“Sekarang Papa dibawa ke rumah sakit mana, Bi?” tanya Indi sembari keluar dari ruang rawat Damian. Tanpa pamit lagi karena panik yang dia alami kala mendengar kabar papanya mengalami serangan jantung lagi. “Kami sudah di rumah sakit Harapan, Non. Di ruang rawat lantai dua ruang Elisa.” Indi menutup panggilan tersebut lalu turun ke lantai satu untuk menghampiri sang papa yang kebetulan sekali ART itu membawa Wijaya ke rumah sakit yang sama di mana Damian kini tengah dirawat. Dengan langkah lebarnya, serta air mata yang bercucuran, Indi sudah tak sabar ingin melihat kondisi papanya itu. Sampai akhirnya ia tiba di ruang rawat Elisa. Tampak Wijaya tengah dilakukan pemeriksaan oleh tim dokter yang menangani lelaki berusia enam puluh tahun itu. “Papa,” lirih Indi menatap sang papa di balik

