Satu hari menjelang tanggal 14 Febuari. Hannah memutar bola mata untuk semua warna pink yang dilihatnya bertebaran dimana – mana. Baginya, suasana manis yang sekarang lagi menghama di ibukota jomplang banget sama nasibnya sekarang. Boro – boro ngarepin ada yang kirim coklat atau bunga, masih bernafas dengan tentram karena aksi kabur – kaburannya dengan Adam terlaksana dengan baik aja udah syukur. Gak ada romantis – romantisnya amat kan.
Untung ada Shean. Keberadaan anak itu lumayan membantu niat jaga jaraknya. Setiap hari Hannah selalu datang lebih pagi sebelum Shean berangkat sekolah, supaya dia gak perlu berduaan di meja makan dengan Adam. Sebelum Shean selesai dengan sarapannya, Hannah memastikan dirinya sudah mencatat lengkap tugas – tugas dari Adam, jadi dia gak perlu menelepon atau bahkan menemui Adam hanya untuk menanyakan tugas selanjutnya. Kalau pun memang terpaksa dia bertanya, dia akan menunggu Adam berangkat ke kantor, jadi dia bisa beralasan meminta bantuan Dian untuk menjadi perantara. Tak perlu berbicara langsung dengan Adam, karena menurut pengalamannya beberapa hari lalu ketika dia menelepon Adam, beginilah jadinya.
Pengalaman I
“Halo...” suara Adam di ujung sana mendadak terasa lebih seksi daripada aslinya.
“Hmm...Pak Adam saya mau nanya...”
“Hannah, jangan panggil saya ‘pak’ bisa gak??” blep. Sambungan di putus.
Pengalaman II
“Halo...Ada tukang karpet datang ke rumah katanya udah ada janji, terus dia nanya ruangan kantor mau di ganti sama karpet warna apa. Karena kemarin pesan warna putih, tapi kurang jelas mau putih gading, snow, atau ivory? Tiga – tiganya sudah ready dan di bawa ke sini, tinggal di pilih terus di pasang.” Akhirnya Hannah memutuskan untuk berbicara tanpa jeda, dengan tidak menggunakan kata panggilan sama sekali. Menurutnya itu adalah cara paling aman.
“Hannah..”
“Ya...”
“Suara kamu lebih seksi ya akhir – akhir ini...”
“Hah?”
“Bilang sama Mbok Jum tukang karpetnya, di kasih minum sama kue, terus suruh mereka santai dulu...”
“Loh kok gitu?”
“Soalnya saya masih mau mikirin warna yang pas...Menurut kamu warna apa?”
“Hmm...” Hannah berpikir.
“Hannah...”
“Ya?”
“Bilang sama tukang karpetnya saya lagi gak bisa mikir karena denger suara seksi kamu..”
Blep. Giliran Hannah yang memutus sambungan sepihak.
Pada dua jam sebelum makan malam tiba, sebisa mungkin Hannah menghabiskan waktu bersama Shean. Menonton Netflix, artis – artis yang bertebaran di YouTube, mengadakan girltalk ala ABG, foto – foto, hingga main scrabble apa pun agar bisa membuat gadis itu nempel dengannya sampai jam makan malam bersama dengan Adam tiba.
Shean adalah satu – satunya yang membuat Hannah betah berjam – jam di rumah ini. Gadis kecil itu mengingatkan Hannah pada dirinya dulu. Kepolosannya, keingintahuannya, keras kepalanya, sampai selera film, dan musiknya. Membuat Hannah dengan leluasa mencurahkan kasih sayangnya ibarat Shean adalah adiknya sendiri.
Sekarang Hannah jadi mengerti posisi Adam yang menyayangi Shean setengah mati tapi tidak bisa 100% memahami Shean karena sebagai seorang lelaki yang biasa di puja wanita, kehadiran adiknya 1 tahun belakangan ini (Yang pindah dari rumah orang tua mereka, karena orang tua mereka memutuskan untuk menghabiskan masa tua di kampung halaman nenek Adam, di Jerman) merupakan suatu adaptasi yang agak sulit disesuaikan-apalagi jarak umur mereka yang cukup jauh (15 tahun).
Belajar memahami wanita itu intinya yang Adam tidak sadari. Cowok itu keliatan kewalahan diantara ingin menyenangkan dan ingin menjaga Shean dari pengaruh buruk pergaulan. Suatu saat Hannah bisa melihat Adam yang kesibukan menelpon kesemua relasinya hanya untuk mendapatkan komik kesukaan Shean yang belum beredar di pasaran, tapi dua jam kemudian Hannah menyaksikan dua adik kakak itu berdebat tentang pesta ulang tahun teman Shean yang mulai jam 9 malam dan menurut Adam itu terlalu malam untuk party ABG.
Well no...Hannah membayangkan menenggelamkan diri ke kolam renang sampai berhenti bernafas begitu lagi – lagi memergoki dirinya memikirkan Adam untuk yang kesekian puluh kalinya di hari ini.
Ia kembali dengan kegiatannya menata isi dapur Adam, merombak habis – habisan daftar belanjaan Mbok Jum.. Hari ini baru kesampean melantaskan niatnya yang dari kemarin itu. Akibat teralu sibuk kepikiran meng-‘undo’ hubungan diluar dugaannya dengan Adam, dia jadi lupa sama hal yang ini. Untung tadi Mbok Ani ngingetin.
Beberapa sayuran hijau, buah warna – warni, daging, di tata di dalam kulkas. Sementara makanan instan yang tetap di beli dengan jumlah yang diciutkan dari biasanya, di taruh sejauh mungkin dari peredaran. Pertama supaya Adam tidak mudah menemukannya, kedua meskipun menemukannya dia berharap Adam akan malas untuk susah – susah mecomotnya.
Untunglah akhir – akhir ini Adam selalu pulang pada jam yang sama, pukul 7 malam atau selambat – lambatnya 7:15 dia sudah di rumah. Mungkin karena Shean sudah pulang dari liburannya dan Adam perlu memastikan bahwa adiknya itu terurus dengan baik, hal yang hanya bisa di obrolkan pada jam makan malam. Karena setelah jam makan malam selesai, Shean akan mengurung diri di kamar sambil menyetel musik dengan volume yang membuat kuping Adam pengang (tapi akhirnya sebulan lalu dia mendekor ulang kamar Shean, untuk di berikan alat peredam) , dan pada jam – jam yang menurut Shean adalah quality time itu, dia tidak akan bisa di ganggu gugat. Kemudahan bagi Mbok Jum dan Mbok Ani karena mereka bisa memastikan masakan mereka selesai paling tidak lima belas menit sebelum Adam ke meja makan untuk makan malam.
Adam melangkahkan kaki masuk ke rumah. Wangi masakan yang langsung menyambutnya membuat makhluk – makhluk di perutnya protes bersamaan dengan rasa bingungnya. Tumben – tumbenan ada wangi jenis begini di rumahnya. Dia melempar tas kerjanya ke sofa, lalu beringsut menuju ke sumber aroma tersebut dan menemukan objek menarik yang sedang berdiri di meja makan yang terletak di dekat dapurnya sembari menata mangkuk dan piring yang berisi lauk-pauk. Seketika aroma tadi mendadak jadi tidak krusial lagi, pemandangan di depan mata Adam sepertinya lebih layak mendapat perhatian. Ia memilih bersender di tembok pembatas ruang makan dan lorong yang menuju ruang tamu untuk menikmati panorama itu.
Tangan Hannah menangkap tiga piring makan dan meletakannya di sebelah gelas yang tadi sudah di susunnya di setiap sisi kanan-kiri dan ujung tengah meja. Shean sedang merapikan posisi taplak meja yang berkerut ketika mengintip keberadaan Adam dari sudut matanya. “Mas Adam bantuin dong, jangan ngeliatin doang!” sergahnya sambil meyeringai.
Hannah baru selesai dengan tataan piringnya membalik tubuhnya untuk menuju dapur merasakan jantungnya hampir meledak begitu mendengar Shean menyebutkan nama Adam. Wajahnya mendadak terasa kaku sembari melangkahkan kakinya yang juga ikutan kaku seperti robot. Dia sendiri merasa t***l kenapa mesti kaget dengan keberadaan Adam, ini kan memang jamnya pulang kerja. Tapi apa boleh buat, memang begitulah yang sekarang berlangsung pada sel – sel dalam hatinya.
“Mas bantuin makan aja deh...” sahut Adam kepada Shean sambil mengambil posisi duduk di kursi makan. Matanya tak berkedip menatap pemandangan semur daging, sayur asem, ayam goreng, kerupuk udang-Adam gak bisa makan kalau gak ada kerupuk -di hadapannya, “Kok tumben banget menunya beginian?”
Senyum nakal Shean merekah, “Mbak Hannah yang ngusulin, katanya aku harus terbiasa sama masakan rumah. Jangan makan junk food terus...”
“Oh..” balas Adam lemah. Ada perasaan kecewa begitu tahu, ya Hannah yang melakukannya, ya dirumahnya tapi bukan untuk dirinya. Tapi sebagian dirinya merasa senang karena asistennya itu begitu perhatian pada Shean. Suatu saat nanti perlakuan Hannah pada anak – anaknya pasti akan sama. Bayangan Hannah memasak untuk anak – anaknya dan untuk dirinya melintas di kepala Adam. Entah darimana tapi tiba – tiba Adam ingin memberi judul ‘masa depan’ pada khayalan itu. Apalagi begitu yang dipikirkan tiba – tiba muncul dari dapur dan masih menggunakan celemeknya. “Hannah, lepas celemek kamu, kita makan sekarang aja. Aku lapar..” lidah Adam bergerak tanpa di suruh. Dia baru mengatakan ‘aku’ bukan ‘saya’. Beberapa detik Adam kaget dengan ucapannya sendiri tapi sudah kepalang tanggung, laki – laki sejati tidak pernah menarik perkataannya hanya karena gengsi, dia memilih tak berpaling dari Hannah yang membalas ajakannya dengan tampang bloon. “Cepat...” pintanya.
Hannah mengedip – ngedipkan matanya beberapa kali, bahkan dia ingin menampar – nampar pipinya paling gak 3-4 kali untuk memastikan yang tadi di dengarnya bukan sekedar halusinasi. Sumpah mati intonasi bicara Adam terasa sangat nyaman ketika masuk ke gendang telinganya, membuatnya harus berusaha keras untuk menahan senyum meskipun dia yakin mukanya sudah merah.
“Cepat..” satu kata lagi dari mulut Adam dan itu berguna untuk menyeretnya langsung ke realita. Hannah segera melepaskan celemeknya, Mbok Jum yang ternyata sudah berdiri dari tadi di dekatnya dengan sigap membantu melepaskan ikatan tali di belakang leher Hannah, lalu membawa pergi celemek itu.
Dengan otomatis tangan Hannah menyendok nasi untuk Adam dan Shean begitu sampai di meja makan, lalu menyendok sedikit untuk dirinya sendiri. Rasa laparnya menjadi absen tinggalah rasa gugup menggantikan. Dia sudah berada di meja makan ini lebih dari belasan kali, tapi rasa itu tidak pernah berubah sejak pertama kali. Malah bertambah, mengingat upayanya menghindari Adam akhir – akhir ini.
Beberapa menit berlalu, pandangan Hannah teralih pada piring Shean demi mengisi rasa canggung yang sudah berlangsung beberapa menit ini, dari tadi tangannya dia mencari kesibukan-selain menyendokan makanannya sendiri ke mulutnya- dia ingin mencium Shean begitu melihat lauk dipiring gadis itu tinggal tulang belulang, artinya dia bisa menyibukan diri dengan menyendokan daging semur ke sana. Dan tanpa di sangka Adam ikut mendorong piringnya ke arah mangkuk daging semur, pandangan Adam minta ikut dilayani bertabrakan dengan ekspresi Hannah yang langsung menahan senyum. Dia menaruh beberapa potong daging ke piring Adam.
“Gimana test kamu, Shean?” suara Adam memecah kesunyian setelah itu.
Shean meneguk air putih, lalu menatap kakaknya, “Susah, tapi karena aku super awesome, jadi bisa deh..”
Adam mengangguk – angguk. Beberapa saat keadaan kembali sunyi, lalu giliran Shean memecahnya “Mas, aku boleh tanya gak?” katanya.
“Ya?” alis Adam terangkat.
“Hmm...Aku boleh pinjem kartu kredit Mas gak?” nada bicara Shean terdengar hati – hati.
Alis Adam mengerut, dia mengistirahatkan sendoknya, “Untuk?”
“Aku perlu baju baru buat ke sweet 17th-nya Belinda.”
“Shean, we’ve talked about it.” Intonasi Adam datar dan tegas.
Bibir Shean mengerut, “Mas....”
“No.” Tandas Adam keras.
Hannah memandang bergantian dua manusia itu sambil menarik nafas. Oke perang dunia kedua. Katanya dalam hati.
Shean melipat tangannya lalu menyender kebangku muka cemburutnya berubah merajuk begitu beralih pandang pada Hannah, “Mbak Hannah.....” rajuknya meminta dibela.
Adam menatap adiknya gemas, oh jadi sekarang sudah punya sekutu rupanya. Dia ikut menatap Hannah, yang tersenyum tipis padanya. Jantungnya langsung berhenti beberapa mili detik, kepalanya seperti di guyur air dingin. Baru seminggu ini dia merasa gadis itu sangat menghindarinya, dan sekarang dia tersenyum padanya.
“Pak Adam, gak ada salahnya kan Shean pergi ke pesta ulang tahun temannya sendiri.” Panggilan Hannah di awal kalimat seperti balon yang meledak tepat di telinga Adam. Kupingnya pengang, darahnya mendidih, dia tidak suka dengan panggilan ‘pak’, terutama yang langsung keluar dari mulut Hannah. Rencana Hannah untuk melembekan hatinya, terancam gagal.
Adam langsung beralih menatap adiknya, “Acaranya mulai jam 9 kan? Terus kamu mau pulang jam berapa? Besoknya kan kamu ke gereja.”
“Gak masalah. Aku bisa bangun pagi kok besoknya.”
“Mas gak yakin.”
“Mas..”
“It’s a no.”
Bola mata Shean berputar, “ARGHHHH!” dia meninggalkan meja makan dan berjalan cepat ke kamarnya. Saat bunyi bantingan pintu kamar Shean mendengung, Adam menebak adiknya itu sudah mengunci pintu itu rapat – rapat, lalu menyetel lagu dengan volume maksimal, jadi niatnya untuk menyusul Shean ke sana urung. Ketukan pintu gak akan bisa menandingi speaker di kamar bocah itu dan dia terlalu capek hari ini.