Chris berjalan melewati lorong mansionnya dengan langkah panjang dan penuh kepastian. Pikirannya dipenuhi dengan satu nama, Emma. Setelah meninggalkan Isabelle dalam kehancuran tadi, ia hanya ingin melihat Emma. Entah kenapa, setiap kali pikirannya buntu, setiap kali emosinya memuncak, satu-satunya tempat yang ia inginkan adalah dekat dengan wanita itu. Ia membuka pintu kamar dengan hati-hati. Cahaya remang dari lampu tidur menerangi ruangan, menampilkan sosok Emma yang tertidur di ranjang. Napasnya teratur, wajahnya tampak begitu damai. Chris berdiri di ambang pintu, hanya menatapnya dalam diam. Ada sesuatu di dadanya yang terasa berbeda. Perasaan yang tidak bisa ia definisikan. Emma adalah satu-satunya wanita yang membuatnya kehilangan kendali. Ia melangkah lebih dekat, duduk di si

