Hati manusia tidak lah terbuat dari batu! Itu yang ada dalam benak Fakhri ketika menginjakkan kakinya disini, dirumah Nabilla di Yogyakarta. Rumah minimalis dengan bangunan joglo yang lebih banyak di d******i terbuat dari kayu, khas bangunan lawas. Untuk apa menyerah ketika ia masih diberi kesempatan untuk berusaha? Selagi nafasnya masih ada, ia merasa masih diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya di masalalu, untuk mempertanggung jawabkan sesuatu yang sudah ia hancurkan. Nyalinya tidak menciut ketika kakinya berada di teras rumah Nabilla dan semakin menguat ketika matanya menemukan sosok lelaki paruh baya yang sedang memperbaiki motornya, laki-laki dengan rambut yang sudah mulai memutih itu duduk membelakangi dirinya. “Assalamualaikum” “Walaikumsalam” Pak Andang membalas sala

