"Keluar!"
"Keluar, Sialan!"
Teriakan itu mengoyak kesadarannya. Suara berkerumun, samar-samar. Lalu, tangan-tangan kasar mencengkeram bahunya, menarik tubuhnya yang lunglai keluar dari kursi kemudi.
"Pegangin! Jangan sampai bocah sialan ini kabur!"
William terhuyung, kedua tangan menangkup panik di depan d**a. "M-maaf, saya tida—"
Dunia putih seketika. Rasa sakit tajam menyambar dari pipinya, memutar lehernya. Suara itu bergemuruh, mengalahkan deru mesin yang masih mendengking.
~
Wira membuka mata. Langit-langit kamar yang gelap perlahan muncul dari kabut. Napasnya tersengal-sengal, seperti pelari yang baru menyentuh garis finis. d**a naik turun tak beraturan. Keringat dingin mengalir dari pelipisnya, membasahi bantal.
Mimpi itu. Lagi.
Kakinya menyentuh lantai, dinginnya merambat langsung ke atas paha. Tangannya mengusap wajah dengan kasar, seolah ingin mengelupas memori itu dari kulitnya. Dia berjalan ke arah jendela memandang keluar. Dari jendela, fajar belum juga menunjukkan cahaya. Hanya kegelapan pekat yang diam-diam mulai memudar.
Pagi datang begitu cepat, dan Wira sama sekali tidak melanjutkan tidurnya setelah terbangun tadi akibat mimpi buruk yang masih terus menghantuinya selama bertahun-tahun lamanya.
Di dapur, aroma kopi pahit mencoba mengisi kekosongan. Tangannya yang biasa stabil, hari ini membuat sendok sedikit bergemerincing mengetuk cangkir.
Langkah kaki ringan mendekat dari belakang.
Elisa muncul. Rambut sedikit basah membelai bahu, terhalus hanya oleh kaus tipis. Dia menguap, sebuah gerakan polos yang tiba-tiba membuat udara di dapur terasa sempit.
"Pagi," sapanya dengan suaranya yang merdu, masih berbalut sisa kantuk.
"Pagi." Wira membalas, suaranya sengaja dibuat datar. Dia menoleh, lalu memalingkan wajah terlalu cepat. Bukan karena tidak ingin melihat. Tapi karena telah melihat terlalu banyak, lekuk bahu yang hangat, garis leher yang terbuka, jejak air yang mengalir ke tempat yang tak seharusnya dia ingat.
Ini salah. Batinnya berteriak. Awalnya selalu salah.
"Kopi?" tawarnya, mendorong cangkir.
"Terima kasih," Elisa tersenyum. Senyum pendek, tanpa syarat. Itu bagian tersulit. Wira lebih sanggup menghadapi amarah daripada kepercayaan yang diberikan begitu saja, seperti hadiah yang tidak pantas dia terima.
Di kantor Wira terbiasa menguasai ruang. di balik meja yang luas, kendalinya kembali.
Dia mengatur ritme orang lain, dimulai langkah, suara, bahkan jeda napas. Keputusan dibuat cepat, bersih, tanpa residu emosi. Dia menyukai keteraturan itu.
Hingga sebuah laporan dengan nama Elisa ada di hadapannya. Tulisannya rapi, analisisnya tajam. Jarinya hampir menulis catatan pujian. Tapi dia berhenti. Tidak. Dia menutup map-nya rapat-rapat.
Namun saat rapat, ketika seorang manajer menyebut nama "Elisa" dalam konteks kerja, Wira mengangkat kepala. Tanpa sengaja, pandangannya bertemu dengan Elisa yang sedang serius mendengar. Tatapannya jernih, tak tahu apa-apa. Sebuah kejanggalan aneh mengencang di dadanya. Dia segera memutus rapat.
Sore itu, dia pulang lebih cepat, sebuah keputusan lemah yang membuatnya geram. Rumah itu terasa berbeda, dipenuhi oleh kehadiran yang lain.
Elisa ada di dapur, mengaduk sesuatu. Wira memperlambat langkah.
"Capek?" tanyanya, suaranya terdengar dari ambang pintu.
Elisa menoleh. "Sedikit." Senyumnya kembali, tapi kali ini terlihat lelah. Ada dorongan liar dalam dirinya untuk menghapus kelelahan itu. Dia gantikan dorongan itu dengan mengambil piring, menata meja.
"Rapatnya bagaimana?"
"Baik. Direksinya ... tegas."
"Dia memang begitu."
Elisa terkekeh ringan. "Kamu bicara seolah sangat mengenalnya."
Wira terdiam sejenak, terlalu singkat untuk disebut jeda, tapi cukup untuk waspada. "Orang seperti dia mudah ditebak. Tidak suka kebisingan." Termasuk kebisingan dalam kepalanya sendiri, pikirnya.
"Wira," Elisa memanggilnya, suara lebih pelan. "Kamu selalu terlihat ... tenang."
Wira menelan ludah. Tenang adalah disiplin. Tenang adalah kebohongan yang paling rapi. "Sudah biasa," gumamnya.
Saat Elisa berpapasan di belakangnya, bahunya nyaris menyentuh lengan Wira. Nyaris. Kata yang berbahaya. Seluruh tubuhnya menegang, merasakan gelombang panas yang seharusnya tidak ada. Dia mundur setengah langkah.
"Maaf," kata Elisa reflek.
"Tidak apa-apa," jawabnya, terlalu cepat.
Malam itu, di kamarnya, Wira berdiri menghadap jendela. Jakarta berkelap-kelip di kejauhan, sebuah kerajaan yang dia kuasai. Tapi di sini, di kamar sunyi ini, dia menghadapi kenyataan yang lebih mengerikan dari mimpi buruk manapun.
Keinginannya untuk dikenal. Bukan sebagai William Adhirajasa Wiranegara yang perkasa, tapi sebagai pria yang gemetar, yang berdiri terlalu dekat di dapur, dan yang untuk pertama kalinya memilih tetap diam saat seharusnya pergi.
Dia memejamkan mata. Besok, akan lebih berhati-hati. Dan dalam-dalam, dia tahu, itu adalah janji paling rapuh yang pernah dia buat untuk dirinya sendiri.
***
Malam itu, rumah terasa lebih kecil dari biasanya.
Hujan turun tidak begitu deras tapi mampu meredam suara hiruk pikuk kota. Wira duduk di ruang tengah dengan lampu temaram, berkas kerja terbuka di laptop tanpa benar-benar dibaca. Jam dinding berdetak pelan, ritme yang biasanya menenangkannya.
Tidak malam ini.
Langkah kaki terdengar dari lorong. Pelan. Ragu. Wira tidak menoleh, tapi dia tahu, dia selalu tahu.
"Elisa," panggilnya tanpa sadar.
Langkah itu berhenti. "Iya?"
"Belum tidur?"
"Belum. Listrik kamar aku sempat mati," jawabnya. "Boleh ... duduk sebentar?"
Wira menutup laptop. Terlalu cepat. "Tentu. Silakan."
Elisa datang membawa selimut tipis, duduk di ujung sofa. Jarak di antara mereka masih aman, setidaknya di atas kertas. Namun kehadirannya mengubah udara. Wira merasakan hangat tubuhnya seperti garis halus yang menyentuh kulit, tanpa sentuhan.
Hening merentang.
Hujan mengisi ruang yang tidak mereka isi dengan kata-kata.
"Kamu kelihatan tegang," kata Elisa pelan, menoleh ke arahnya.
Wira tersenyum tipis, kebiasaan lama. "Mungkin karena pekerjaan."
Elisa mengangguk, mengerti.
"Di kantor pusat memang begitu," katanya, mengulang kalimat yang pernah dia ucapkan pada dirinya sendiri.
Elisa menoleh, memperhatikannya lebih lama dari biasanya. Wira membiarkan, kesalahan kecil yang dia sadari terlambat. Tatapan itu tidak menuntut. Dia hanya hadir. Terlalu dekat.
"Kamu selalu kelihatan bisa mengendalikan segalanya," ucap Elisa.
Wira menghela napas perlahan. "Tidak semua hal."
Elisa menggeser duduknya, hanya beberapa sentimeter. Selimutnya menyentuh lutut Wira. Sentuhan kain, ringan, tak berarti. Namun tubuh Wira bereaksi seolah disentuh langsung. Dia menahan diri untuk tidak bergerak.
Jangan. Dia mengingatkan diri. Jangan sekarang.
"Elisa," katanya, nada suaranya lebih rendah. "Kalau kamu capek—"
"Aku tidak capek," potongnya lembut. "Aku cuma ... tidak ingin sendirian."
Kalimat itu jatuh pelan, tapi menghantam tepat. Wira merasakan sesuatu retak di dadanya.
Dia menoleh. Jarak mereka kini terlalu dekat untuk diabaikan. Dia bisa mencium aroma sampo di rambut Elisa, hangat kulitnya, napasnya yang teratur. Waktu menyempit menjadi jarak antara dua napas.
Wira mengangkat tangan, berhenti di udara.
Tidak menyentuh.
Elisa tidak bergerak. Tidak menjauh. Dia hanya menatap, mata gelap dan tenang, seolah memberi pilihan yang tidak seharusnya ada.
Wira menurunkan tangannya.
"Maaf," katanya pelan, tidak jelas kepada siapa.
Elisa berkedip, lalu tersenyum kecil. "Tidak apa-apa."
Mereka duduk dalam posisi seperti itu beberapa saat, terlalu dekat, terlalu sadar. Hujan mereda. Jam dinding kembali terdengar.
Akhirnya, Elisa berdiri. "Aku ke kamar. Terima kasih sudah menemani."
Wira mengangguk. "Kapan pun."
Elisa melangkah pergi. Di ambang lorong, dia berhenti sebentar, menoleh. "Wira?"
"Ya?"
"Kamu orang baik," katanya, sederhana. Lalu dia menghilang.
Wira tetap duduk lama setelahnya. Dia menyadari telapak tangannya basah, napasnya belum sepenuhnya kembali normal. Dia berdiri, membuka jendela sedikit, membiarkan udara malam masuk.
Dia tahu, ini titik berbahaya.
Bukan karena apa yang terjadi.
Melainkan karena apa yang nyaris terjadi, dan betapa dia menginginkannya.
Wira memejamkan mata.
Besok, dia akan membuat jarak.
Itu harus. Seperti yang sudah-sudah dia peringatkan pada dirinya sendiri.
Namun di keheningan malam yang tersisa, dia mengakui satu hal yang tak bisa dia kendalikan, keinginan itu sudah terlanjur ada, tenang, dalam, dan tidak lagi bisa disangkal.