Keesokan hari seperti janji Gerald semalam, ia datang ke rumah untuk menjemputku. Menggunakan kemeja biru bercorak kotak- kotak, ia berdiri di ujung pintu sambil membawa sebuket bunga mawar merah. Ia melihat ke arahku sambil tersenyum, berbeda denga beberapa bulan belakangan yang terlihat lebih cuek dan kasar. Tapi bagaimanapun dia adalah Geraldku yang selalu aku tunggu untul menjadi suamiku.
“Ini bunga buat kamu.” Katanya sambil memberiku sebuket bunga tersebut. Aku mengambilnya dengan perasaan sangat bahagia. Aku menciumnya aroma bunga tersebut yang sangat masih segar untuk di hirup.
“Tumben kamu kasih aku bunga mawar merah?” tanyaku saat menoleh ke arahnya.
“Nggak apa- apa, aku kan mau kelihatan romantis.” Jawabnya yang membuat aku tersenyum bahagia. Sehingga mematahkan beberapa keguanku tentangnya. Aku kembali menghirup aroma bunga tersebut.
“Lagian bunga ini kesukaan kamu kan.” Tambah Gerald yang membuatku kaget. Bukan kaget karena ia mengetahui kesukaanku melainkan ia salah menebak apa yang aku suka. Aku memang suka dengan bunga mawar tapi bukan mawar merah melainkan bunga mawar merah muda.
“Tapi aku..”
“Eh Gerald udah sampai..” ucapku terpotong saat Mama baru saja menghampiri kami berdua. Gerald yang namanya di sebut langsung mencium punggung tangan Mama.
“Kalian nggak mau makan siang di rumah aja dulu?” ajak Mama.
“Nggak tante makasih. Ini mau makan di luar sekalian jalan- jalan kok.” Tolak Gerald lembut.
“Yaudah ya, Ma. Kita berangkat dulu keburu sore nanti.” Pamitku pada Mama sambil mencium punggung tangan beliau, diikuti juga oleh Gerald juga.
“Jangan pulang malam- malam ya.” Tambah Mama lagi sambil melambaikan tangannya.
“Iya, Ma.” Jawabku juga sambil melambaikan tangan.
“Tunggu..” Seru Gerald saat aku ingin membuka pintu mobil.
“Biar aku yang bukain pintunya buat kamu.” Katanya lagi sambil membuka pintu dan mempersilahkan aku masuk.
“Makasih.” Ucapku yang masih kaget dengan perlakuan kecil yang lelaki itu lakukan.
“Benarkah sosok yang sedang bersamaku adalah Gerald yang aku tunggu- tunggu.” Batinku yang merasa semakin bahagia dengan perlakuannya tersebut. Lelaki itu memutar, lalu masuk ke dalam mobil. Ia menoleh ke arahku yang kini mungkin wajahku terlihat memerah layaknya buah tomat yang sudah matang.
“Sudah siap?” tanyanya.
“Udah..” jawabku yang masih melihat wajah tampan lelaki itu. Lelaki itu juga masih menatapku. Perlahan lelaki itu tiba- tiba mendekat ke arahku, hatiku kembali berdetak kencang tak beraturan. Wajah kami kini saling bertemu lebih dekat. Aku menelan salivaku perlahan. Tubuhku juga menjadi panas dingin dibuatnya.
“A... ada apa?” tanyaku. Ia pun menarik seatbelt milikku yang belum terpasang dan memakaikannya padaku. Aku pun membuang nafas lega.
“Bagaimana kita kamu jalan kalau kamu masih lupa pasang seatbelt.” Serunya sambil menjauh dariku dan memasangkan seatbelt miliknya.
“Oh ya wajah kamu kenapa merah gitu? Apa kamu sakit?” Tanyanya lagi yang membuatku salah tingkah.
“Eemm.. nggak kok Cuma kayaknya berasa sangat panas aja ya. Apa Ac-nya udah nyala, Ge?” dustaku agar Gerald tidak sadar tentang apa yang sedang aku pikirkan barusan. Tapi lagi- lagi lelaki itu hanya tersenyum melihat kekonyolanku karena memang Ac di dalam mobil ini baru saja menyala saat ia menyalakan mesin mobilnya. Sedangkan aku yang merasa begitu konyol mengalihkannya dengan memainkan ponsel.
Satu jam kemudian kami sampai di sebuah mall yang berada di bilangan jakarta. Kami memutuskan untuk ke sebuah restoran yang selalu kami datangi. Sesampainya di restoran tersebut kami langsung memesan makanan yang biasanya kami pesan karena sudah lama kami tidak datang untuk mencicipinya. Sambil menunggu makanan mataku menyelusuri setiap sudut tempat ini. Tapi saat bersamaan aku kaget saat tangan Gerald tiba- tiba menggenggam tanganku hingga membuatku menarik tanganku.
“Kenapa, Dis?” tanyanya yang juga kaget.
“Nggak apa- apa, Cuma aku kaget aja kamu tiba- tiba mau megang tangan aku.” Jawabku.
“Bukannya biasanya begini ya?” tanyanya lagi.
“Iya sih Cuma aku masih nggak biasa. Maaf ya.” Jelasku yang memang masih merasa asing dengan setiap sentuhan kecil itu. Walau sentuhan itu tak beda jauh dengan apa yang terjadi di mobil tadi.
“Yaudah nggak apa- apa pokoknya aku tunggu sampai kamu siap.” Serunya lagi sambil tersenyum.
“Oh ya, Ge. Aku boleh tanya sesuatu sama kamu?” tanyaku membuka obrolan diantara kami.
“Iya, ada apa?” Gerald.
“Apa kamu..” aku menghentikan ucapanku saat ada seorang wanita datang mendekat ke arah kami. Wanita itu datang dari arah belakang punggung Gerald jadi aku yang pertama melihatnya. Wanita itu tak lain adalah Marissa, entah dari mana ia tahu kami sedang berada di sini. Tunggu? Atau jangan- jangan? Aku menatap sinis ke arah Gerald yang sedang menunggu kalimat selanjutnya. Tatapanku barusan membuatnya terlihat bingung.
“Dasar cewek perebut pacar orang!!” teriak Marissa yang sudah sampai di meja kami. Perebut pacar orang? Apa aku tidak salah dengar? Aku tersenyum ke arahnya. Aku berdiri untuk saling berhadapan dengan wanita itu.
“Apa kamu bilang perebut pacar orang?” tanyaku yang tak mau kalah darinya. Jelas- jelas posisiku tidak salah, melainkan wanita ini yang membuat dirinya malu dihadapan banyak orang.
“Kamu apa- apaan sih, Ris?” tanya Gerald yang ikut bangun dari tempat duduknya.
“Kamu tuh, kenapa malah sama dia sih?” tanya wanita itu yang terlihat sangat marah.
“Kam lupa ya? Kita udah putus, udah lama. Dan Gladis ini tunangan sekaligus calon istri aku.” Jelas Gerald yang membuat orang di sekitar kami tadi sempat menghujatku kini berbalik kepada Marissa. Walau terdengar berbisik tapi aku mendengarnya sangat jelas.
“Tapi, Ge..” lirih wanita itu.
“Sekarang lebih baik kamu pergi daripada aku panggil security.” Kata Gerald yang terlihat tegas mengusir wanita itu. Membuat tembok keraguan diantara aku dan dirinya kini hancur. Aku pun percaya kini Geraldku sudah kembali menjadi lelaki yang selama ini pernah menjadi milikku.
“Gee...” panggil wanita itu lagi dengan suara memelas.
“Pergi!!” usir Gerald lagi dan kini wanita itu benar- benar pergi ditarik beberapa karyawan restoran tersebut. Lelaki itu terlihat sangat marah bercampur malu. Aku kembali mengajakknya untuk kembali duduk. Tak lupa juga aku meminta maaf kepada semua yang menyaksikan kejadian tadi.
“Lebih baik kamu minum dulu.” Kataku sambil memberi segelas air putih yang memang sudah disiapkan diatas meja. Ia mengambil segelas air putih tersebut, dan menengaknya hingga habis. Saat lelaki itu menunduk dan membuang nafasnya, aku menggenggam tangannya sambil tersenyum.
“Apa kamu mau kita pindah tempat aja?” tanyanya yang terlihat merasa bersalah. Aku menggeleng.
“Jangan disini aja ya, aku udah laper banget soalnya.” Jawabku santai.
“Tapi daripada kamu nggak nyaman.” Tambahnya. Bersamaan dengan itu makanan yang kami pesan sudah datang. Aku melepaskan genggaman tanganku saat pramusaji meletakkan beberapa makanan diantara kami.
“Selama ada kamu aku nyaman kok.” Ledekku padanya yang membuat garis wajahnya berubah menjadi senyuman.
“Kamu lagi gombalin aku ya? Malu tahu sama Mbaknya.” Kata Gerald yang membuat sang pramusaji tadi juga tersenyum. Kini aku percaya kalau seseorang yang berada dihadapanku ini adalah kekasihku. Walau hati kecilku masih saja berkata dia bukan seseorang yang aku tunggu dan aku cari.