Elisa masih asyik menatap layar komputernya, jari-jemarinya menari di atas keyboard, ketika dia merasakan kehadiran di sebelahnya. Fani telah menarik kursinya mendekat, wajahnya berkerut dengan ekspresi memohon. "El," bisiknya. "Ya?" Elisa menoleh, jari-jemarinya berhenti mengetik. "Nanti kamu gantiin aku lembur, ya? Mau, kan?" Suara Fani masih berbisik, matanya melirik ke sekeliling seolah takut ada yang mendengar. Elisa memutar kursinya sepenuhnya. "Kenapa? Kamu harus pulang cepat?" "Aku ada janji sama dokter gigi, El. Mau cabut gigi bungsu yang lagi nyut-nyutan. Jam lima sore, nggak bisa diganti." Wajah Fani sungguh-sungguh memelas. "Tadi aku sudah bilang ke Bu Susi, kalau aku gak bisa ikut lembur dan beliau minta aku cari orang buat gantiin." "Oh." Elisa mempertimbangkan sejenak.

