Saat pelajaran olahraga lari, semua siswa berkumpul di lapangan untuk pemanasan. Terlihat Valeta dan Nadia dengan kaos olahraganya mulai meregangkan otot bersama anak-anak yang lain. Ares yang sedari tadi melihat ke arah Valeta hanya bisa terpesona dengannya. Bahkan ketika ada seorang gadis menghampirinya hanya sekedar mengucapkan ‘halo’ saja tak digubrisnya. Ia malah pergi menghampiri Valeta. Kedatangan Ares membuat Valeta bingung. “Ada apa?” “Lo yakin bisa ikutan lari, kalau tiba-tiba pingsan lagi gimana?” ledeknya meremehkan Valeta mengembuskan nafas kesal. “Lo ngeremehin gue?” “Ya, gue antisipasi aja, kalau tiba-tiba lo jatuh lagi.” Nadia yang melihat perhatian Ares hanya bisa senyum sambil menyenggol bahu Valeta. “Perhatian tuh!” Valeta malah merespon sebaliknya. “Idih!” ia

