Bab 6 (Masalah di Dalam Rumah)

511 Words
Langit sudah mulai gelap ketika Alan akhirnya sampai di depan rumahnya. Rumah besar dua lantai itu berdiri megah di ujung jalan, dengan pagar tinggi dan halaman yang luas. Dari luar, rumah itu terlihat seperti rumah keluarga yang sempurna. Namun bagi Alan, rumah itu sering terasa jauh lebih menegangkan daripada sekolah. Ia membuka pintu pagar dan berjalan masuk. Langkahnya sedikit lambat, pikirannya masih teringat kejadian di aula tadi. Bayangan Gia yang tertawa bersama Raka terus muncul di kepalanya. "Ah… kenapa juga gue kepikiran," gumam Alan pelan. Ia membuka pintu rumah. Begitu masuk, suasana rumah terasa aneh. Biasanya rumah itu cukup tenang di malam hari, tapi kali ini terdengar suara orang berbicara cukup serius dari ruang tengah. Alan berjalan mendekat. Di ruang tengah terlihat ayahnya sedang duduk dengan wajah tegang. Di sampingnya ada ibunya, sementara kakaknya, Arkan, berdiri dengan wajah yang terlihat kesal sekaligus gelisah. Alan berhenti di dekat tangga. "Ada apa?" tanyanya pelan. Semua orang langsung menoleh ke arahnya. Ibunya terlihat sedikit terkejut. "Alan… kamu sudah pulang?" Alan mengangguk. "Iya. Lagi ada apa?" Ayahnya tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Arkan dengan wajah serius. "Kamu sadar apa yang sudah kamu lakukan?" kata ayahnya dengan suara berat. Arkan menghela napas kesal. "Saya sudah bilang tadi, itu tidak sengaja." "Masalahnya bukan sengaja atau tidak!" balas ayahnya. Alan mulai merasa suasana semakin tidak nyaman. "Ada apa sih sebenarnya?" tanya Alan lagi. Ibunya menatap Alan sebentar, lalu menurunkan pandangannya. Arkan akhirnya berbicara dengan suara pelan. "Tadi siang… aku ada masalah dengan seseorang." Alan mengerutkan kening. "Masalah?" Arkan terlihat ragu, tapi akhirnya melanjutkan. "Iya, ada masalah..." Ayah mereka langsung memotong. "Itu bukan sekedar masalah!" Suasana ruang tamu langsung kembali tegang. Arkan mengusap wajahnya dengan frustasi. "Aku enggak sengaja!" Ayah mereka berdiri dari kursinya. "Apapun alasannya, sekarang orang itu terluka!" Alan terdiam. "Luka?" Ibunya akhirnya berbicara dengan suara lirih. "Kondisinya cukup serius." Beberapa detik ruangan itu hening. Alan menatap kakaknya dengan bingung. "Lu… sampai separah itu?" Arkan tidak menjawab. Ia hanya memalingkan wajahnya. Ayah mereka kembali duduk sambil menghela napas panjang. "Masalah ini bisa berdampak besar pada keluarga kita." Kata-kata itu membuat Alan semakin tidak mengerti. "Maksudnya?" Namun ayahnya tidak menjawab pertanyaan itu. Ia hanya berkata dengan nada tegas. "Untuk sementara, tidak ada yang boleh membicarakan ini ke orang lain." Arkan terlihat semakin kesal. "Masalahnya sudah terjadi. Mau disembunyikan juga—" "Cukup!" potong ayah mereka. Suasana menjadi sangat sunyi. Alan berdiri di sana dengan perasaan campur aduk. Baru beberapa jam yang lalu ia merasa sedikit bahagia di sekolah. Sekarang pikirannya justru dipenuhi berbagai pertanyaan. Siapa orang yang terluka itu? Seberapa serius kejadiannya? Dan kenapa ayahnya terlihat begitu khawatir? Alan akhirnya menghela napas pelan. "Gue ke kamar dulu." Tidak ada yang menahannya. Ia naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya. Begitu pintu tertutup, Alan langsung menjatuhkan dirinya ke tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamar. Pikirannya kembali dipenuhi banyak hal. Tentang Gia… Tentang Raka… Tentang masalah yang baru saja terjadi di rumahnya. "Kenapa semuanya datang barengan sih…" gumamnya pelan. Alan menutup matanya, mencoba menenangkan pikirannya. Namun semakin ia mencoba melupakan semuanya… semakin banyak hal yang muncul di kepalanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD