Tatapanmu

1984 Words
Bab.2 Tatapan *** "Udah pulang,non?". Tiba-tiba seseorang dengan serbet di pundak menghampiri membuka pintu, yang dari 5 menit lalu sudah dibunyikan bel berkali- kali. Selly kesal menunggu pembantunya membuka pintu yang mungkin asik di dapur sambil dangdutan. "Non, Selly pulang naik apa? gak bawa motor, non?" Tanya nya kembali , melihat Selly hanya diam dan tak bersuara hanya membuka tali sepatunya di kursi depan. "Rapihkan..., bi!!" Selly masuk dan langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai 1, melihat adik kecil nya hasil pernikahan dengan suami baru mamah nya, yang berprofesi seorang dokter. Adik kecil nya menangis sejadinya, melihat baby sitter nya hanya diam dan berusaha membujuk dengan botol s**u saja. Selly melirik dari atas, adik kecilnya itu rewel, membuat dirinya turun dan menggendong si baby Keisha yang lucu dipangkuan nya. Diciumnya Keisha berkali kali, matanya bulat ,bibir nya yang kecil manyun manyun dan tengah senyum kepada kakak nya yang bukan satu ayah. Tapi selly menyayangi Keisha tak memandang walau mereka berbeda ayah. "Gak, becus ngurus adik gue, lebih baik pulang kampong ajah, sana!!!" Ucapnya pedas. Selly marah, lalu membawa Keisha dipangkuan nya dibawa kekamar Selly yang baru, yang sudah di siapkan mamah nya khusus untuk Selly. "kei_kei, bobo dulu ya. Kakak mau ganti baju, nanti kakak mau keliling kota bogor sama kak selvy!!" Ucap Selly bersikap manis pada Keisha. Bayi itu cuman senyum senyum mendengarkan kakaknya. Yang sedang asik meneguk s**u botolnya, mengangkat kedua kakinya dan miring-miring ditepian bantal, berusaha membuat nya nyaman meminum s**u. Adik kecil yang baru berusia 7 bulan .kini mulai perlahan mengatup, matanya sayu dan mulai tidur. Selly masih menemaninya, menidurkan dengan menepuk nepuk p****t pampers yang gendut lalu dibelainya rambut kei kesayangannya. Ia pun mulai ikut tidur bersama adik tercintanya. *** Sudah pukul empat sore, langit cerah dari celah jendela di perumahan Yasmin. Membuatnya meloncat perlahan menuju kamar mandi, meninggalkan adik nya Keisha tidur ditempat tidurnya pulas, menunggu mama datang dari kantor nya. Baby itu masih dengan botol s**u dibibir nya. Manyun-manyun mengemut jari jarinya. Selly mengirim pesan singkat ke Selvy. Dear Selvy. Vy... kita jalan – jalan yuk. Pakai motor dari bokap tiri gue. Selvy membalas seketika Ga' ah. Gue ada acara Ma gebetan gue, mau ikut gak nonton film? Selly kembali membalasnya. Ok. Gue sendirian ajah keliling kota bogornya. Sore ini selly gatal ingin memcoba motor dari om firman, kado ulang tahun yang ke 16. Sebuah kado dari ayah tiri nya, yang sudah menganggap selly anak nya sendiri, meski Selly masih enggan menyebut firman dengan sebutan ayah, baginya ayah satu satu nya di dunia ini adalah ayah Ridwan yang telah berpulang ke rahmatullah ketika ia berusia 9 tahun. Ayah yang menyandang predikat TNI, yang sudah meninggal ketika penerbangan menuju ke Kuwait, pesawatnya meledak. Dan pergi tanpa meninggalkan jejak ataupun, kuburan. Sebuah motor ninja Kawasaki 250 F1 berwarna merah, memanggil pemilik baru nya untuk duduk diatas nya, mencoba mesin dengan 250cc. power yang begitu kuat dari kecepatan yang di janjikan, menjadikan seseorang yang duduk diatasnya menjadi seorang rider. Selly mengusap motor barunya lembut, memandangi nya penuh hangat, dicium tangki motor nya. "lo ..., temen baru gue dibogor. Jadi bae-bae sama gue ya? ucap Selly berusaha berkomunikasi dengan teman baru nya. Senyum senyum sumringah melihat warna favorite nya. Merah yang menyala dan membara. Bi Nur datang dengan jaket di tangan nya, memberikan jaket kulit merah ketat milik selly yang langsung ia kenakan, dengan dipadukan celana jeans biru dan sepatu jengle milik nya pemberian mamah Novi . "Si ..., non mirip Reva yang ada di film si boy anak jalanan. film kesukaan mamah non!!" Bi nur ketawa ketiwi sambil menutup mulut nya yang sedikit tonggos. "Bi..., Nur! tolong liatain adek kesayangan aku ya? si mbak Yati kok gituh sih ngurus Keisha, bilang mamah ganti pengasuh nya. Bikin baby Keisha tidur ajah kok susah, malah di diem-in gituh, kalo gak becus ngurus suruh dia resign !!!" Ucap selly kesal. Bi nur mengacungklan jempol nya dan membuka pintu garasi, juga gerbang yang di dorong nya, Ia menunggu didepan sambil melihat Selly membawa motor baru nya melaju keluar dari gerbang hingga ke jalan. "Hati-hati, non Selly. Awas kena tilang polisiiii, Non. " Ucap bi Nur setengah teriak dan berjinggit memperingatkan Selly supaya berhati-hati jalanan. Melambai lambai pada laju motor yang sudah menjauh meninggalkannya dibelakang. Selly mengintip di balik spion nya. Ia senyum. *** Laju motor dengan kecepatan 80/km yang cukup cepat di jalan menuju arah jalan baru, cukup cepat untuk berbelok kearah jalan taman surya kencana, di full kan gas nya lalu dioper kembali gigi persnelling. Melaju di kota Bogor yang kini kian merayap, hampir sama dengan kemacetan di Jakarta. Hanya saja di Bogor lebih banyak kendaraan umun di banding kendaraan pribadi, ngetem disana sini, berhenti tanpa lampu sen kanan atau kiri, berhenti semau nya. Membuat pengemudi dibelakang nya sewot melotot dan marah marah pada supir angkot. Kali ini selly membelah jalanan menjadi dua, melawan arah mata angin, meninggalkan gedung-gedung ruko pertokoan tertinggal jauh dibelakang. Angin yang berusaha kejam menembus kejam masuk kedalam sela-sela helm dan jaket menembus kedalam sel-sel kulit. Membuat paru-paru sedikit dingin . Selly menghentikan laju kecepatan nya lalu berbelok ketaman surya kencana, berbelok kedalam café yang dekat dengan kuliner terbaik di Bogor Mp macaroni panggang dan pie apple nya. Sebuah café yang begitu nyaman dan tenang dengan konsep asri dan juga sentuhan modern di sisi lain nya. Motor nya berhenti diparkiran, helm nya masih melekat di kepala. Selly duduk di atas kuda besi nya. Ia berusaha menstandarkan motor besar yang membuat ia sedikit kesusahan dengan standart nya. Tanah nya sedikit tidak rata, sehingga ia menyeimbangkan dulu bobot tubuh nya. Sebuah motor yang sama dengan warna hijau masuk ke parkiran café, tepat berada di samping motor Selly. Selly berusaha menatap dibalik kaca helm nya, menerka siapa cowok yang memakai seragam putih abu. Sore begini masih keliaran, belum pulang kerumah nya atau sekedar ganti pakaian saja lalu pulang kembali bermain di sore hari untuk mencari udara segar. Helm cowok itu dilepas, sedetik langsung terlihat siapa pemilik motor berwarna hijau , yang sentak membuat selly kaget. " Yoga." Desisnya dalam hati. Ia senyum pipit dibalik helmnya. Cowok yang sombong dan semena mena, cowok itu melihat kearah pengendara berjaket warna merah, masih belum melepas helm miliknya yang masih menempel dikepala Selly. Selly membuka helmnya perlahan, membuka kuncian helm. Lalu melepas dan melihatkan uraian rambut yang sebahu dengan mata tajam. " Anak baru!." Ucapnya kaget. Prayoga melotot dan hampir meloncat kaget, menatap sebaris gigi yang di pamerkan Selly senyum samar atau senyum kebencian menghiasi bibir Selly. " Elo.."Tunjuk Yoga. Selly hanya mengangguk dan mengangkat kedua alisnya. Menatap Yoga yang masih terlihat heran, Selly berjalan santai. Tak menggubris sama sekali, Ia malah menabrak bahu Yoga dengan sengaja berjalan santai lalu melewatinya. "Hei! anak baru!!" Panggilnya. "Eh, siapa sih namanya, oh..iya. Sell, selly ..., selly..." Teriak Prayoga setengah kesal, menghentak-hentakan kaki nya ke tanah. Dan mengacak rambutnya. Selly hanya mengangkat tangannya, melambaikan salam ala anak gaul padanya. Menatap Yoga yang kesal. Ternyata suara yoga dibelakang nya tak di gubris sama sekali. Selly berjalan kedalam café dan duduk dimeja yang sudah ada penunggunya lalu duduk menyapa lelaki yang cukup umur sekitar 46 tahun. Mereka terlihat akrab dan tidak kaku, Yoga melihat nya. Membuat ia sedikit tak nyaman. Pesanan Selly datang dan langsung diseruput nya. Segelas chocolate shake kesukaanya. "Gimana ..., sekolah baru nya? Betah." Tanya lelaki kharismatik, berbaju rapi dengan jas putih berlenggan panjang. Sebuah jas yang disanderkan di kursi, sebuah jas yang menandakan seorang profesi, Ialah ayah tiri Selly yang bernama Firman. "hmmmmpt. Begitulah!! " Tukas Selly cepat sambil menyeruput chocolate shake, "Udah hafal? kota bogor. " Tambahnya, sambil melihat anak tirinya masih cemberut. "Udah, om. Selvy sering ngajak aku keliling kota bogor, Sewaktu aku masih tinggal di Jakarta.!" Ucapnya ringan. Dan kembali menyeruput chocolate shake. " Shhh..., dasar b******k!" Makinya lembut. Dan terdengar ayah tirinya seketika. " Kamu bicara apa tadi?" Tanyanya. " Bu, bukan sama, Om. Itu tuh berandalan itu. Mereka itu sombong banget om, mentang – mentang papanya pemilik sekolah." Selly mendengus, menatapnya kesal melihat Prayoga duduk dimeja pojokan bersama gerombolan nya, Jerry, Rudi , Andi. Duduk sedangkan yang lain main bilyard . ''Om ..., kenapa sih masukin Selly kesekolah itu?" Tanya Selly masih bingung dengan om Firman yang memasukan dia sekolah di Siliwangi. "Bukankah, itu sekolahan favorite? Sekota Bogor. Dan Selvy ada disana, jadi kamu gak canggung. !!" jawab nya tegas. Om Firman terseyum melihat raut wajah Selly cemberut kesal. Firman kenal selly sejak berumur sebelas tahun ketika duduk dibangku smp, ia hafal betul karakter Selly yang sedikit kuat, temperament, Ia hafal anak tirinya tengah kesal. Selly memutar mutar sedotan di tangan nya menunjukan arah ke pojokan, menunjuk hidung yoga yang tengah menatap nya dingin penuh kearah nya. "Selly..., gak suka sama cowok yang suka semena-mena!!" Tunjuknya pasti mengarah kearah meja Yoga yang membuat Andi, Rudi menghentikan stik bilyard nya dan diam melihat Yoga yang serius menatap wajah Selly. Mereka semua melirik Selly yang sedang bertatapan dengan Yoga. Om firman tertawa kecil, sambil menghabiskan steak black paper dipiring saji nya. Ia kembali mengelap mulut nya yang terkena saos black paper, lalu meyambar ponsel yang dari lima menit lalu berdering, sebuah panggilan dari assisten di rumah sakit. "ya_hallo, baik...,saya segera ke lokasi, pukul 07.00 malam saja, kita mulai operasi nya, hubungi dokter anastesi, dan dokter anak, siapkan baik-baik ya,?" Ucap Firman tegas kepada seseorang yang sedang menelpon nya. " Mau kemana, om?" Tanya Selly kaget. " Ada pasien, Biasa. Om pergi dulu, Bilang mama. Om pulang pagi, malam ini giliran jaga." Om firman bangkit lalu mengecup kening Selly lembut, mengacak anak rambut selly lembut dan langsung berpamitan, berjalan pasti kearah mobilnya yang parkir disebuah tempat parkiran, menaiki nya lalu memutar kearah rumah sakit di kota Bogor. Selly diam, Ia mengamati diam-diam, melihat Yoga yang asik memandangi teman teman nya main bilyard, mereka tengah saling coret-coret wajah yang kalah. Dengan spidol dijidat dan pipi, ia terkekeh kekeh, melihat jerry yang dipaksa diam, karena kalah harus dicoret seperti doraemon oleh Andi, si Jerry memukul Andi, Jerry masih berusaha menolak, menangkis Andi dengan spidol nya. Sebisanya. Selly tanpa sadar ikut tersenyum, melihatnya. ''spidol nya permanen, bro...." Jerit jerry "akh_s**l,,!!!" jerry berusaha menghapus coretan di pipinya. Mengelap kedua pipinya kasar. Prayoga tertawa, kembali ia menyulut rokok dari saku celananya, menghisap lalu mengepulkan asap itu kelangit-langit café, pertanda Yoga tengah menikmati waktu nya . Selly diam menghabiskan minuman chocolate shake. Lalu bangkit menuju parkiran lalu memakai kembali helm, dan pergi meninggalkan café. Seperempat menit, Yoga kembali mengedarkan matanya kemeja Selly yang tadi duduk. Tapi yang dilihatnya hanya seorang pelayan yang sedang membersihkan meja, tanpa ada Selly yang duduk disana. Ia berdiri dan melihat kearah parkiran, nyata nya. Motor yang dikendarai oleh Selly telah raib bersama pengendara nya. Selly sudah pulang. " Ah, gue pasti udah gila." Ucapnya kesal. " Kenapa elo, bro?." tanya Andi. " Jantung gue hampir copot! Tadi liat anak cewek bawa motor kayak gue, pake ngebut segala dijalanan, Gila tuh cewek keren banget! Tapi sialnya, Tuh cewek yang matahin lengan si Tito keribo!!" Jelasnya kesal. Yoga beberapa kali mengusap dadanya dan mengepulkan asapnya membumbung keudara. " Bokap elo bukannya hari ini balik?" Tanya Jerry. " Bodo ah, Bokap Gue balik juga bukan kerumah gue! Tapi kerumah istri barunya, ngak tauk lagi yang mana. Istrinya udah dimana – mana. Terus nyokap gue lagi enak ajah jelong – jelong keluar negeri nikmatin travelingnya." Jelas Yoga kesal. " Ntar malam biasa, kita pulang kerumah elo. Ya?" Yoga mengacungi jempolnya. " Selly, Selly.." Gumam Yoga. Hampir tak bersuara. Pengendara jaket merah yang membuat ia berdetak kencang, membuat jantung nya copot keperut, membuat ia merasa geli jika menatap Selly dan merah. Itulah yang dirasakan Yoga sekarang. Selama ini ia tak pernah menemukan tipe cewek seperti selly. Yang ia temui adalah tipe cewek yang manja, mata duitan, dan lemah yang membuat yoga bosan. Mereka sama sekali tak pernah membuat yoga berkesan dan membuat ritme jantung nya tak beraturan seperti suara beduq. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD