Chapter 12

1580 Words
BRAKKK! “Kalian semua tidak becus!” teriak seorang pria paruh baya dengan amarah yang terkumpul di wajahnya. Lembaran kertas yang awal mula tertata rapi di depannya seketika melayang berhamburan saat tangannya memukul meja itu begitu kuat. “Bagaimana berita itu kembali tersebar, hah?!” serunya lagi. Eshan mendengus, menatap beberapa anak buahnya yang menurutnya tidak becus sama sekali. Dan, walau pekerjaannya mereka tidak pernah membuatnya senang, ia harus tetap membayarkan mereka dengan gaji yang tinggi. Benar-benar memalukan. Pria paruh baya itu mendekati salah satu anak buahnya yang nampak paling muda, lalu melayangkan pukulan di perut pria itu hingga membuatnya jatuh tersungkur dan terbatuk-batuk.  Eshan kembali berdecak, lihat bagaimana fisik pemuda itu yang begitu lemah. Bagaimana bisa membantu perkejaannya? “Cepat pecat dia atau akan menjadi beban!” suruh Eshan membuat orang yang menjadi pemimpin parah anak buah itu terkejut. “Tapi, Bos—-“ “Cepat pecat dia atau kamu yang saya pecat!” Eshan tidak mau membuang-buang uangnya untuk untuk anak buah yang tidak berguna. Pria muda yang terjatuh tadi bangkit, memberi anggukan pada ketuanya seolah mengatakan bahwa baik-baik saja. Ia memang tidak memiliki fisik yang kuat, bahkan baru direkrut beberapa hari yang lalu. Alasan ketua mencarinya adalah membantunya untuk mengungkap orang yang meretas video CCTV jalanan yang menangkap kecelakaan Atha kemarin. Tapi sayangnya, ia tidak bisa menemukannya. Orang itu hebat sekali, sebelum melakukan peretasan dia melakukan sesuatu sehingga saat dilacak keberadaannya, orang itu muncul dimana-mana. Bahkan di luar negeri. Satu-satunya hal yang membuatnya mau berkerja karena penasaran dengan orang itu dan pekerjaan lainnya—itu pun sudah selesai. Akhirnya pun ia dipecat dengan bonus pukulan di perut. Kembali ke Eshan yang kini tengah pusing karena berita Atha telah putus dengan tunangannya akibat wanita itu berselingkuh tersebar di dunia maya. Beritanya begitu cepat mengingat darimana Atha berasal yaitu keluarga Kalingga yang terhormat. Banyak yang menghasihani anaknya dan ada juga yang beranggapan buruk tentang Atha yang tidak bisa menilai seorang perempuan. Hal itu tentu berimbas pada keluarga Kalingga. “Bos, kamu sudah melakukan yang kami bisa. Kami telah menyuap orang-orang yang berada disana agar tutup mulut dan mau menghapus videonya.” “Lalu bagaimana tentang video yang tersebar itu? Apa orang yang kalian suap itu ada yang berani membocorkannya?” tanya Eshan marah. “Berani sekali dia berhadapan dengan keluarga Kalingga.” “Bukan, Bos. Video itu sepertinya direkam dari dalam apartemen, saat anak buah kami menggeledah apartemen, kami tidak menemukan apapun.” “Apa maksud kalian ada seseorang yang sudah tahu lebih dulu jika artis itu berselingkuh dari Atha dan mempersiapkannya?” tanya Eshan yang mendapat anggukan dari anak buahnya. Tapi siapa orang itu? Eshan saja yang sudah memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi perempuan itu kemana-kemana, tidak tahu bahwa si artis ini berselingkuh.  Orang ini pasti sangat pintar dan tahu semuanya tentang keluarga Kalingga. Apa ini ulah putra sulungnya? Atau orang ini adalah orang yang sama dengan orang yang meretas CCTV jalanan dan menyebarkannya? “Apa kalian masih belum bisa mencari orang yang meretas CCTV itu?” tanya Eshan. “Belum, bos.” Esha mengangguk. “Kalian keluar, cari siapa orang itu dan orang yang telah meletakan kemara itu!” “Bos, bagaimana dengan artis dan selingkuhannya itu?” tanya pemimpin anak buah itu membuat Eshan menyunggingkannya senyum iblisnya. “Lakukan seperti biasa tapi jangan sekarang, tunggu berita ini merada. Buat mereka mati seperti kecelakaan dan tidak yang tahu bahwa sebenarnya dibunuh.” Eshan menatap anak buahnya dengan ekpresi senang. “Mereka berani macam-macam dengan anggota keluarga Kalingga, maka harus siap menerima kematian.” ——— Seorang laki-laki muda dengan gaya santai memasuki sebuah restoran cepat saji sambil memegangi perutnya yang masih sedikit perih. Tidak disangka bahwa pria paruh baya itu bisa memukulnya dengan begitu kuat. Atau karena ia yang tidak pernah berlatih bela diri hingga terlalu lemah. Entalah, Abi tidak suka terlalu banyak bergerak. Kesehariannya hanya berada di depan komputer. “Apa yang dilakukan pria tua itu?” tanya seorang pria pada Abi. “Ayah lo mukul perut gue, kencang banget, Kak!” sungut Abi menarik kursi yang ada di meja Aulian. Lalu duduk disana dengan ekpresi masih meringgis.  “Kameranya?” tanya Aulian. Abi mengangguk, mengeluarkan sebuah kamera kecil yang sedari tadi ia sembunyikan. Benda ini yang diambil saat bersama anak buah Eshan menggeledah apartemen. Untung si ketua itu membiarkan Abi lebih dulu masuk dan bisa dengan cepat mengambilnya karena Aulian yang memberi tahu tempatnya. Benar sekali, otak dari ide kamera cctv yang dipasang tersembunyi itu adalah Aulian. Pria yang lebih dewasa itu tersenyum, mengambil kamera itu untuk dihacurkan. Sebenarnya, Aulian bisa saja membiarkan anak buah Eshan untuk menemukannya karena video yang ia ingin sudah didapat. Tapi, tetap saja ia takut sang Ayah menggunakan seluruh koneksinya agar bisa mencari siapa dalang dibaliknya. “Oh, iya, gue dipecat,” kata Abi memberi tahu, ia tidak bisa lagi membantu Aulian untuk mencari infomasi dari Eshan. “Enggak papa, lo mau pesan apa?” tanya Andaru menatap ke arah pemuda 15 tahun yang ada di depannya. “Lo punya duit? Bukannya lo jadi gembel?” tanya Abi yang tahu bahwa Eshan menyuruh anak buahnya untuk menjebak Aulian. Sayangnya ia tidak bisa memberi tahu pria itu karena takut membuat yang lain curiga. “Jadi benar-benar si Eshan,” decak Aulian tapi karena hal itu sudah terjadi dan ia sudah membalasnya. Untuk apa dipikirkan lagi? “Nih sisa duit gue, gue habis morotin Andaru.” “Sebelum lo mesan, hal yang gue minta mana?” tanya Aulian. Abi berdecak, ia lalu membuka ponselnya dan mengirimkan sesuatu pada Aulian. Barulah ia bisa melangkah dengan senang untuk memasan makanan. Aulian yang tidak sabaran segera membuka ponselnya. Matanya fokus membaca dan melihat beberapa foto serta video yang diberikan oleh Abi, hasil remaja itu setelah bekerja beberapa hari menjadi anak buah Eshan. “Sabrina Azahra anak dari Sapto yang meninggalkan karena kecelakaan...” Aulian kembali membacanya dan menemukan sebuah fakta yang membuatnya begitu terkejut. Tanpa mengatakan apapun lagi, Aulian bangkit dari tempat duduknya. Dia berpamitan dengan Abi yang baru datang membawa nampan berisi ayam goreng, kentang dan segelas soda. Tak butuh waktu lama, Aulian akhirnya sampai di rumah Andaru. Ia melirik Sabrina dan Bi Lela yang sedang di dapur lalu dengan bergegas naik ke lantai atas untuk mencari Andaru di ruang kerjanya. “Lo dari mana?” tanya Andaru mendongak dari layar komputer, menatap Aulian yang seperti baru saja melihat setan. Nampak terkejut. Aulian langsung menyerahkan ponselnya pada Andaru yang ditatap bingung oleh pria itu namun karena sekilas membaca nama isterinya. Andaru mengambilnya, perlahan laki-laki itu terlihat menahan nafasnya ketika membacanya. Andaru lalu mengambilkan ponsel itu pada Aulian dan kemudian tidak bereaksi apapun.  “Jangan bilang kalo lo udah tahu?” tanya Aulian yang mendapat anggukan Andaru. “What the hell! Lo tahu kalo pria itu mau ngebunuh lo dan lo tetap nikahin anaknya?” tanya Aulian tak percaya, pria itu tidak habis pikir dengan jalan Andaru. “Lo ngapain cari tahu tentang ini?” tanya Andaru pada Aulian. Lelaki itu mendengus, awalnya ia hanya penasaran ingin mencari tahu tentang Sabrina yang merupakan isteri Andaru. Gadis itu ternyata sebatang kara sekarang dan ayahnya beberapa minggu yang lalu baru meninggal.  Aulian sebenarnya hendak berhenti namun Abi yang menyelidiki ini menemukan bahwa Ayah Sabrina bukan meninggal karena kecelakaan namun racun yang lebih dulu merenggut nyawanya saat sedang membawa penumpang dan penumpang yang hampir ikut tewas itu ternyata adalah Andaru. Hasil dari penyelidikian Abi juga mengatakan bahwa Sapto, sebelum merenggang nyawa bertemu dengan anah buah Eshan. Pria itu ternyata menerima uang imbalan jika bisa melenyapkan Andaru yang ternyata tidak berhasil. Pria paruh baya itu akhirnya meninggal karena racun yang diberikan anak buah Eshan agar rahasia ini selalu aman. Aulian mengetahui semuanya namun tidak pada kejadian saat di atas motor. Andaru yakin betul yang menyelamatkannya adalah Sapto. Ia juga masih bingung, kenapa pria paruh baya yang sekarang telah menjadi mertuanya itu menggagalkan rencananya sendiri di detik-detik terakhir. Apa dia sadar apa yang dilakukannya salah? “Lo harus pisah sama Sabrina, Ru,” kata Aulian membuat Andaru terkejut. Jelas di wajahnya tersirat penolakan. “Ayahnya aja udah hampir bunuh lo, apalagi anaknya.” “Gue jadi ragu kalo Sabrina beneran buta dan ternyata selama ini pura-pura baik. Jangan-jangan dia suruhan si Eshan juga?” Andaru yang mendengar itu sontak terdiam. Dia tidak pernah sama sekali berpikir ke arah sana. Pertemuan pertama kalinya dengan Sabrina, Andaru hanya berpikir bahwa gadis itu begitu lemah dengan keadaannya yang tidak bisa melihat. Sabrina sosok yang begitu lembut sekaligus juga rapu hingga membuatnya ingin melindungi Sabrina saat telah sah menjadi isterinya. Tapi bagaimana jika yang dikatakan Aulian benar? Sosok Sabrina yang ada otaknya hanya sebuah karangan dari gadis itu dan suruhan dari Eshan.  Hatinya tiba-tiba menjadi perih jika apa yang dikatakan Aulian benar. Dan, Andaru tidak akan sanggup menahan rasa sakitnya jika Sabrina selama ini membohonginya. BRAK! Pintu kamar tiba-tiba terbuka, menampilkan Sabrina dengan mata yang memerah. Gadis itu lalu masuk dengan meraba-raba tongkatnya. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan seolah tengah mencari sesuatu. “Sabrina ada apa?” tanya Andaru ketika melihat keadaan gadis itu. Apa jangan-jangan dia mendengarkannya? “Sabrina ada apa? Apa yang kamu cari?” tanya Andaru sudah berdiri dan hendak menenangkan gadis itu namun malah ditepisnya. “Lo mau apa?” tanya Aulian membuka suara. Sabrina yang sedari tadi sebenarnya mencari sosok Aulian langsng bergegas menuju ke arah pria itu dan melayangkan tangannya yang sedari tadi ia tahan sampai bergetar karena emosi. PLAK! “Kamu benar-benat jahat, Mas. Bapak enggak mungkin melakukan itu!” seru Sabrina menangis pilu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD