Masalah Baru

1040 Words
"Sejauh apa pun yang ditolak, ia akan tetap di sisinya." *** "Mulai malam ini kalian tidur di kamar berdua. Mama akan tidur di kamar baru," harap Dewi agar Angga menurut ucapannya. Amanda dan Angga dikagetkan dengan kehadiran Dewi yang tiba-tiba. Wanita paruh baya itu tiba-tiba datang di pagi hari, beruntung kantor sedang libur jadi keduanya berada di rumah. Feri melakukan perjalanan bisnis di luar pulau, Dewi memutuskan tinggal dua hari di rumah anaknya, sekaligus berencana membuat mereka semakin dekat. Ada dua kamar di rumah Angga, tetapi yang digunakan hanya satu. Sedangkan satunya dijadikan ruang kerja. "Mama mau kalian tidur di kamar berdua, di atas ranjang yang sama, dan Angga ... buang foto Nessa yang masih disimpan?" Dewi melirik Amanda dengan ekor matanya, pernikahan mereka sudah berjalan lima bulan, tetapi foto Nessa masih melekat rapi di tempatnya. "Mama mau nginap berapa hari di sini?" "Jangan mengalihkan pembicaraan, Angga." "Terserah Mama lah. Aku capek, mau istirahat." Angga melangkah menuju lantai dua dan kabur adalah pilihannya. Sedangkan Amanda, wanita itu tetap harus bersikap baik-baik saja di hadapan ibu mertuanya. "Sabar ya, Nak." Hanya kata itu yang mampu Dewi ucapkan saat ini dan dibalas senyum tipis oleh Amanda. *** "Mana mama?" tanya Angga mencari keberadaan Dewi dan duduk di samping Amanda yang sedang menonton televisi. "Tadi aku bilang aku ketemu teman lama sekaligus menginap di sana. Aku mau pamit sama kamu tapi masih sibuk jadi pamit sama aku." Amanda melirik Angga yang tak seperti biasanya duduk terdiam. Pria itu lebih suka jauh-jauh. Angga diam, menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa dan ikut menikmati tayangan yang Amanda lihat. Namun, saat berikutnya ia mengingat sesuatu, lalu mencondongkan tubuh ke dekat Amanda membuat wanita itu terdiam terpaku. "Aku rasa semalam kamu suka aku, kan?" Angga menatapnya tajam tepat pada netra Amanda. Wanita itu menelan ludahnya dengan susah payah. Dia tahu telah mencuri ciuman laki-laki itu. "Maaf," kata Amanda sambil mengigit bibir bawahnya ketakutan. Jika selama ini tak pernah ketahuan, kenapa semalam malah sebaliknya? Angga masih menatapnya cukup lama dan kini semakin dekat. Amanda memejamkan mata ketika jarak tak lagi berada di antara wajah mereka. Sadar atau tidak, Angga telah memulainya membuat Amanda mengikuti permainan pria itu. Setelah cukup dalam Angga menghentikan semuanya dan berlalu begitu saja setelah membuat Amanda tanpa sadar mengeluarkan desahannya. Angga pergi tanpa sepatah kata pun. Amanda tersadar, mengusap ceruk leher dan dadanya secara bergantian. Sesak itu makin menjadi. Mata air kembali mengalir deras setelah melihat Angga keluar dengan mobilnya, meninggalkan Amanda sendiri yang sedang terluka karena permainan yang telah dimulai oleh pria itu. Amanda masih saja menangis dan dia benar-benar tak percaya kalau dirinya dicampakkan dengan sedemikian hebatnya oleh Angga. Mereka adalah sepasang suami-istri, tetapi hubungan mereka setiap harinya layaknya hanya seorang teman terkadang juga musuh. 'Bunda ... Apa Amanda akan sanggup kalau seperti ini terus? Rasanya Amanda mau menyerah saja," kata Amanda dengan air mata yang mengalir deras. *** Setelah kejadian malam itu Angga tak pulang ke rumah, membuat Amanda cemas dan bingung. Ingin menghubungi lewat gawai, tetapi diurungkan. Bertanya kepada Dewi. Amanda menggeleng kuat, jangan sampai Dewi tahu Angga tidak pulang selama tiga hari. Memikirkan keberadaan Angga membuatnya lebih banyak diam. Hanya bisa menerka yang tidak-tidak dan berharap sang suami baik-baik saja di manapun berada. Amanda menendang batu-batu kecil di depan kakinya. Melampiaskan kekesalan karena Angga belum juga pulang ke rumah. Jujur saja ia merindukan pria itu meski selalu memasang wajah dingin, tetapi tetap tampan. Amanda mendesah pelan, melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan, karena Metromini yang ditunggu belum juga datang. Namun, dia tiba-tiba dikejutkan dengan suara yang amat dia kenali. "Masuk!" Amanda mematung melihat mobil sedan hitam sudah berhenti di depannya, ia bukan terkejut dengan mobilnya melainkan siapa yang duduk di balik kemudi. "Ayo cepat, Amanda!" bentak Angga ketika Amanda masih di tempat. Wanita itu tidak percaya jika kini ia bertemu dengan Angga setelah tiga hari pria itu menghilang. "Ngapain berdiri di situ? Nunggu Metromini lagi?" tanya Angga pada Amanda yang sudah duduk di sampingnya. "Kamu dari mana saja? Aku khawatir, takut terjadi apa-apa," terang Amanda sambil menenundukkan kepala, meremas tangan dalam genggamannya sendiri di atas pangkuan. "Nggak ke mana-mana." Angga tetaplah Angga. Ia akan bersikap dingin kepada Amanda, pria itu seolah lupa dengan kejadian malam itu, ketika ia dan Amanda hampir mereguk manisnya surga dunia berdua. Amanda mendongak, menoleh dan menatap wajah Angga yang selalu berhasil membuatnya jatuh cinta. "Apa semenjijikkan itu ciuman sama aku? Sampai kamu pergi dari rumah tanpa kata." Angga menoleh sebentar lalu kembali fokus dengan kemudi. "Anggap saja itu kecelakaan dan tidak pernah terjadi. Dalam pernikahan ini tidak akan pernah ada adegan seperti yang kamu inginkan, Amanda." Amanda tersenyum kecut, mencoba terlihat baik-baik saja setelah Angga berkata demikian. "Aku khawatir, kamu tidur di mana selama dua malam ini. Aku bahkan nggak bisa tidur karena mikirin kamu. Aku cemas Angga." Angga tergelak. "Siapa yang minta kamu nggak tidur, nggak ada, 'kan. Jadi itu salahmu sendiri." "Aku cuma khawatirin kamu, takut kenapa-napa." "Aku nggak papa dan nggak usah sok perduli juga sama aku." Amanda bungkam dan mengalihkan pandangannya. Hubungan mereka masih sama, sikap Angga pun juga sama. Harapan yang sempat Amanda rasa musnah sudah, hubungan keduanya tak akan pernah membaik. Mungkin, untuk seterusnya. 'Aku masih akan terus bersabar sampai kamu mau menerimaku dengan utuh.' *** Amanda terduduk gusar, karena bingung dengan segala masalah yang ada. Angga yang belum menerima dan masih memikirkan masa lalu dan kini muncul masalah lain. Amanda memejamkan mata supaya pusingnya sedikit mereda. 'Ya Tuhan, harus jawab apa aku? Aku takut bila menolak, persahabatan kami jadi taruhannya, tapi ... Aku mencintai Angga dan tidak akan pernah berpaling darinya.' "Sudah kubilang, kalau mau tidur di kamar jangan di sini!" Amanda membuka mata setelah mendengar protesan dari Angga, dia mendesah pelan dan beranjak menuju kamar. Ia harus meminum aspirin supaya peningnya cepat berlalu. Tanpa Amanda ketahui Angga melihat segalanya, gerak-gerik wanita itu selama seharian ini. Angga menarik napas berat mengingat ucapan Dewi beberapa hari lalu, lalu memijat pangkal hidung cukup kuat dengan hati bimbang. "Andai saja kamu yang menjadi istriku. Mungkin, masalahnya nggak akan serumit ini, kamu di mana Nessa? Kenapa harus pergi." Angga menatap foto Nessa yang kini sudah ia genggam. Foto ketika mereka menghadiri acara bersama. "Cinta dan hati ini masih sama, akan selalu menjadi milikmu, Nessaku," lanjutnya lalu mengusap foto Nessa penuh kerinduan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD