"Elisa!" Suara itu memotong keriuhan lobi Gedung Adhirajasa. Elisa menoleh, dan senyum merekah saat melihat Fani berdiri terpaku beberapa langkah darinya, mata membelalak. "Apa kabar, Fan?" sapa Elisa, melangkah mendekat. Fani tak langsung menjawab. Matanya memindai Elisa dari ujung rambut hingga ujung kaki, terhenti sejenak di siluet tubuhnya yang kini lebih penuh. "Kamu ... kelihatan berbeda. Lebih berisi, deh," gumamnya, lebih kepada dirinya sendiri. Elisa menyentuh perutnya dengan lembut. "Iya, aku lagi isi." Fani terkesiap. "Apa?! Hamil?" Senyum di wajah Elisa semakin lebar, matanya berbinar. Kepalanya mengangguk mantap. "Dan aku sudah menikah, Fan." "Serius?" Fani mendekat, suaranya berbisik penuh ketidakpercayaan. "El, jangan bercanda. Terakhir aku dengar kamu pulang ke Surab

