02. Prolog : Terbunuhnya Nyai Ronggeng

1116 Words
Nyai Ronggeng dilempar masuk kedalam suatu kamar, lantas dikunci dari luar.  Matanya menatap liar, mencari apa saja yang bisa dijadikannya senjata untuk melindungi dirinya.  Tak ada apapun disini, kecuali ranjang kuno yang bertahta di tengah ruangan.  Seakan mengancam, mengingatkan Nyai Ronggeng akan terancamnya kehormatannya sebagai janda bermartabat.  Meski dia berprofesi sebagai perempuan penghibur, dia bukan w************n yang sudi menyerahkan tubuhnya pada lelaki bukan suaminya.             Putus asa, Nyai Ronggeng berusaha memutar otaknya untuk mencari celah menyelamatkan dirinya.  Saat itulah pintu kamar terbuka.  Masuklah Juragan Wardoyo dengan senyum penuh kemenangan.  Dia memang mabuk, tapi keperkasaannya tak berkurang sedikitpun.  Bahkan semakin menjadi karena sebelum ini ia telah meminum obat kuat.             “Nyai, apa kamu wes siap?  Layani aku sebaik mungkin malam ini kalau kamu ndak mau celaka!”             Nyai Ronggeng mundur perlahan ketika pria b******n itu mendekatinya, hingga punggungnya membentur dinding di kamar.  Dia tak dapat bergerak lagi.  Napasnya yang memburu karena rasa cemas yang mendera, menyebabkan dadanya naik turun menciptakan gelombang sensualitas yang menggoda.  Juragan Wardoyo menelan liurnya melihat itu.             Tangannya terulur meremas d**a montok sang primadona tari.  Sontak membuat empunya menggeram marah lalu meludahinya tanpa ampun.             Cuh!             Juragan Wardoyo mendelik, murka menguasainya.  Ditamparnya Nyai Ronggeng berkali-kali.  Nyai Ronggeng oleng, kepalanya amat pening.  Dia terkulai dan segera ditangkap oleh Juragan Wardoyo yang langsung membopongnya menuju ke ranjang.  Dibanting tubuh Nyai Ronggeng diatas ranjang, Juragan Wardoyo langsung menindihnya.  Tangannya merobek kain merah yang membebat ketat d**a Nyai Ronggeng, tak ayal keluarlah gundukan d**a yang telah menggoda hasratnya sedari tadi.   Mata Juragan Wardoyo nyalang menatapnya.  Dia mempermainkan gunung kembar itu dengan kasar, tak hanya tangannya .. mulutnya ikut ambil bagian.             Nyai Ronggeng menggeliat, ingin memberontak namun tenaganya melemah.   perempuan itu hanya bisa menjambak rambut pemerkosanya, berusaha mendorong dari dadanya.   Apa daya, bukannya menjauh kepala Juragan Wardoyo semakin lengket di dadanya.  Bukan hanya itu, kini tangannya yang lancang telah menelusup ke bagian bawah tubuh Nyai Ronggeng untuk menarik celana dalam yang dikenakan perempuan itu.             BRETT!             Sekali sentak Juragan Wardoyo berhasil merobek celana dalam Nyai Ronggeng.  Dengan hasrat menggelegak, Juragan Wardoyo mendekatkan miliknya untuk menyetubuhi perempuan incarannya selama ini.  Nyai Ronggeng amat panik, kehormatannya terancam!             Dia melawan sekuat tenaganya, disundulnya kepalanya ke kepala lawannya.  DUK!!  Keras sekali benturan itu, mungkin gigi Juragan Wardoyo ada yang rontok karena bertepatan saat benturan itu terjadi wajahnya mendongak kaget.  Lelaki itu semakin tersulut kemarahannya.  Niatnya memperkosa dengan kasar semakin bulat.  Dia balas menyundul kepala Nyai Ronggeng, terkena dagu perempuan itu.  Kepala Nyai Ronggeng sangat pening, berkunang-kunang.  Pandangannya mengabur.  Tubuhnya semakin lemas, karena Juragan Wardoyo memperlakukannya dengan kasar.   Berkali-kali ia ditempeleng, dipukul dan dijotos di bagian manapun yang terjamah oleh b******n itu.  Dan itu terus dilakukannya sembari memperkosa Nyai Ronggeng tanpa peri kemanusiaan. Terkulai lemas, Nyai Ronggeng pingsan.  Begitu sadar, ia tergeletak di ranjang dalam keadaan tak senonoh.  Telanjang bulat dengan noda kemaksiatan di tubuhnya, juga memar dan lebam alhasil perbuatan sadis pemerkosanya.  Sementara sang pelaku tengah tidur mengorok seperti babi kekenyangan.  Dendam yang telah lama bercokol daam hatinya, plus dipicu apa yang baru saja dialaminya membuat Nyai Ronggeng gelap mata.  Kebetulan ada pecahan vas yang cukup tajam didekat ranjang, ia berencana memakainya untuk menggorok leher Juragan Wardoyo.  Nyai Ronggeng diam-diam mengambil pecahan vas itu dan mendekatkan bagian tajamnya di leher Juragan Wardoyo.  Dengan cepat ia menggores leher lelaki itu sedalam mungkin.  Juragan Wardoyo terbangun dengan jeritan lengkingan kesakitan.  Darah telah membasahi lehernya, namun ia masih cukup bertenaga untuk merebut pecahan vas itu lantas dibuangnya sejauh mungkin.  Gusar, ia balas mencekik leher Nyai Ronggeng.   Berniat menakut-nakuti, dia tak menyangka perempuan itu kehabisan pasokan oksigen dan menggelepar bagai ikan di daratan.  Matanya nyalang menatap pembunuhnya, sambil mengucapkan sumpah serapah mengerikan. “Kau .. a-akan ma .. tiiiii menge .. naskan o-oleh pena .. ri rong .. geng yang kkkkauuuu sssuuuuu .. kaaaiiiii!” Nyai Ronggeng menghembuskan napas setelah mengutuk Juragan Wardoyo.  Lelaki itu terpaku, syok tak menyangka dia kembali khilaf menghabisi seseorang.  Jeratan hukum jelas mengancamnya, apalagi semua orang tahu dia telah membawa paksa Nyai Ronggeng ke tempatnya.  Dia harus membersihkan hasil perbuatan kotornya.  Tengah bingung begini, pintu kamarnya terbuka .. muncul sahabatnya, Sumanto. “Nggerrrr .. apa yang kamu lakukan, Juragan Wardoyo?  Dia tewas toh?” seru Sumanto.  Matanya menatap nyalang pada mayat yang masih hangat di ranjang, mendadak timbul hasratnya.  Sebenarnya Sumanto memiliki kelainan, dia suka bercinta dengan mayat dan memakan daging mentahnya.  “Manto, aku tak sengaja membunuhnya.   Untuk membela diri!  Lihat, dia berusaha membunuhku sebelumnya!” tunjuk Juragan Wardoyo ke lehernya yang masih berdarah-darah. Sumanto mengangguk paham.  “Aku bisa memakluminya, tapi apa polisi mau mengampunimu?  Mereka akan menyeretmu ke penjara.  Bisa habis kamu disana, Juragan Wardoyo!” Sambil menakuti sahabatnya, mata Sumanto tak pernah lepas dari sesuatu yang menerbitkan liurnya.  Dia menelan salivanya, berusaha menahan gejolak busuk dalam dirinya.  Namun Juragan Wardoyo dapat menangkap gejala aneh itu.  Dia pernah mendengar isu kelainan dalam diri Sumanto.  Apakah itu benar?  Ndak ada salahnya mencoba, pikir Juragan Wardoyo.  “Sumanto, kamu bisa membantuku toh?” “Maksudmu opo?” “Kita sama-sama tahu kebusukan satu sama lain.  Kau pegang rahasiaku, aku juga bisa menutupi kelainanmu.  Sekalian menawarkan kesenangan langka didepan matamu sekarang.” Sumanto bimbang.  Penawaran itu menggiurkan.  Sangat langka ia bisa menuntaskan hasrat busuknya.  Kini kesempatan didepan matanya, tinggal bilang iya.  Tapi ... “Tak semudah itu, Juragan Wardoyo.  Kau memintaku untuk menghapus jejak kejahatanmu kan?” sindir Sumanto. “Kuakui begitu.  Tapi ndak ada ruginya buatmu toh?  Kau mendapatkan peluang emas untuk menuntaskan gairah liar dalam dirimu.  Aku akan tutup mulut, engkau bungkam.  Selain itu .. “  Juragan Wardoyo menatap penuh selidik temannya.  Dia tahu Sumanto tengah kesulitan keuangan. “Aku bisa membantu kau mengembangkan usahamu yang sedang seret,” imbuh Juragan Wardoyo. Penawaran yang amat menarik.  Hanya dengan mengangguk, Sumanto bisa menyelesaikan segalanya.  Masalah keuangannya dan .. hasrat busuknya yang kini tengah meronta-ronta menuntut dipuaskan.  Akhirnya godaan setan yang menang,  Perlahan Sumanto mengangguk. Juragan Wardoyo tersenyum puas.  “Baiklah, kutinggalkan dirimu bersama santapanmu.” Bergegas ia mengenakan pakaiannya dan keluar dari kamar maksiatnya, meninggalkan Sumanto bersama korbannya.   “Jadi disinilah kita, Mantro.  Bersama mayat molek yang siap kita setubuhi dan kita santap bersama,” gumam Sumanto pada dirinya sendiri.  Ternyata dia penderita kepribadian ganda, dan mengerikannya .. alter egonya yang lain adalah kanibal! Lelaki itu melepas pakaiannya hingga tak lama kemudian tubuhnya telah polos.  Matanya berbinar-binar ketika menindih korbannya, memasukkan miliknya kedalam liang yang masih hangat walau sudah berupa mayat.  Dengan peluh yang terus membasahi wajah bulatnya, Sumanto menggerakkan pinggulnya.  Mengguncang tubuh tak bernyawa dibawah tindihan tubuh gempalnya.  Deg! Dia memekik lirih ketika mendadak mata mayat itu terbuka dan menatapnya tajam!  Spontan diambilnya bantal dan dibekapnya wajah mengerikan itu sekencang mungkin. “Mati!  Mati!  Mati kowe!” ucapnya geram. Sumanto meneruskan hasrat busuknya, tak peduli apapun yang terjadi.   ==== >(*~*) Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD