Peristiwa peneguran kemarin oleh Pak Ruslam, membuatku enggan berangkat ke kantor. Sebenarnya aku tahu betul, apa yang dilakukan beliau memang benar dan untuk kebaikan bersama, tapi otakku bebal dan malas sekali untuk berpikir positif tentang itu. Aku masih malas bertemu beliau, malas bersinggungan dengan beliau. Aku sendiri juga bingung, kenapa jadi beliau yang kubenci. "Jadi Bivi akan pura-pura sakit?" Tanya ibu, ibu curiga melihatku belum bersiap-siap padahal waktu sudah menunjukkan pukul tujuh, aku pergi ke meja makan masih memakai piyama, tapi sudah mandi kok. "Bivi malas sekali, Bu. Bagaimana, apakah harus dipaksa? Bivi izin dulu aja ya, sehari saja." Aku memelas mengharap diperbolehkan untuk tidak masuk kerja. "Ya, itu terserah kamu. Kan yang menjalani kamu. Tapi, jangan sampai k

