Sepanjang Perasaan Hana

1078 Words
Burai cahaya fajar pertama menembus mega, pada waktu itu juga, Hana membangunkan lelap keluarganya untuk membawanya pulang kerumah saja. Meski Mamanya agak ragu, dan melihat wajah pucat anaknya yang kembali agak cerah, ia pun memenuhi permintaan putri kecilnya itu. Hana juga terheran, tentang mimpi singkat di awal masuknya malam di waktu itu. Apakah memang benar, pria bercahaya dalam mimpinya itu sengaja tak lekas membantunya, supaya ia berusaha mempertahankan kehidupannya, yang terjebak dalam rangkulan kematian. Hingga akhirnya ia kembali sadarkan diri, dan menghirup kembali kehidupan yang sebenarnya.  Namun, apakah benar pria penuh cahaya itu adalah sosok kebaikan? Bagaimana jika Hana berhasil menurut pada perintahnya, maka mungkin saja ia akan hidup dalam keabadian dan bertemu dengan tunangannya. Hal itu memang cukup membingungkan jika di bayangkan. Karena kadang, masalah itu menjadi sumber solusi terbaik, hanya saja kita terlalu takut hingga kita mengatakan hal itu beban hidup. Setelah jarum infus yang tertanam di tangan kirinya di cabut perawat, Hana pun bangkit dan langsung sanggup berjalan. Seakan energi hilang dalam tubuhnya kembali datang. Keajaiban itu memang terjadi di sekitar kita, dalam batinnya, sambil tersenyum pula.  “Hari ini aku ingin ke sekolah Bi!” pinta Hana dengan raut wajah yang cukup meyakinkan.  “Baik Nak... Biar Paman yang mengantarmu!” sahut Bibinya. Biasanya pada jam enam pagi, Hana mulai berangkat ke sekolah tempat ia bekerja. Tetapi kali ini, jam setengah tujuh ia akan berangkat kesana.  Hana tak perlu mandi, tetapi ia harus singgah ke apartemennya terlebih dahulu, untuk mengambil keperluan kerjanya sebagai guru. Hana pun berangkat dengan Papanya, sementara Mamanya mengendarai taksi pulang ke rumahnya. Di awal bulan Maret ini, ia hanya ingin mengubur kisah lalu dan mencoba menghirup udara segar kisah baru. Ia berjanji terutama pada dirinya sendiri, tidak akan lemah dan cengeng lagi dalam menghadapi masalah. Sebab, langit itu akan tetap cerah meski ada awan gelap menyembunyikannya. Awal bulan Maret ini pun, menjadi alasan Hana rindu ingin bertemu anak didiknya.  Setibanya di apartemen, Hana pun meminta Pamannya agar ia menunggu di dalam mobil saja, karena ada sedikit barang privat yang harus ia bereskan di kamarnya. Awal memang Pamannya agak ragu, tetapi mata putrinya itu seakan memohon kepadanya hingga ia menurutinya. Papanya hanya memintanya untuk cepat. Hana pun mempercepat langkahnya. Tiba di lantai enam, kesunyian di ruang itu mulai memunculkan pikiran yang kacau di kepala Hana. Seperti munculnya bayangan hari-hari sebelum ia di larikan ke Rumah Sakit, enam bulan ketika ia dan tunangannya memilih nomor kamar di apartemen. Lagi-lagi yang membuatnya menggertak dirinya sendiri, ketika muncul bayangan wajah pucat tunangannya sewaktu meninggal.  Ia pun membuka apartemennya yang bernomor menurut mereka hoki, yaitu 112. Ternyata Hana baru menyadari, bahwa apartemennya hancur berantakan serupa kapal karam di tengah lautan. Tak jelas apa penyebabnya, padahal selama enam bulan terakhir ini, Hana merasa hanya di tempat tidurnya saja. Tetapi sampai di sudut ruang tamu, di meja makan, ada banyak kertas bertabur layaknya bunga-bunga kematian.  Lalu ia menuju kamarnya, ia yakin, di tempat tidurnya masih ada benda yang harus ia simpan rapat-rapat, yaitu foto tunangannya. Foto itu tergeletak di lantai sebelah kanan ranjangnya. Untung saja foto itu tergeletak dalam keadaan tengkurap, jika tidak, bisa saja Hana akan ingat kembali pada tunangan yang ia tangisi beberapa bulan akhir ini. Foto berukuran 4X6 itu, ia ambil tanpa ia pandangi, kemudian ia masukkan ke dalam tas hitam kerjanya dan beberapa buku materi pelajaran tebal ia masukkan ke dalam itu pula. Setelah semua beres ia siapkan, ia pun pergi meninggalkan apartemennya.  Ia mempercepat langkahnya dengan lari-lari kecil menuju parkiran tempat mobil Pamannya. Tadi di handphonenya, ia lihat waktu menunjukkan jam setengah delapan. Itu artinya, ia benar-benar telat hari ini. Meski begitu, ini hanya keinginannya masuk sekolah tanpa di paksa oleh Kepala Sekolah atau siapa saja. Mereka kan tahu bahwa Hana masih sakit, dan ketika nanti mereka bangga pada Hana karena memaksakan diri masuk sekolah, itu adalah bonus terbaik pula di dalam mengemban tanggung jawabnya.  “Ayo Paman!” ucapnya, dan pintu mobil ia tutup rapat sedikit keras. “Syukurlah,” sahut Pamannya, ia sedikit lega. Padahal barusan Pamannya akan melangkah kan kakinya ketika lima menit lagi Hana tidak datang. Ia kira, kembali terjadi hal buruk di luar dugaan pada pomakannya itu. Karena selama ini, ia dan istrinya mengira anaknya baik-baik saja. Dari itu, mereka tak pernah menghubunginya. Menanyakan kondisinya. Karena dari kecil hingga menyelesaikan masa kuliahnya, Hana terlihat tegar dan kuat menghadapi masalah. Ia tak pernah mengeluh mengenai apa yang menimpanya. Selain itu, sifatnya yang jujur dan mudah percaya pada orang lain, membuat Paman dan Bibinya itu meyakini bahwa ia akan memiliki teman yang banyak. Jadi, ketika ia di rundung masalah, maka teman-temannya akan bersedia membantu atau bahkan mengarahkannya. Namun sekarang, mereka mulai berpendapat berbeda, bahwa Hana dewasa tidak mampu mengatasi masalah asmaranya. Berarti memang benar, hati wanita itu tercipta dari cinta, jika cinta itu tergores sedikit saja, maka seluruh dari mereka akan melemah terkena dampaknya.  “Sampai...” ucap Pamannya agak bangga.  “Terima kasih Paman. Aku jadi teringat masa kecil ku!” sahut Hana. Pantas saja sepanjang perjalanan ia hanya melamun saja. Dari Sekolah Dasar hingga kuliah, Papanya selalu mengantar-jemputnya. Mungkin jika di hitung, maka ratus bahkan ribuan kisah yang di ceritakan Pamannya padanya, karena memang Pamannya merupakan pendongeng yang pandai. Pernah suatu kejadian, ketika pulang sekolah waktu ia masih di bangku Sekolah Menengah Pertama, ia menangis sejadi-jadinya di dalam mobil. Ia merengek, meminta Pamannya untuk mengantarkannya pada seorang Hobbit yang yatim, ketika ia sakit sendirian di gubuk kecilnya. Hana ingin sekali menyembuhkannya. Sampai-sampai ia tidak percaya bahwa itu adalah cerita karangan Pamannya, meski telah berulang kali di katakan padanya. “Baiklah Paman, aku masuk dulu?” ucap Hana sambil tersenyum. Senyum kecil itu bagai mutiara yang keluar dari kedalaman laut, bagai cahaya indah dari surga, bagi Pamannya. Itulah Hana anakku. Ucapnya.  Hana pun keluar dari mobil dengan perasaan cerah, hatinya senang terlalu dalam ketika menginjakkan kaki di sekolah yang mengangkat namanya itu. Sedang keadaan sekolah sangat sepi, siswa-siswi sedang memasuki kelas. Saat Pamannya melaju, ia pun mengambil handphone di tas hitamnya, kemudian menelepon Ye Jun, guru olahraga teman akrab berceritanya itu. Karena biasanya jam segini, ia selesai memberikan praktik olahraga. Panggilan berdering, setelah agak lama, Ye Jun pun mengangkatnya. “Halo... Hana?” tanyanya seakan tidak percaya. “Iya, ini aku. Kamu dimana?” tanya Hana balik padanya.  “Mendengar dari suara mu, aku jadi heran, jangan-jangan kamu ada di sekitar sekolah?” seru Ye Jun, jelas suaranya rada bahagia.  “Kamu tahu, kenapa aku menelepon mu? Ada cerita baru yang harus aku sampaikan padamu!” ucapnya lagi. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD