Chapter 16

1708 Words
“Mas Andaru?” panggil Sabrina membuat suaminya tersentak dari lamunan. Andaru menghembuskan nafasnya, ia tidak ingin membohongi Sabrina lagi. Lebih baik ia mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. “Bapak enggak pernah min—-“ Tok! Tok! “Mas Andaru? Mbak Sab?” Suara Bi Lela terdengar di balik pintu membuat Andaru menghentikan perkataannya. “Iya, Bi. Masuk aja,” sahut Sabrina. “Di depan ada tamu, Mas. Bu Zubaidah sama anaknya,” ucap Bi Lela memberi tahu. Sabrina yang mendengar itu segera bangkit dan mengajak Andaru untuk keluar, menemui tamu yang sudah datang ke rumah mereka. “Tolong buatin minuman ya, Bi,” pinta Sabrina pada Bi Lela yang langsung mengangguk. Kedua pasangan suami isteri itu langsung menuju ruang tamu, dimana seorang perempuan paruh baya dan gadis muda menunggu mereka. “Mas Andaru,” sapa Nabila ketika melihat sosok Andaru yang datang dengan seorang wanita. Ibunya mengatakan bahwa itu adalah isteri dari Andaru. Awalnya, Nabila sedikit terkejut dengan kabar bahwa Andaru telah menikah. Pasalnya tidak ada undangan yang sampai di rumah mereka tapi ternyata pasangan suami isteri itu melaksanakannya di kantor urusan Agama. “Halo, Mbak. Saya Nabila, tetangganya Mas Andaru,” kata gadis itu memperkenalkan dirinya pada Sabrina. “Panggil aja Mbak Sabrina, salam kenal,” kata Sabrina tersenyum lembut membuat Nabila yang mendengar suara lembut dan senyum manis wanita itu tertegun. Dirinya saja yang seorang perempuan kagum melihat Sabrina, apalagi Andaru. Kedua pasangan di depannya benar-benar cocok, satu pria mapan dan tampan dan seorang perempuan cantik dan lembut. Hanya saja andaikan Sabrina bisa melihat, wanita itu akan terlihat luar biasa. “Saya kesini menemani Nabila buat ketemu Mas Andaru untuk ngucapin terkma kasih,” ujar Bu Zubaidah menatap anak perempuannya. “Saya cuman ngasih lowongan kok, Bu. Bukan apa-apa,” kata Andaru sambil tersenyum kecil. “Gimana kerjanya disana? Lancar, Nabila?” Nabila yang mendengar Andaru memanggil namanya terdiam sebentar, berusaha menenangkan hatinya yang entah kenapa jadi berdetak kencang. Gadis itu lalu meremas tangannya, berusaha menyingkirkan perasaan ini. “Lancar kok, Mas. Disana semuanya baik.” Gadis itu berusaha mempertahankan agar nada suaranya terlihat tak bergetar. Ketika sang ibu mengatakan bahwa Andaru telah menikah, ia awalnya tak percaya. Pria itu selalu berada di rumahnya jadi bagaimana bisa bertemu dengan seorang wanita? Tapi ketika melihat apa yang ada di depannya, Nabila tidak bisa menahan rasa sesak di dadanya saat melihat seorang perempuan yang bukan dirinya, bisa berdekatan dengan Andaru yang menjaga bagian tubuhnya agar tak bersentuhan dengan yang bukan muhrim. Nabila jatuh cinta pada Andaru pada pandangan pertama, ketika menemani ibunya menemui seorang laki-laki yang baru pindah tak jauh dari rumahnya. Tak hanya tampan, pria itu sangat baik untuk membantu dirinya mendapat perkejaan. Ia sebenarnya hendak mendekati Andaru namun karena harus membantu ekonomi keluarga, Nabila berfokus untuk memperbaiki karirnya terlebih dahulu. Dan sekarang ketika ia sudah mendapat posisi kerja yang bagus. Pria yang ia sukai ternyata telah menikahi seorang perempuan. Siapa yang harus ia salahkan sekarang? “Mas Andaru kerjanya masih dari rumah? Full remote?” tanya Nabila tersenyum walau sedikit memaksakannya. “Iya, Nab. Saya jadi bisa sekaligus menemani isteri saya,” jawab Andaru sedikit melirik isterinya penuh cinta, walau di dalam hatinya masih sedikit resah dengan pertanyaan Sabrina sebelumnya. Nabila yang melihat tatapan itu merasa semakin tak kuat berada disini. Hatinya seperti terbakar. “Bagus itu Mas Andaru. Apalagi nanti kalo isterinya udah hamil dan punya bayi,” celetuk Bu Zubaidah menatap pasangan suami isteri itu. “Gimana Mbak Sab? Udah ada tanda-tanda enggak?” “Belum, Bu,” jawab Sabrina pelan. “Pernikahan kami baru satu bulan lewat beberapa hari kok, Bu,” tambah Andaru yang tidak mau membuat Sabrina terbebani. “Lho menantunya Pak Pras yang di tinggal disamping rumah saya, setengah bulan udah hamil lho, Mas Andaru,” cerita Bu Zubaidah yang memang senang sekali bergosip. “Saya cuman nyaranin ya, Mas, Mbak. Coba di cek dulu ke Dokter. Jangan sampai kayak pasangan yang ditinggal di depan saya. Udah dua tahun manikah, enggak mau ngecek. Eh, pas sekali ngecek ketahuan kalo isterinya mandul.” “Suaminya terus nikah lagi, lewat dari saru bulan ister barunya langsung hamil. Saya agak kasihan, sih, sama isteri tuanya tapi mau gimana lagi, suaminya pengen banyak anak.” Sabrina yang mendengar itu langsung merasakan hatinya cemas. Bagaimana jika kejadian itu terjadi padanya? Ia tidak bisa memiliki seorang anak dan ditambah kondisinya yang tidak bisa melihat, bukan tidak mungkin Andaru akan menikah lagi. Pria itu ingin sekali memiliki seorang anak. “Mama masih sering ngosip? Nabila bilangkan jangan lagi,” tegur gadis itu pada ibunya yang meringgis. Ia pun langsung menatap tak enak pada Andaru dan Sabrina. Andaru hanya bisa menghela nafasnya, walau tahu perkataan Bu Zubaidah pasti memancing kekhawatiran Sabrina. “Duh, seru banget ngobrolnya. Diminum dulu es sama pisang gorengnya, Bu Zubaidah, Nabila,” kata Bi Lela membawa nampan berisi pisang goreng dan es teh. “Makasih, Bi Lela,” balas Nabila yang cukup kenal dengan wanita paruh baya ini. Ibunya pun juga kenal. “Oh, iya, Mas Andaru enggak mau coba kerja di perusahaan Nabila sekarang? Ada posisi yang sesuai untuk Mas Andaru,” cerita Nabila yang mengingat bahwa HRD kantornya mencari seseorang seperti Andaru. “Gajinya besar terus yang paling penting ada jenjang karirnya,” lanjut Nabila membuat Andaru yang mendengar itu mau tidak mau, merasa tertarik. Ini yang sedari tadi dicarinya namun posisi itu pasti tidak memperbolehkan karyawannya bekerja dari rumah. “Kalo nanti Mas Andaru tertarik, nanti coba chat Nabila aja ya, Mas,” kata gadis itu lagi membuat Andaru berterima kasih. “Kerja dari rumah enggak, Nab? Mas Andaru pengennya di rumah biar bisa jaga isterinya,” celoteh Bu Zubaidah sambil memakan pisang goreng. “Harus datang ke kantor sih, Bu. Tapi siapa tahu Mas Andaru tertarik, Mbak Sabrina kan ada temanya Bi Lela.” Andaru mengangguk, masalahnya bukan pada Sabrina. Tapi dirinya yang terlalu takut untuk keluar. Bu Zubaidah dan Nabila akhirnya pamit setelah berada cukup lama disana. Andaru dan Sabrina akhirnya naik ke lantai atas lagi, pria itu ingin merenggangkan tubuhnya sebentar di kasur. Tapi melihat Sabrina yang terlihat risau, membuatnya tidak bisa mengabaikan isterinya itu. “Kamu kenapa? Mikirin perkataan Bu Zubaidah?” tanya Andaru pada Sabrina yang menyandarkan tubuhnya di kepala kasur. Sabrina menggigit bibir bawahnya, ia telah memutuskan setelah berpikir cukup panjang tadi. “Mas, gimana kalo besok Sabrina sama Bi Lela periksa ke Dokter?” Andaru yang sedang tiduran, sontak terbangun dan menatap isterinya kaget. Tidak menyangka Sabrina akan benar-benar terpikir kesana. “Untuk apa, Sabrina?” tanya Andaru menatap isterinya. “Sabrina mau periksa aja, Mas. Gimana kalo Sabrina enggak bisa ngasih Mas Andaru anak? Kalo kita tahu dari awal, Mas Andaru enggak perlu nunggu lama dan bisa mencari isteri baru,” ujar wanita itu dengan sekuat tenaga agar tak menangis. Hatinya jadi begitu sesak mengatakan itu tapi keinginan suaminya yang terpenting. Andaru yang mendengar itu tidak bisa menahan untuk membulatkan mata dan terkejut. Apa Sabrina tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan? Andaru tidak menyangka Sabrina bisa semudah itu untuk membiarkan Andaru mencari isteri yang lain. Dan, pria itu menyadari bahwa apa yang dingingkan Sabrina adalah agar mimpi Andaru untuk memiliki seorang anak terwujud. “Kamu ngomong apa, sih?” tanya Andaru menghela nafasnya. “Kalo memang kamu mau memeriksa ke dokter, saya juga harus ikut. Gimana kalo masalahnya bukan di kamu tapi saya?” tanya Andaru pada isterinya. “Kalo memang masalahnya ada di saya, mungkin kamu harus menceraikan saya dan menikah dengan pria lain agar bisa memiliki anak,” lanjut Andaru membuat Sabrina yang mendengar itu sontak menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Sabrina enggak mau berpisah sama Mas Andaru. Sabrina enggak papa kok kalo kita enggak bisa memiliki anak, asalkan Sabrina bisa sama Mas Andaru,” ucap wanita itu cepat, Andaru yang mendengar perkataan itu sontak merasakan hatinya menghangat. “Saya juga enggak mau berpisah sama kamu, Sabrina,” ujar Andaru menarik lembut tangan isterinya dan mengenggam. “Tentang masalah anak, biarkan yang diatas saja yang mengaturnya. Kita hanya bisa berdoa dan berusaha.” “Kamu enggak usah pusing mirikin itu lagi,” kata Andaru pada akhirnya menjatuhkan kepalanya di paha sang isteri. Punggungnya benar-benar terasa perih karena duduk sepanjang hari. Ia ingin mengistirahatkannya sebentar saja. “Iya, Sabrina enggak akan mikirin itu lagi, Mas,” ujar Sabrina yang langsung disambut dengan senyuman oleh Andaru. Pria itu lalu memejamkan matanya sebentar. “Mas Andaru,” panggil Sabrina yang tengah mengusap-usap rambut suaminya. “Iya?” tanya Andaru masih memejamkan kelopak matanya. “Mas Andaru kenapa enggak mau kerja di kantor langsung?” tanya Sabrina yang mendengar tawaran dari gadis bernama Nabila tadi. “Apa karena orang jahat itu?” “Iya,” jawab Andaru jujur. Jika dulu ia khawatir jika ia musnahkan oleh mereka tapi sekarang Andaru takut jika ia tiada, Sabrina akan seorang diri. “Selain itu, saya juga enggak mau ninggalin kamu sendiri,” tutur Andaru lalu membuka kelopak matanya dan tersenyum kecil. “Bi Lela kan ada, Mas,” ucap sang isteri. “Sabrina itu pengen banget Mas Andaru bisa keluar dari rumah, ketemu teman-temannya Mas, ngelihat apa yang ada di luar. Sabrina pengen Mas Andaru bahagia.” Ketika sang isteri mengatakan hal itu, Andaru sontak menatap ke arah jendela yang menampilkan langit biru yang begitu indah. Biru itu terbentang luas dan tanpa batas. Dulu jika ia melihat situasi kotak, Andaru melihatnya dari CCTV jalan atau mengunjugi peta online. Ketakutan membuatnya khawatir untuk keluar dari rumah. Ia berpikir banyak sekali bahaya yang mengancam dirinya akan datang lalu lambat laun akhirnya ia membuat benteng besar untuk dirinya sendiri dan dunia luar melalui rumahnya. Banyak sekali yang dilewatkannya ketika berada di dalam rumah, perasaan benci itu langsung timbul di hatinya. Andai ia tak terlahir dari keluarga Kalingga, ia mungkin bisa menikmati kehidupan yang normal. Andaru bisa datang ke tempat kerja, bermain bersama temannya ketika pulang atau setiap sebulan sekali bisa mengunjungi tempat wisata yang sedang terkenal. Ini semua karena dia terlalu lemah untuk melawan Eshan dan anak buahnya. Pria itu lalu menghela nafasnya, tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang. Namun, bukan berarti Andaru tidak menikmati hidupnya sekarang. Berada di dalam rumah, tidak terlalu buruk. Apalagi sekarang ia memiliki sosok wanita yang telah menjadi isterinya. Andaru sudah bahagia. “Untuk saat ini, saya sudah merasa bahagia, Sabrina.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD