Malam itu berakhir tanpa benar-benar selesai. Adrian baru menyadarinya ketika mobil yang ia kendarai berhenti di depan rumah Ashford. Mesin sudah mati, tetapi tangannya masih berada di setir, tidak bergerak. Amaris sudah lebih dulu masuk ke dalam, dibantu pelayan. Dokter pribadi keluarga sudah memastikan kondisinya stabil. Tidak ada yang serius, hanya kelelahan dan tekanan emosi. Seharusnya itu membuat Adrian lega. Namun anehnya, yang terus teringat justru bukan wajah pucat Amaris. Melainkan ekspresi Seraphine ketika ia berdiri di restoran itu. Adrian mengembuskan napas panjang, menyandarkan kepala ke kursi. “Apa sebenarnya yang terjadi tadi …,” gumamnya pelan. Ia mengingat kembali percakapan singkat itu. Cara Seraphine menjawab. Cara ia mencoba menjelaskan, tapi ia sendiri yang me

