “Dia masih perawan, mungkin?” jawab Richard sambil berbisik di telinga Aldrich. “Bagaimana loe tahu?” “Gadis yang bersamanya terlihat polos Bro, coba temui dia, apa dia belum tahu kalau pertunangan loe gagal karena dirinya?” Aldrich tidak menjawab ia hanya berjalan meninggalkan Richard yang masih bicara padanya. “Hei, loe mau kemana?” Aldrich tidak menjawab dan terus berjalan tanpa menghiraukan Richard yang terus memanggilnya. Aldrich turun ke lantai satu dimana pesta diadakan di halaman terbuka dengan tema outdoor. Pria itu berjalan mendekati Andrew membuat Andrew tersadar dan langsung membuka tangannya lebar-lebar untuk memeluk Aldrich. “Apa kabar? Kenapa loe gak kabarin gue udah ada di Indonesia.” Ucap Andrew sambil memeluk dan menepuk pundak Aldrich. Aldrich hanya tersenyum tanpa menjawab ucapan Andrew, pria itu menatap ke arah gadis yang bersama Andrew. Aldrich mengedipkan matanya menatap gadis yang berdiri menatap kedua pria itu. “Gue ada beberapa pekerjaan, belum ada waktu untuk menemuimu.” Jawab Aldrich beralasan. Andrew hanya tersenyum lalu meraih kekasihnya mendekat padanya. “Perkenalkan, ini Ellianna kekasihku.” Aldrich menaikkan alisnya sebelah lalu mengulurkan tangannya di hadapan gadis cantik bernama Ellianna tersebut. “Aldrich,” jawab Aldrich dengan sopan namun terus menatap gadis itu dengan tatapan lekat. “Anna,” jawab Anna dengan sopan. Aldrich tersenyum lalu menatap ke arah Andrew. “Dimana loe mendapatkan gadis secantik, Anna?” Andrew tertawa kecil lalu merangkul pinggang Anna dengan mesra. Aldrich menatap tangan Andrew sambil menautkan alisnya tidak suka. Gadis bernama Anna itu tersenyum pada Aldrich saat Andrew merangkulnya mesra. “Di tempat yang tidak pernah loe temui.” Jawab Andrew sambil terkekeh “Sedikit bocoran padaku, loe tahu gue udah lama jomblo.” Jawab Aldrich mencoba mengakrabkan diri dengan Andrew. Andrew tertawa riang mendengar kata jomblo yang Aldrich lontarkan. Aldrich mengepalkan tangannya kuat namun wajah nya tersenyum menatap Andrew. “Aku dengar, Denisha masih menunggumu.” Aldrich tersenyum mendengar ucapan Andrew. “Sepertinya dia cinta mati denganku.” Jawab Aldrich dengan nada santai. “Sepertinya begitu,” Andrew melambaikan tangannya saat tamu yang ia kenali datang di acara yang sama. “Sayang, aku kesana sebentar, bicaralah pada Aldrich dan nikmati pestanya.” Andrew meninggalkan Anna setelah mencium pipi Anna. Aldrich yang masih berdiri di sana ikut menatap kepergian Andrew yang terburu-buru mendekati seorang pengusaha yang bergerak di bidang industri entertainment. Aldrich yang sejak tadi memegang gelas di tangannya menenggak habis isinya lalu meletakannya begitu saja di atas meja dan menatap kearah Anna. Gadis yang benar-benar cantik dan menarik, memiliki rambut hitam lurus dan panjang hingga mencapai pinggangnya. Anna memiliki mata yang indah, bulu mata lentik dan alis yang tebal. Bibir merah merona serta tubuh yang tinggi langsing berisi di bagian-bagian yang tepat. Anna merasa risih dengan tatapan menilai milik Aldrich membuat gadis itu hendak meninggalkan tempat itu dan mendekati kekasihnya. “Anna.” Panggil Aldrich saat Anna hendak beranjak pergi. Gadis itu menghentikan langkahnya dan menatap Aldrich di hadapannya. “Ya,” “Kamu sudah lama mengenal Andrew?” tanya Aldrich dengan wajah serius. Anna tampak mengerutkan dahinya berpikir. “Kami sudah saling mengenal hampir satu tahun ini, kenapa?” Aldrich tersenyum lalu berjalan mendekati Anna mengikis jarak di antaranya. “Aku belum pernah tahu Andrew memiliki kekasih secantik kamu.” Jawab Aldrich dengan wajah seriusnya, Anna mengambil langkah mundur untuk menjauhi Aldrich yang terlihat aneh di matanya. Pria tampan dengan bola mata kecoklatan itu terlihat sangat menggoda di hadapan siapapun. Namun Anna merasa risih karena pria itu tampak memiliki maksud dari tatapannya. “Karena kita memang baru bertemu, jadi Tuan Aldrich, jaga sikap anda.” Aldrich menautkan alisnya mendengar nada kesal dari gadis cantik di hadapannya ini. “Jaga sikap? Apa yang harus saya jaga Nona Anna?” Anna menghela nafasnya kasar hendak pergi namun Aldrich dengan cepat memegang lengan Anna agar tidak beranjak dari sana. “Katakan, sikap yang mana yang perlu saya jaga?” Anna menatap sinis Aldrich lalu menghentakkan tangannya kuat agar terlepas dari cengkraman Aldrich. “Pertama menjauhlah dariku, lalu tatapanmu tidak sopan.” Ucap Anna dengan wajah kesal, Aldrich melepaskan tangannya dari Anna lalu tersenyum smirk. “Apa aku seperti virus yang bisa menular sehingga harus menjauh darimu?” Anna mulai habis kesabaran, gadis itu melipat kedua lengannya di d**a lalu menatap Aldrich marah. “Hei Tuan, kamu bisa menatap semua wanita seperti itu, tapi tidak denganku.” Jawab Anna dengan wajah kesal. Aldrich hanya terkekeh merasa terhibur dengan gadis dihadapannya ini, setelah berhari-hari merasa bosan di Indonesia. Kali ini ia merasa terhibur dengan satu gadis yaitu kekasih Andrew. “Seperti apa wanita di mataku menurutmu?” Anna tidak berniat menjawab melainkan hengkang dari hadapan Aldrich namun lagi-lagi Aldrich kembali menahannya agar tidak pergi. “Murahan.” Jawab Anna dengan nada geram. Aldrich terkekeh sambil melirik Andrew yang sibuk berbicara dengan para tamu lainnya. Aldrich berdiri menjauhi Anna selangkah lalu memasukkan kedua tangannya di dalam saku dan menatap Anna dengan tatapan tersenyum. “Jika seperti itu menurutmu, Andrew lebih tahu cara memperlakukan wanita murahan.” Anna melotot mendengar jawaban Aldrich, gadis itu tidak terima dengan ucapan merendahkan yang di tujukan pada kekasihnya. “Andrew adalah pria yang paling tahu cara memperlakukan wanitanya, menghargai wanitanya, tidak seperti Tuan Aldrich terhormat.” Aldrich tertawa lepas di hadapan Anna yang menatapnya heran. Gadis itu mengerutkan dahinya menatap Aldrich aneh. “Yah, kamu benar, berdoa saja jika dia tidak berubah dengan wujud aslinya.” Anna menatap Aldrich bingung dengan ucapannya. “Tidak ada yang akan berubah, justru Anda yang seharusnya berubah, belajar dengan Andrew bagaimana memperlakukan wanita yang baru saja anda kenal.” Jawab Anna dengan nada marah lalu berjalan menjauhi Aldrich, Anna terus berjalan mendekati Andrew yang terlihat sibuk membahas pekerjaan. Aldrich terus menatap Anna meskipun gadis itu sudah dalam rangkulan kekasihnya. Anna yang merasa risih dengan tatapan aneh Aldrich langsung membelakangi Aldrich agar tidak bisa melihat dirinya kembali. Aldrich tertawa senang melihat wajah kesal kekasih Andrew, ternyata benar yang di katakan Richard jika kekasih Andrew kali ini sedikit berbeda dan Aldrich menginginkan gadis yang sedang bersama Andrew saat ini. Richard mendekati Aldrich menepuk pundaknya dan mengikuti arah pandang Aldrich. “Ada apa?” tanya Richard saat tatapan Aldrich tidak beranjak dari sepasang kekasih di hadapan mereka. “Dia harus menjadi milikku.” Richard mengerutkan dahinya mendengar ucapan Aldrich, dia siapa yang di maksud Aldrich, apa dia kekasih Andrew? Jika ya, apa mereka sedang melakukan peperangan tak kasat mata. Richard menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan persahabatan antara Aldrich dan Andrew.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD