"Eomma Eunkyung berangkat sekolah dulu ya,"
"Ne (Iya), sekalian Kamu antar ayam goreng ini ke kantin sekolah ya,"
"Siap Eomma. Yasudah kalau begitu Aku berangkat dulu,"
Eunkyung berangkat ke sekolah dengan menggunakan sepeda kesayangannya. Setelah sampai di sekolah dan memakirkan sepedanya, Gadis itu langsung menuju kantin terlebih dulu menitipkan ayam goreng untuk dijual. setelah selesai barulah Ia berjalan menuju kelasnya. Namun tiba-tiba ia terjatuh saat ada seseorang yang sengaja menjegalnya.
"Awwww," rintih Eunkyung ketika lututnya mengenai lantai dan sedikit berdarah.
"Lihat deh si tukang ayam masih punya muka ternyata buat masuk sekolah," ujar seseorang yang menjegalnya tadi membuat semua yang berada disana tertawa.
"Yak Sinhye !! Apa salahku? Kenapa Kamu tidak pernah bosan setiap hari membully ku?!!" bentak Eunkyung setelah beranjak berdiri.
Sinhye nampak tersenyum sinis menanggapi ucapan Eunkyung itu "Sudah berani sekarang membentak ku ?! Memang nya Kamu siapa berani membentakku ha?!! Ingat, Kamu itu hanya anak tukang ayam jadi tidak usah banyak bertingkah !!" Eunkyung diam menunduk, bahkan Ia tidak berani melawan Sinhye. bukannya tidak berani, Hanya saja Eunkyung Lelah meladeninya dan Ia juga tidak bisa berbuat apa-apa karena ayah Sinhye adalah kepala sekolah disini.
Sinhye manaikan dagu Eunkyung agar melihatnya "sama satu lagi, Aku tidak akan berhenti membully mu sampai Kamu pergi dari sekolah ini!!" ucap nya tajam lalu pergi.
Eunkyung berlari sekencang mungkin menuju atap sekolah sambil menangis "aarrgggghh kenapa dunia sekejam ini?!! Apa salah karena aku hanya anak seorang tukang ayam ?!! Jika di suruh memilih, Aku juga tidak akan mau hidup seperti ini hiks appa (Ayah) Eunkyung kangen. andai appa masih hidup pasti hidup Eunkyung tak akan seperti ini hiks,"
"Cengeng," ucap seseorang yang tiba tiba datang dibelakang Eunkyung.
"Juno?"
Juno adalah satu-satu nya sahabat Eunkyung. mereka berteman sejak kecil karena keluarga Juno dan Eunkyung sangat dekat Apalagi dulunya kedua ayah mereka bekerja sama. Dulu Eunkyung adalah anak orang kaya, tapi suatu saat perusahaan appanya (Ayahnya) mengalami bangkrut karena tertipu habis-habisan dan mengakibatkan appanya terkena serangan jantung lalu meninggal.
Karena terlalu banyak hutang, eomma Eunkyung pun terpaksa menjual semua harta yang mereka miliki. sisa uang hasil jual rumah dan lain-lain mereka gunakan untuk membeli rumah yang sederhana dan untuk modal kedai ayam goreng.
"Sampai kapan kamu diam terus ketika Sinhye cs membully mu ?" tanya Juno yang sudah berdiri disebelah Eunkyung.
"Aku hanya takut bermasalah dengan kepala sekolah," balas Eunkyung menunduk lesu.
Juno menghela nafasnya "kamu sekolah disini bayar, jadi kamu juga punya hak untuk melawan. Toh kamu juga tidak salah jadi untuk apa Kamu takut?"
Eunkyung sedikit memutar bola matanya malas mendengar nasehat temannya ini "Cih terus apa kabar denganmu ? Memangnya Kamu berani ? Selama ini saja Kamu tidak pernah membelaku Saat mereka membullyku,"
"Aku tidak membantumu karena Aku tahu kamu gadis yang kuat. Aku yakin Kamu pasti bisa menghadapi mereka sendiri. Aku hanya mau kamu mandiri karena tidak selamanya Aku akan berada disampingmu," ucap Juno kemudian melangkahkan kakinya pergi begitu saja.
Eunkyung tampak sedang mencerna kata kata yang Juno ucapkan tadi "Benar juga, Aku tidak boleh lemah. Aku harus melawan Sinhye dan teman-temannya jika mereka membully ku!!" ucap nya menyemangati dirinya sendiri.
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
Setelah mengambil uang hasil ayam goreng di kantin, Eunkyung berjalan menuju parkiran untuk mengambil sepedanya. Tapi setelah sampai parkiran Eunkyung tak melihat sepedanya ada disana. "kemana sepedaku?" gumamnya bingung mencari sepedanya kesana kemari tapi tidak kunjung ketemu. Tiba-tiba ada seorang gadis yang menepuk bahunya ."Kamu Eunkyung kan?" tanya nya, Eunkyung mengangguk.
"Kamu lagi nyari sepeda ? Sepeda mu ada di taman sekolah," ucap gadis itu lalu pergi.
Eunkyung berlari kencang menuju taman sekolah, betapa terkejutnya dia melihat sepedanya berada menggantung di atas pohon. "Yak siapa yang menaruh sepedaku di atas pohon?" teriak Eunkyung kesal.
Tidak lama kemudian sebuah lemparan air dan terpung terlempar mengenainya, dilanjut suara tawaan banyak orang.
"Bagaimana rasanya Park Eunkyung ?" tanya Sinhye yang menjadi salah satu pelaku pelemparan itu.
"Haha lihat, Dia sudah seperti ayam goreng tepung," Ucap Eunbin pada teman disebelahnya.
"Sudah cocok kan dengan Ayam tepung jualannya," Lanjut teman Sinhye yang bernama Sojung.
Cukup, Eunkyung mulai tidak kuat dengan semua nya. Dia tidak kuat harus di bully setiap hari. Dia bener-benar muak dengan semua ini. Sambil menghapus air matanya nya kasar yang sudah mengalir sedari tadi, Eunkyung mendongak dan berjalan menghampiri Sinhye dengan tatapan tajam membuat beberapa teman teman Sinhye sedikit ketakutan. Sinhye pun juga sedikit takut tapi dia berusaha menutupi ketakutannya itu. Eunkyung terus mendekat kearah nya kemudian melayangkan tamparannya.
Satu tamparan berhasil Eunkyung daratkan di pipi mulus Sinhye. Sinhye mengelus pipinya yang perih "Kamu? Kamu berani menamparku?" teriak nya sambil menunjuk didepan wajah Eunkyung.
"Ne (Iya) wae (Kenapa) ? Kamu kaget Aku bisa melawan ?" tanya Eunkyung dengan tatapan yang semakin tajam.
"Beraninya Kamu!!" Sinhye langsung menjambak rambut Eunkyung, Eunkyung pun juga tak mau kalah, Dia membalas menjambak rambut Sinhye. Teman-teman Sinhye tidak ada yang berani melerainya sedangkan Juno yang juga berada disana hanya diam sambil tersenyum senang melihat keberanian Eunkyung.
"Eunkyung Eunkyung,"
"Singet Sinhye,"
"Ayo Eunkyung,"
"Sinhye ayo,"
Itulah sorak sorakan dari teman teman seisi sekolah yang melihat adegan saling jambak Eunkyung dan Sinhye. Saat Juno ingin Menolong sahabatnya itu , langkah nya terhenti oleh seseorang yang menahannya "mau kemana ? Sudah disini saja nanti Kamu kena masalah juga," ucap orang itu yang bernama Chaeyoung. Chaeyoung adalah kekasih Juno. Sejak awal gadis itu juga tidak menyukai Eunkyung. Selama ini dia berpura-pura baik pada Eunkyung hanya karena Juno.
"Eunkyung Sinhye stop!!!" teriak seorang Pria paruh baya yang tak lain adalah appa Sinhye, kepala sekolah.
Mereka berdua pun menghentikan aktifitasnya. "Ikut saya ke kantor!!" perintah kepala sekolah.
,,,,,,,,,,,,,,,,
Suara gebrakan meja terdengar begitu keras diruang kepala sekolah.
"benar benar memalukan !! Apa yang kalian lakukan?!!" bentak kepala sekolah yang baru saja menggebrak mejanya.
"Appa (Ayah) dia yang menamparku duluan," rengek Sinhye dengan pura pura kesakitan.
"Apa benar Park Eunkyung?"
Eunkyung mengangguk.
"Saya melalukan itu karena_____"
"Apa kamu tidak malu melakukan itu ? Kamu tidak sadar siapa yang kamu tampar ? Dia anak dari kepala sekolah. benar- benar mengecewakan!. Kamu juga sudah lebih dari 3bln tidak membayar tunggakan uang sekolah dan sekarang kamu membuat kekacauan. Dengan terpaksa kamu saya keluarkan dari sekolah ini!!" ucap kepala sekolah menotong ucapan Eunkyung.
Eunkyung kaget membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang ia dengar "bagaimana bisa Anda mengeluarkan saya begitu saja ?" tanya Eunkyung kesal.
"Saya kepala sekolah disini dan saya berhak mengeluarkan siapapun yang melanggar aturan sekolah,"
"Tapi saya melakukan itu semua karena anak Anda yang memulainya duluan " bela Eunkyung.
"Kamu mau berbohong ? Bahkan seluruh siswa bilang kamu yang memulainya duluan. Sudah, saya tidak ada waktu mengurus masalah ini. Ini surat pengeluaran kamu dari sekolah," kepala sekolah memberikan selembar surat tanda jima Eunkyung di keluarin dari sekolah.
Eunkyung menangis, Sinhye yang melihat itupun tersenyum senang "Bye bye Park Eunkyung yang malang,"
Appa (Ayah) Sinhye memang seseorang yang tidak adil, dia bahkan bukan kepala sekolah yang baik. Beberapa kali dia juga melakukan korupsi tapi tak ada satupun yang tahu.
,,,,,,,,,,,,,,,,
Eunkyung berjalan menuju taman untuk mengambil sepedanya, disana sudah ada Juno yang berhasil menurunkan sepeda nya dari atas pohon.
"Kyung, Kamu gapapa?" Tanya Juno khawatir.
Eunkyung mengangguk lalu menuntun sepedanya pergi dari sekolahan itu. Juno tidak bisa mengejarnya karena dicegah Chaeyoung.
Eunkyung terus berjalan menuntun sepeda nya melewati trotoar dengan keadaan seragam yang acak acakan, bahkan ada beberapa orang yang berlalu lalang disana menatap nya seolah Eunkyung adalah orang gila. sampai dia tiba di sungai han, ia duduk disalah satu kursi yang ada disana.
Dia menunduk menangis memandang surat drop out ditangannya "Bagaimana Aku mengatakan nya pada Eomma," Lirihnya sambil menangis.
Tiba tiba ada sebuah kaleng yang terlempar mengenai kepala Eunkyung, Eunkyung merintih kesakitan memegang kepalanya sambil mengedarkan pandangannya mencari siapa yang melemparkan kaleng bekas itu.
Ia melihat seorang Pria berdiri tidak jauh darinya menggukan hoddy. Eunkyung yakin kalau dia lah yang melempar kaleng bekas tadi Hingga mengenainya, Karena disana sepi tidak ada orang selain mereka berdua. Eunkyung berjalan menghampiri Pria itu Kemudian melempar kaleng itu tepat di kepala nya.
"Yak Apa yang kamu lakukan?" Teriak Pria itu marah.
"Seharusnya Aku yang tanya, ngapain Kamu lempar kaleng ini ? Kamu tidak tahu kaleng tadi mengenai kepalaku!!" bentak Eunkyung.
"Siapa suruh duduk disana. Kalau Kamu kena ya bukan salahku," Balas Pria itu sambil membuka topi hoddynya
Eunkyung kaget melihat Wajah Pria itu, begitu juga sebaliknya.
"Kamu?!" ucap mereka bersamaan.
=Flashback on=
"Apa perjodohan ? Aku tidak mau!"
"Mau tidak mau Kamu harus mau menerima perjodohan ini!"
Jaehyun menjalankan mobilnya kencang karena kesal dengan apa yang appa nya katakan padanya tadi. Dia berhenti di mini market yang ada di dekat sungai han. setelah membeli sekaleng minuman bersoda, Jaehyun berjalan lesu di pinggiran sungai han. Dia mengacak rambutnya frustasi lalu melemparkan kaleng bekas minumannya yang sudah habis hingga mengenai seseorang yang sedang duduk tidak jauh dari nya.
=Flashback off=
"Kamu lagi Kamu lagi. Kamu mengikutiku?" Tanya Jaehyun.
"Mengikutimu ? Pede sekali Kamu. yang kesini lebih dulu itu Aku. Dasar Pria aneh, sombong dan keras kepala!!" ketus Eunkyung.
Jaehyun terlihat kesal mendengar ucapan Eunkyung. Saat ingin membalas ucapan Gadis itu, Eunkyumg sudah lebih dulu pergi meninggalkannya.
"Dasar Gadis gila," umpat Jaehyun melihat penampilan Eunkyung yang terlihat acak-acakan.
,,,,,,,,,,,,,,,,,,,
"Eunkyung pulang," Eunkyung membuka pintu rumah nya pelan.
"Kenapa baru pulang? Eh ada apa dengan seragam mu? Kenapa sangat kotor?" Tanya Eommanya yang kini berdiri didepannya.
Seketika Eunkyung terdiam bingung memikirkan apa yang harus dia katanya pada eomma nya, tentang ia yang sudah di keluarkan dari sekolah. "Eunkyung, Kenapa malah diam disitu. Ayo masuk mandi lalu makan," Sahut sang eomma membuyarkan lamunan gadis itu.
"Ne eomma, Aku kekamar dulu ya,"
Eunkyung langsung berjalan kekamarnya.
Setelah selesai bersih bersih dan mandi , Gadis itu menemui eomma nya di ruang makan ."Eomma,"
"Sudah selesai mandi ? Ayo sini makan,"
Seketika Eunkyung berlari memeluk eommanya "eomma Miane, Jeongmal Miane (Ibu maaf, Aku benar-benar minta maaf)," Ucap Eunkyung menangis dipelukan eommanya itu.
Eomma Eunkyung terlihat terkejut dengan sikap anaknya itu "Sayang kamu kenapa? Kenapa tiba-tiba minta maaf?" tanya nya sambil mengelus puncuk rambut Eunkyung.
Eunkyung melepas pelukannya lalu memberikan selember surat yang menyatakan dirinya di keluarkan dari sekolah pada eommanya. Eomma nya kaget setelah membaca isi kertas itu. Eunkyung menunduk takut sambil menangis "Miane Eomma, Maafin Aku,"
"Jelaskan kenapa Kamu bisa dikeluarkan dari sekolah?"
Eunkyung pun menceritakan semuanya ke eommanya. Tentang dirinya yang sering dibully, tentang perkelahiannya dengan Sinhye tadi dan tentang dirinya yang sudah 3bln tidak membayar tunggakan sekolah. Mendengar hal itu sang eomma langsung memeluknya sambil menangis. "Maafin Eomma, Sayang. Maaf Eomma tidak bisa menjadi ibu yang baik. Ini salah eomma,"
"Aniyo eomma (Tidak, Bu). eomma tidak salah. ini salah Eunkyung. Eomma sudah menjadi ibu yang baik kok buat Eunkyung hiks,"
"Nanti kita cari sekolah yang baru untukmu. Kamu tidak perlu menangis, Eomma akan selalu disampingku,"
Eunkyung mengangguk sambil mengeratkan pelukannya.
"Maafin eomma,Kyung. eomma Tidak bisa menjadi ibu yang baik untukmu," batin eomma Eunkyung.