FAKTA MASA LALU

1000 Words
''A~Allena!'' Mama yang sedang berada di pelukan Papa terlihat terkejut saat melihatku berdiri di daun pintu.   Perlahan aku mulai berjalan mendekati mereka. ''Pa, Allena ingin tahu semuanya sekarang,'' ucapku kemudian saat sudah berada di hadapan dua orang yang paling kusayangi ini.   ''Sayang, tidak ada yang …''   ''Ma, Allena ingin tahu juga semuanya. Kenapa Semua orang tiba-tiba berubah menjauh dan takut melihat Allena, kenapa Papa mengatakan  Allena tidak boleh menyentuh siapapun lagi sekarang, tentang ancaman Xavier yang tadi Papa katakan, maupun tentang simbol kutukan ini. Tolong jangan bersikap seperti ini, tolong jangan berubah, Allena hanya ingin semuanya bahagia seperti dulu, tolong …'' potongku cepat sambil terisak melihat Mama. Aku benar-benar sudah tidak tahan menahan perasaan ini sekarang.   ''Sayang, maafkan Mama. Semua ini memang kesalahan Mama, Mama yang sudah memaksa Papa untuk meminta pertolongan Xavier dahulu, Mama tidak tahu kalau akibatnya akan sesulit ini sekarang.''  Kali ini yang Mama terisak sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan di hadapanku.   Rasa sakit yang kurasakan seketika bertambah saat melihat Mama seperti ini, ingin rasanya aku memeluk Mama dan mengatakan kalau semua ini pasti bukan sepenuhnya kesalahannya. Namun, bayangan ucapan Papa tentang kutukan itu membuatku hanya bisa terdiam tanpa melakukan apapaun sekarang.   ''Pa, Allena hanya ingin tahu semuanya.''   Papa melihatku dengan tatapan yang  sangat sulit dijelaskan, kemudian  menuntun Mama untuk duduk di sofa di samping meja kerjanya. ''Allena, duduklah. Papa akan menceritakan semuanya  padamu sekarang, '' ucapnya kemudian.   Aku mengangguk, lalu duduk di sofa yang terpisah dengan Papa dan Mama. Suasananya terasa sangat aneh, karna selama ini aku selalu duduk di antara mereka berdua jika berada di ruangan ini diiringi dengan  canda tawa. Aku sungguh tidak menyangka keadaanya jadi sangat bebeda  dan malah seakan terbalik sekarang.   ''Allena, sebelumnya Papa dan Mama minta maaf karna baru menjelaskan tentang hal ini sekarang, ini semua kami lakukan karna kami sangat sayang dan tidak mau kehilangan dirimu.''   Aku hanya menunduk mendegar ucapan Papa tadi, berbagai asumsi terburuk sudah mengsisi kepalaku. Sebenarnya ada sedikit perasaan takut juga dalam hati unuk mengetahui semuanya, tapi bayangan sikap orang-orang yang ketakutan melihatku semenjak kejadian itu memakasaku agar tetap berani menerima kenyataan apapun  yang terjadi.   ''Allena, kamu sudah di jodohkan dengan Xavier semenjak bayi, dan simbol yang ada di pergelangan tanganmu itu adalah pertanda bahwa dia akan segera datang menjemputmu.''   ''Apa?!'' Aku mengangkat kepala sedikit berteriak karna terkejut dengan pernyataan Papa, jantungku seketika berdetak lebih kencang saat lagi-lagi mendengar nama Xavier, dan yang paling membuat seluruh tubuhku bergetar adalah orang itu sudah dijodohkan denganku.   Tidak! Ini tidak mungkin terjadi. Bagaimana mungkin Papa dan Mama tega menjodohkan putri semata wayang mereka dengan seorang penyihir? Bahkan, mereka melakukannya semenjak aku bayi. Astaga … aku sungguh tidak menyangka mereka bisa melakukan hal seperti ini padaku.   Aku mungkin bisa menerimanya jika mereka menjodohkanku dengan manusia biasa yang normal, tapi  mereka ingin menikahkanku dengan seorang penyihir. Ya, menurut buku hitam aneh yang tidak sengaja k****a di meja kerja Papa waktu itu Xavier adalah seorang penyihir yang sangat terkenal karna kekuatan dan kehebatannya, tapi di balik itu semua dia juga terkenal kejam dan kasar. Bahkan, buku itu juga meberikan peringataan agar jangan sampai berurusan dengan Xavier sang legenda, karna dia  tidak pernah melepaskan siapapun tanpa mengambil sesuatu yang berharga dari orang itu sebagai imbalan.   ''Allena, saat itu situasinya sangat sulit. Kami juga tdak menyangka ternyata Xavier benar-benar serius  dengan ancamannya itu setelah cukup lama.''   ''Keadaan sulit seperti apa yang membuat Papa sampai berurusan dengan  seorang penyihir kejam seperti Xavier?'' Aku menatap dalam mata Papa dan Mama secara bergantian, tanpa terasa air mata yang tadi sempat terhenti tiba-tiba saja mengalir lagi sekarang sebagai ungkapan kekecewaanku kepada dua orang yang sangat kusayangi ini.   Papa terdiam beberapa saat, lalu memeluk Mama yang mulai kembali terisak  mendengar pertanyaanku tadi. ''Kami berdua kesulitan untuk menyelamatkan  hidupmu, Allena,'' lirihnya pelan kemudian.   Degh! Jantungku kembali berdetak lebih kencang saat mendegar alasan Papa, wajah yang tadi  dengan sangat berani kuangkat meminta penjelasan dari mereka sekarang kembali tertunduk. Aku sungguh tidak tahu lagi bagaimana perasanku sekarang, rasa kecewa, rasa takut, rasa marah, rasa bersalah, rasa menyesal, semuanya  sudah tercampur aduk menjadi satu kesatuan yang tidak bisa lagi dijelaskan.   ''Allena, Papa akan mulai menceritakan semuanya padamu. Kamu boleh mengambil keputusan apapun setelahnya, kami akan menerimanya.''   Aku hanya diam, tidak ada lagi kata yang mampu kuucapkan sekarang.   Setelah beberapa saat kami semua terdiam, Papa kembali bersuara dengan mulai menceritakan bahwa dulu mereka  tidak punya sedikitpun harta atau status sosial yang dimilikinya sekarang. Papa dan Mama hidup dengan sangat sederhana, bergelimang dengan segala cacian orang-orang kaya sombong yang saat itu selalu menganggap orang seperti mereka sampah tidak berguna.   Papa adalah orang yang sangat sabar dan berhati lapang, dia bisa dengan tegar dan menerima kalimat apapun yang dilontarkan oleh lisan orang-orang kaya yang tidak bermoral. Berbeda dengan Mama, berasal dari keluarga yang cukup berharta sebelum memilih menikah dengan Papa membuatnya terkadang tidak bisa menahan diri saat kalimat-kalimat menyakitkan yang tidak biasa didengarnya  itu  melewati batasan kewajaran untuk diam.   Puncak kesabaran Mama benar-benar diuji saat kecantikannya yang selalu menjadi buah bibir orang itu sudah berbuah tuduhan perebut suami orang, rumah kecil mereka terbakar, Papa dikeroyok oleh beberapa orang karna hutang, dan perasaan cemas karna tidak punya uang sedikitpun untuk melahirkan anak pertama mereka.   Papa mengatakan kalau saat itu Mama terus-terusan menangis di sudut tempat pembuangan sampah yang menjadi tempat tinggal mereka selanjutnya. Bahkan, pernah sekali Papa melihat Mama ingin meminum cairan pembunuh serangga untuk mengakhiri hidupnya.   Di tengah kesusahan hidup yang mereka hadapi saat itu, Papa menemukan sebuah buku hitam aneh yang berisi tentang para penyihir yang kerap membantu manusia dengan imbalan, dan Xavier adalah orang yang paling hebat di sana yang bisa dijadikan pilihan.   Awalnya Papa tidak mau  berurusan dengan seorang penyihir, tapi desakan dari Mama dan tuntutan hidup yang semakin sulit  tak kunjung  ditemukan jalan keluar membuatnya terpaksa meminta bantuan Xavier.   Pada bagian ini Papa sempat berhenti dan bertanya apa yang akan kulakukan di tengah situasi yang saat itu dialaminya. Apakah aku akan melakukan hal yang sama? Atau malah justru tetap bertahan dan berharap kesempatan pada usaha lain yang mungkin bisa dilakukan?    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD