Sebuah Awal Baru

1048 Words
Esok hari aku dan Tania memutuskan untuk menuju lokasi Cafe yang tak jauh dari Villa. Sekitar lima belas menit kami sudah sampai menggunakan mobil. Kami juga sudah janjian dengan Bu Sonya yang menawarkan tempat tersebut. Letak calon Cafe baru kami cukup strategis di pinggir jalan dan tak jauh dari pantai. Cafe kami juga bersebelahan dengan beberapa jajaran restoran ternama di Jakarta dan di luar negeri seperti tantangan tersendiri untuk kami nantinya. Cafe ini juga terlihat lebih luas dan tinggi karena ia memiliki tiga lantai dan terdapat ruangan outdoor serta sebuah rooftop. Aku dan Tania tersenyum takjub dengan tempat ini, saat kami mengelilingi setiap sudut tempat ini. Seperti tempatnya yang sangat indah dan megah harga tempat ini pun juga cukup menguras isi tabunganku dan Tania. Kami pun terus berusaha bernegosiasi hingga menemukan kata setuju untuk kedua belah pihak. “Dis, pokoknya harus balik modal nih kita buat tempat ini.” Seru Tania saat kami sedang menikmati pemandangan di atas rooftop. “Bismillah aja ya, Tan. Semoga usaha tidak menghianati hasil ya.” Seruku saling menyemangati satu sama lain di antara aku dan Tania. “Oh ya, aku turun ke bawah buat ketemu Bu Sonya sekaligus selesaikan pembayaran tempat ini.” Pamit Tania sambil menepuk bahuku. “Siap, aku di sini dulu nanti nyusul turun soalnya aku mau foto- foto beberapa tempat buat mail ke Vendor kita nanti.” Tambahku yang di jawab anggukan olehnya. Tania pun pergi meninggalkanku. Seperti kataku pada Tania tadi, aku mulai mengambil gambar setiap sudut tempat di rooftop ini, agar setiap sudut di tempat ini bisa terpakai dengan baik. Tempat ini sebenarnya tak banyak yang harus di ubah, hanya sekitar tiga puluh sampai dua puluh persen yang harus di rapikan sedikit. Tapi saat aku mau menuruni tangan ke lantai dua. Aku mendapati sebuah nomor asing menghubungiku. Aku pun menjawab panggilan tersebut dengan menggeser sedikit layar ponselku dan meletakkannya di telingaku. “Hallo...” seruku pada seseorang yang belum aku ketahui identitasnya di sana. “Hallo juga Bu Gladis, selamat siang..” ucap seseorang yang sepertinya suaranya tak asing untukku. “Ini Pak Arya?” tanyaku untuk meyakinkan. “Iya, Bu. Ini saya Arya.” “Oh iya, Arya ada apa?” “Heem Nggak ada apa- apa, Bu saya Cuma mau tahu gimana perkembangan di sana? Soalnya..” suaranya terdengar sedikit ragu untuk meneruskan perkataannya yang membuatku sangat khawatir. Apakah ada masalah dengan Cafe? “Bercanda, Bu.. Haha.” “Nggak lucu Arya!!” ucapku kesal padanya saat aku sudah merasa sangat khawatir. “Maaf, Bu. Tapi sebenarnya memang ada yang harus diurus langsung sama ibu Tania.” Sela Arya. “Oh soal apa? Kenapa kamu nggak telefon Tania langsung?” tanyaku padanya. “Soal kerja sama dengan salah satu ojek online, Bu. Dan kemarin sempat ada sedikit problem, Bu. Saya mau menghubungi Bu Tania tapi ponselnya sepertinya mati, Bu.” Katanya yang berusaha menjelaskan. “Oke, kalau begitu nanti saya sampaikan tapi problem di Cafe masih bisa di handle sampai Tania pulang ke Jakarta?” tanyaku untuk meyakinkan. “Masih, Bu.” “Heem ya udah, nanti aku kasih tahu Tania dulu ya.” Seruku lagi lalu memutuskan komunikasi di antara kami. Aku segera berjalan menuruni setiap anak tangga, untuk segera menemui Tania yang berada dilantai dua. Saat dilantai dua, Tania terlihat baru menyelesaikan urusannya dengan beberapa notaris serta pemilik Cafe. Terlihat mereka sedang saling berjabat tangan sambil tersenyum. Aku menghampiri mereka dan ikut bersalaman. Setelah mengobrol sebentar, aku dan Tania mengantar mereka semua menuju pintu utama untuk mengantarkan mereka keluar. Lalu setelahnya kami berdua masuk ke dalam. “Tan, ponsel kamu mati?” tanyaku kepadanya. Ia pun langsung merogoh tas kecil berwarna merah tersebut. Tangannya lihai mencari kesana- kemari dan akhirnya menemukan ponselnya yang telah mati total itu. “Eh iya mati, Dis. Kita di sini sebentar ya buat Charger ponsel aku.” Pintanya sambil mengeluarkan Charger ponselnya. “Oke, aku juga belum selesai sebenarnya, tapi tadi Arya telefon kalau ada sedikit problem di Cafe dan soal kerja sama sama salah satu ojek online.” “Aduh aku lupa, Dis.” Serunya sambil menepuk dahinya. Sepertinya gadis itu baru teringat sesuatu. “Kenapa?” “Iya harusnya hari ini aku ketemu sama salah satu pihak ojek online buat kerja sama tapi aku juga lupa buat reschdule ketemu mereka, pikun banget sih aku!!” katanya yang merasa bersalah atas keteledorannya. “Ya, udah nggak apa- apa. Nanti kalau ponsel kamu udah nyala kamu coba hubungin Arya sama pihak terkait, minta maaf sama mereka bilang aja kamu lupa dan ada keperluan mendadak.” Jelasku yang berusaha menenangkannya. “Iya, Dis.” “Ya udah, aku ke atas dulu ya belum selesai nih fotonya.” Pamitku saat Tania terlihat sudah membaik. “Tunggu, Dis.” “Kenapa?” “Bawa laptop sama modem nggak?” tanyanya cepat. “Bawa. Mau buat apa?” “Aku mau liat laporan penjualan kemarin. Sama mau email Hrd buat Sdm kita di sini.” “Oh oke bentar.” Aku melepaskan tas ranselku yang sudah berisi laptop dan beberapa barang lain. “Nih, passwordnya tanggal lahir aku ya.” Kataku sambil memberi laptop beserta modem yang di mintanya. Aku pun kembali melanjutkan kegiatanku di lantai dua. Sementara Tania juga melanjutkan tugasnya di lantai satu. Setelah seharian aku dan Tania mengerjakan urusan Cafe serta sempat berjalan- jalan sebentar akhirnya kami pulang untuk mandi dan makan malam. “Dis, besok pagi aku pulang ke Jakarta kamu nggak apa- apa?” tanya Tania meyakini saat kamu tengah bersantai sambil menonton Televisi di ruang tengah. “Nggak apa- apa kok, kamu handle aja urusan di Jakarta, Aku handle yang di sini dulu. Lagian emang susah sih kalau kita berdua ada di sini harus ada salah satu yang mengalah.” Ucapku sambil menikmati beberapa camilan. “Oh ya gimana kalau Arya yang temani kamu di sini.” Usulnya yang masih khawatir aku akan keteteran di sini. “Heem..” aku terdiam sejenak memikirkan usul Tania tadi untuk menimbang- nimbang baik buruknya. “Tapi kamu sama Sinta gimana? Kalau libur jadi ada yang full shift dong?” tanyaku. “Kamu tenang aja, aku tadi ada kabar dari Hrd kalau kita dapat Sdm untuk calon spv dan sebagian karyawan buat di sini. Cuma ya belajar dulu buat di Cafe utama kita dulu. Daripada di sana kebanyakan orang nantinya.” Katanya menjelaskan. “Oke sih, tapi jangan langsung suruh Arya kesini. Tunggu sampai beberapa waktu sampai benar- benar mampu baru deh kamu kirim Arya kesini, lagian kan kita baru mulai dikit- dikit masih ada yang di benahi juga beberapa sudut sama vendor kan.” Ia pun mengangguk setuju dengan penjelasanku. setelah kami selesai dengan saling bertukar pendapat satu sama lain. malam pun kami tutup dengan beristirahat karena besok pagi aku akan ikut mengantar Tania ke bandara untuk pulang ke Jakarta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD