Waktu sudah menunjuk angka delapan malam. Indi mendapat kabar dari Bi Inah kalau Wijaya sudah siuman, ia segera menghampiri sang papa di lantai dua. Dengan langkah lebarnya, sampai akhirnya ia pun tiba di sana. Dengan napas yang terengah-engah, ia menatap sang papa yang tengah menatap kosong pada langit-langit ruangan sana. Bi Inah pamit keluar setelah Indi tiba di sana. “Pa.” Indi memanggil nama sang papa dengan pelan. Wijaya menolehkan kepalanya pelan kepada anak satu-satunya itu. “Indi. Apa yang terjadi, Nak? Kenapa … kenap—“ “Pa.” Indi menyela ucapan papanya itu. “Pa. Apa yang dikatakan oleh papanya Damian itu semua bohong. Aku nggak pernah melakukan hal gila itu hanya karena menginginkan Damian. Bahkan aku nggak tahu kalau Damian udah nikah sama Rachel. Aku nggak pernah melakukan

