Elisa membuka matanya, perlahan-lahan disadarkan oleh seberkas sinar matahari yang menyelinap di antara tirai. Sisi ranjang di sebelahnya sudah kosong, seprai dingin saat disentuh. Dia mendongak ke arah jam dinding di seberang kamar, pukul delapan lewat. "Ah, pantas saja," pikirnya, mengingat bagaimana matanya baru terpejam larut malam, sementara Maya sudah lama terlelap dengan napas yang tenang. Duduk di tepi ranjang, pandangannya tertarik pada sebuah titik di seberang ruangan. Di depan lemari kaca tinggi, tergantung sebuah kebaya putih gading. Benda itu tampak menyala dalam cahaya pagi, manik-manik dan payetnya memantulkan kilauan halus. Perlahan, Elisa berjalan mendekat. Jaraknya semakin dekat, hingga dia bisa melihat setiap sulaman rumit di tepian kebaya. Tangannya terulur, ujung ja

