Yang Tak Asing Bagi Hana

1040 Words
Sepoi angin jadi kian kencang dan gerah, lengket ke kulit seperti selaput yang bikin perih, sedang bayang-bayang perkataan wanita tadi masih melekat di kepala Hana. Ketika ia berulang kali di tanya oleh Ye Jun tentang kesehatannya, ia hanya tersenyum kecil layaknya kemunculan bulan di awal Januari. Sedikit manis hingga tak memunculkan rasa khawatir di pandangan Ye Jun. Namun, berbeda ketika ia datang di awal waktu, sekarang ia lebih pendiam seperti memikirkan banyak masalah. Tatapannya pun agak terasa kacau, namun Ye Jun tak memiliki kelebihan untuk bisa membaca itu. Ia hanya guru olahraga, yang pandai cara mengolah raga. Jam sembilan malam, buncit langit bagai perut keledai telah petang di negara ginseng itu. Para siswa yang lelah belajar langsung menikmati waktu pulangnya. Sedang para guru masih membereskan buku-buku berserakan di ruang meja kerjanya. Satu per satu pun para guru mulai pulang semari membereskan. Pada siapa Hana akan melemparkan rasa kesalnya, terkecuali pada dirinya sendiri. Giginya berulang kali menggerutu oleh emosi yang ia tahan-tahan, tirus pipinya telah basah oleh air mata yang ia sembunyikan pada siapa saja. Ia ingin sekali menampar dirinya sendiri, atau membenturkan kepalanya ke meja kerjanya, tetapi itu hanya meninggalkan rasa sakit di tubuhnya, bukan menghilangkan rasa sakit hatinya. Sekilas demi sekilas bayangan bunuh diri kembali muncul di dalam kepalanya, namun di sisi lain dalam, ia teringat pada janji yang ia tekankan pada dirinya sendiri di waktu belum genap dua puluh empat jam yang lalu. Ingatkah, bahwa ia mengatakan akan membungkus kisah lalu dan akan melahirkan kisah baru! Lalu ia mengambil selembar kertas lalu ia robek dari buku tulis yang ia ambil di laci meja kerjanya, kemudian ia menulis dengan deraian air mata yang terus mengalir, kertas itu pun penuh dengan tinta. Entah apa tulisannya. Semoga hal itu bukanlah wasiat terakhir seperti surat yang di temukan Ye Jun waktu kritisnya. Selesai menulis itu, ia mengusap air mata dan sedikit tersenyum. Nafas panjang pun ia hembuskan per satu kali tarikan udara. Sepertinya ia telah lega, “Baiklah, aku akan pulang,” ucapnya. Sambil bernyanyi dengan maksud menghibur diri, ia pun membuka engsel pintu lalu keluar dari ruangan kerjanya. Di jendela kaca bening sebelah kanan, langkahnya terhenti ketika ia melihat pemandangan malam yang di penuhi kelap-kelip lampu kota. Sepertinya di lantai empat paling atas gedung ini, pemandangannya lebih menawan dan menenangkan. Bagai itu terbesit di benaknya. Ia sama sekali tak pernah mendaratkan kakinya di lantai gedung paling atas, setahunya, memang ada akses untuk mencapai sana. Yaitu tangga, dan sebagai pembatas antara atas gedung dan di dalam ruang gedung, ada pintu besi yang tak pernah di kunci, hanya saja ada besi penyangganya yang mudah di buka. Hana pun mencobanya. Akhirnya ia melangkah sambil bersiul tanpa ada yang mengetahuinya. Pintu besi pun ia buka, seketika angin sepoi menerpa mukanya. Ia melangkah penuh hati-hati bagai berjalan di puncak tebing di waktu gelap, menyusur sisi-sisi gedung yang berbentuk bundar agar ia tempati untuk memandangi pemandangan kota. Tepat sekali, ia menemukan sehelai matras panjang tipis yang di ikat gulung rapi di sebelah utara gedung, sepertinya itu milik para guru yang sering menyelinap di lantai paling atas itu. Hana pun mengambilnya tanpa ragu, lalu mencari-cari dan menentukan posisi yang tepat, agar sesuai dengan pemandangan yang ia inginkan di depannya. Sepertinya ia mulai tertarik dengan tempat ini, selain pemandangan kelap-kelip cahaya lampu kota menenangkan kegundahan hatinya, keadaan yang sunyi serta ratusan bintang di atasnya juga membuatnya betah. Ia pun berbaring, menghitung satu per satu butiran bintang yang menyala-nyala. Setahunya, menurut ilmu astronomi, definisi bintang adalah: semua benda masif (bermassa antara 0,08 hingga 200 massa matahari) yang sedang dan pernah melangsungkan pembangkitan energi melalui reaksi fusi nuklir. Oleh sebab itu bintang katai putih dan bintang neutron yang sudah tidak menghasilkan energi tetap disebut sebagai bintang. Namun, dalam kesibukannya menghitung bintang, seketika muncul kembali arwah perkataan wanita yang ia maki-maki dalam benaknya itu, kembali menyesatkan pikiran segarnya, menjadi suram tak terkendali. Bahkan meronta-ronta seperti kumbang yang di kurung. Pikiran sesat itu memiliki energi yang sangat kuat hingga ia bangkit dari pembaringannya, kemudian berlari kecil hingga ke sisi tepi gedung lalu meloncat tanpa memikirkan kembali dampak akibatnya. Matanya terpejam tanpa tahu apa yang akan terjadi dengannya, suara udara merambat kencang di telinga kanan-kirinya. Tubuhnya berputar-putar dengan rambut yang terburai. Lalu sekilat cahaya panjang datang dengan cepat mendekati Hana dari arah utara, ia menerjang tanpa terjerembap oleh kekuatan tekanan udara. Cahaya kilat itu melesat melebihi kecepatan peluru tanpa menabrak gedung dan berputar-putar di tubuh Hana. Setelah semenit, baru jelas wujudnya bahwa cahaya adalah manusia. Entah siapa dia? Dia dengan mudah merangkul Hana di atas udara. Kemudian ia dan Hana turun perlahan bagai sebuah kapas yang mampu melayang-layang di udara. Detak jantung Hana perlahan mulai menurun, tekanan darah hulu hilir dari kaki hingga wajahnya kembali ia rasakan seperti biasanya. Hana sempat membatin dalam rangkulan pria bertubuh tinggi itu. Apakah angin sepoi ini adalah angin kematiannya, dan rangkulan yang ia rasakan saat terpejam ini adalah tangan malaikat... Yang mengantarkannya pada tempat yang seharusnya ia tempati sekarang. Kau tak bisa lagi merasakan hangat-dingin musim, kau menggantikan waktumu dengan tempat yang kau tak tahu itu tempat penuh dengan noda atau suci. Arak-arakan jasadmu sebentar lagi kau ketahui, dan ceritamu akan beredar sebagai pecundang.... “Namun aku masih bisa berpikir... Apa benar aku sudah mati?” Tanya Hana pada dirinya. Ketika ia membuka kelopak matanya penuh keraguan-raguan, ternyata gedung sekolah yang sangat ia kenali masih terlihat olehnya, lalu sedikit ia angkat kepalanya mengikuti arah cahaya lampu gedung yang telah menyoroti wajah. Betapa kaget dan tidak percayanya dia, ketika melihat wajah tampan yang tak asing baginya di depannya, sedang merangkulnya dengan wajah yang amat serius, seperti seorang pahlawan terbang yang menjaganya dari para rivalnya. Rambutnya semakin membuatnya gagah, terurai-urai tertiup angin. Hana pikir, ia bertanya-tanya mengenai waktu dan kematiannya, mengapa tak ia rasakan rasa sakit hantaman terlebih dahulu, sebelum bertemu dengan pria itu. Agar ia sama-sama merasakan sengal dan sakitnya kematian layaknya ia dulu. Ini terlalu mudah mengejar mimpinya. Kemudian ia ucapkan selamat tinggal pada dunia. “Tetapi gedung ini? Tempat ini tak berubah....” “Apakah ini nyata atau bagaimana?” jantungnya yang lemah, kembali membuatnya tak sadarkan diri, ia pingsan kembali. Entah siapa pria yang tak asing wajahnya bagi Hana ini, ia mampu mengendalikan tubuhnya, hingga ia membawa Hana mendarat di atas permukaan tanah tanpa sehelai luka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD