"Hahaha." Ibu tertawa mendengar ceritaku tentang tantangan Ghulam hari ini. Kalau diingat-ingat lagi memang menggelikan. Tapi aku yakin, Ghulam yang mengalaminya panas dingin takut ketahuan. Kalau sampai ketahuan yang tamat bukan hanya Ghulam, tapi aku juga. "Kamu nggak briefing sih, harusnya jatuh kodok di kamar mandi, masak di atas meja rias. Kayak nggak wajar aja. Hahaha." Ibu tertawa lagi. Kami menikmati kopi panas dan singkong keju di teras, beberapa menit lagi munuju waktu sholat magrib. "Ya, aku pikir dia sudah memikirkan sampai sana, Bu. Ternyata belum." Aku menggeleng-geleng masih tidak mengerti apa yang dipikirkan Ghulam tentang katak di atas meja rias. Jika jadi Ala, aku pun pasti murka. "Bu, tadi Andrew ke kantor." Aku mengalihkan pembicaraan. "Ohya? Terus?" Ibu merespon d

