Sepasanga sandal …
Yang kalau tinggal satu tak akan jadi handal
Sepasang sepatu …
Yang kalau hilang satu artinya tak menyatu
.
Jangan salahkan tentang jodoh
Jangan pikirkan tentang hati
Jangan rumitkan tentang pertemuan
.
Karena semuanya akan bermuara pada satu
Kata cinta yang akan mengolah sebuah rasa
Dari kata pertemuan yang mengetuk pintu hati
Lalu berjalan bersama menciptakan jodoh!
.
Jodoh bukan hal yang harus sama
Tapi sesuatu yang saling melengkapi
Seperti sepasang sandal
Atau sepasang sepatu
Yang punya kanan dan kiri
Serupa tapi tak sama
Seperti kamu yang ada untuk saling mengisi
Ditempat yang mesti!
***
“Kau …”
“Aku tidak tahu apakah kertas itu yang berbohong atau ceritamu yang tak nyata! Tentukan sekarang maka kau akan kuterima dibagian staf pengembang!” Ucapan Reyno barusan mengejutkan orang-orang yang ada didalam ruang ini.
“Tunggu diluar, dan pikirkanlah.” Ucapnya lagi dan membuat Alena tak ada pilihan lain kecuali keluar dari ruangan itu.
Lumayan lama dia menunggu diluar, dan beberapa ada yang berbisik mengenai dirinya, Alena memang sengaja menuliskan statusnya belum menikah dan jelas menconteng tak ada tanggungan disana. Apa ada yang salah dengan isiannya? Semuanya dia isi dengan betul. Dia ingin marah dengan Reyno sebenarnya, tapi sayangnya dia masih terlalu kaku untuk beradu mulut dengan laki-laki itu dan dia pikir dia siapa yang bisa mengatakan hal itu?
“Bu Alena?” Wanita dengan pakaian formal itu memanggilnya.
“Ah iya.” Alena tersenyum dengan wanita itu.
“Bu Alena silahkan masuk kedalam.” Ucapnya dengan sopan dan tersenyum.
“Terima kasih.” Alena lalu masuk lagi ke dalam ruangan tadi, dia sekarang sangat ingin menyumpal mulut laki-laki sombong itu, jelas sekali dia sepertinya menumpahkan kekesalan pada pacarnya dengan dirinya saat ini.
“Duduk.” Ucapnya dengan suara sombong di telinga Alena, bahkan saat ini dia tak ingin lagi pekerjaan ini.
Tiga pewawancara lain masih duduk disana dan menatap Reyno dengan pandangan saling melempar tanya.
“Katakan apa yang membuatmu harus diterima disini.” Reyno berkata dengan tegas.
“Semuanya tertulis di kertas yang Anda buang, dan semuanya ini Saya isi dengan benar.” Suara Alena terdengar bergetar karena menahan marah.
“Kau yakin mengisinya dengan benar? Statusmu?” Reyno berkata dengan suara yang terdengar sangat sinis.
“Apa yang salah? Pilihan disana menikah dan belum menikah, aku memilih belum menikah karena aku jelas tak dalam hubungan pernikahan saat ini dan tanggungan? Aku tak memiliki tanggungan apapun saat ini, aku hanya menanggung diri sendiri, lantas yang membuatnya salah dimana?”
“Kau benar-benar kuat sekali dalam hal berbohong. Artinya kau tak menikah dan kemarin kau bilang kalau kau sudah menikah dan memiliki anak.”
Ucapan Reyno ini membuat tiga orang lainnya menyadari sepertinya ini ranah pribadi bosnya. Mereka yang saling terhubung dengan pikiran masing-masing ini akhirnya keluar dari ruangan yang terasa mengeluarkan aroma horor. Mereka cukup cermat dalam membaca situasi bosnya, terutama suasana hati beliau.
Alena yang melihat kejadian ini merasa tersadar kalau sepertinya Reyno adalah pemimpin dari perusahaan ini, untuk sesaat ada rasa menyesal kenapa juga dia menolak menikah dengan pria pemilik platform belanja ini, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya membuat Alena tersadar kembali kalau, wajar saja pacarnya meninggalnya karena orang ini mulutnya sangat tak bisa dikontrol dan bicara semena-mena, padahal semalam dia menampakkan sisi imutnya pada Alena.
“Harus berapa kali Aku katakan, disana tidak ada tulisan pilihan Janda atau duda! Atau pilihan pernah menikah, disana hanya ada pilihan menikah dan belum menikah, lalu tanggungan, sudah kukatakan padamu semalam, kalau aku bercerai tanpa mendapatkan apapun termasuk hak asuh anak, artinya aku hanya menanggung diri sendiri, coba otakmu didinginkan lagi, berpikir dengan tenang Kid!” Ucapnya kesal, dia berani melontarkan kata-kata itu karena hanya mereka berdua yang tersisa diruangan ini.
“Apa kau bilang? Kid?” Reyno tak terima dia dikatakan Kid oleh Alena.
“Kau harusnya bisa melihat riwayat hidupku, tahun berapa aku lahir, artinya kau seharusnya bisa lebih sopan memanggil orang yang lebih dulu melihat dunia ini daripadamu.” Alena masih berkata kesal.
“Baik, lalu apa keahlianmu? Hanya lulus dengan nilai cumlaude?” Reyno berkata dan terkesan seperti mengejek.
“Aku memilih menikah daripada melanjutkan studi master di Amerika dan juga menolak tawaran untuk bekerja di perusahaan IT Jepang. Kau tahu, otakku ini masih bisa kupakai untuk bertahan hidup, tapi kesombonganmu membuatmu suatu saat akan jatuh! Sama seperti kau yang mungkin terlalu percaya diri bahwa pacarmu itu akan menerimamu! Harusnya masalah pribadi tak perlu dibawa keperusahaanmu, Dik!” Ucap Alena lalu membalikkan badan dan hendak meninggalkan ruangan ini.
“Tunggu! Selangkah kau keluar, kau harus ganti rugi semua urusan kita yang belum selesai di Skyscraper Restaurant!” Ucapnya.
Alena membalikkan badan, “itu bukan urusanku! Aku hanya membantumu untuk tak malu saat melamar seseorang yang ternyata ditinggal pergi.”
“Kau tandatangan didokumen itu, artinya kau turut bertanggung jawab!” Ucapnya.
“Urusanmu dan bukan urusanku!” Alena kembali berkilah. Kesal sekali dia dibuat Reyno saat ini.
“Bekerjalah menjadi sekretarisku!” Ucapnya langsung.
“Apa? Kenapa kau tak tawari aku sebagai asistenmu saja, biar hidup kita komplit seperti drama yang diatur sedemikian rupa, lalu kita jatuh cinta dan akhirnya menikah.” Ucap Alena dengan sangat lantang.
“Kau mau?” Tantang Reyno.
“Aku tak butuh pekerjaan ini lagi!” Ucapnya.
“Sekali kau melangkah keluar, kau harus bertanggung jawab penuh atas semua kejadian di sana.” Reyno kembali memperingatkan Alena yang hendak pergi dan sudah membalikkan badannya.
“Dasar kau gila!” Alena menghampiri Reyno yang masih santai duduk dikursinya sambil memasang wajah angkuhnya.
“Kerja disini sebagai staf pengembang atau sekretaris atau asisten, terserah kau saja mau apa, aku akan lihat sejauh apa otak pintarmu itu bisa bertahan.”
“Aku merasa itu sudah tak perlu lagi.” ucap Alena dengan sombong.
“Kau harusnya perlu, karena sepertinya kau memerlukan sesuatu untuk membalas dendam pada suamimu.” Ucapan Reyno ini membuat Alena terkesikap.
“Kenapa? Ucapanku benar?” Reyno tersenyum dengan santainya dan melihat ke arah Alena yang sejenak berpikir.
“Tak perlu banyak berpikir, bekerjasamalah denganku, kau lakukan tugasmu dengan baik, kita tak perlu menciptakan drama seperti yang sering kau tonton, cukup menjadi salah satu karyawanku saja dan kita akan lihat, sejauh apa kesombonganmu itu Kakak!” Dia berkata dengan senyum iblisnya,
“Dasar Iblis berhati busuk.” Umpat Alena.
“Dimana-mana iblis memang menjerumuskan, jangan bicara tentang hati karena akan membuatmu sakit hati! Sekarang, terserah, kau mau terima atau tidak, karena kalau jawabanmu tidak maka kau harus tetap menjawab Iya!”
"Baiklah?! Kenapa sekalian tak tawari aku sebagai CEO nya saja?!" Alena berkata lantang.
"Kau tahu ada jabatan lebih tinggi daripada sekedar menjadi CEO." Ucapan ini membuat Alena makin kesal.
"Jangan bermain-main Dik!" Alena sudah berusaha sabar semaksimal mungkin.
"KKau sok tua! Baiklah aku akan membuatmu tak memiliki pilihan lain, karena jika ingin membalas dengan cepat jangan buang kesempatanmu.” negosiasi yang cukup rumit.
“Baik! Kapan aku mulai bekerja?”
“Hari senin! Ini adalah hari Sabtu, Kau seharusnya belanja pakaian dulu untuk bekerja di hari pertama, kau juga belum ada pengalaman bekerja sebelumnya kan, pastikan kau bisa terlihat sama dengan orang lain, atau kalau kau mau aku bisa menemanimu berbelanja Kak, bagaimana?”
Alena terdiam, dia tak mengerti maksud dari Reyno yang sebenarnya, tapi karena dia sepertinya memang sangat membutuhkan pekerjaan ini, dia seharunsya tak bisa mengatakan kata tidak pada kesempatan yang jelas terbuka lebar ini.
“Carikan aku pakaian yang pantas menurutmu.” Ucap Alena kemudian, dia sangat ingin adegan drama itu dia rasakan.
“Ikut aku sekarang.” Dia lalu menarik tangan Alena keluar ruangan ini. Reyno membawa Alena pergi keluar ruangan banyak pasang mata yang menyaksikan kejadian heboh ini, bos mereka sepertinya sangat ingin memakan wanita itu.
Beberapa jelas nampak bergosip, kantor ini kebetulan sedang ada proyek besar dan sebagian mereka masih masuk kerja seperti biasa, padahal seharusnya di weekend ini mereka bisa dengan santai melakukan aktifitas dirumah.
***
Mereka saat ini sedang ada di dalam mobil yang jelas berbeda dengan mobil yang dikendarai oleh Reyno semalam, namanya juga orang kaya, jelas juga dia memanfaatkan apa yang dia miliki untuk sekedar dipamerkan! Sama seperti Alena sebelumnya, saat menikah dengan Azza dia memang memiliki kehidupan yang mewah, walaupun dia tak ikut arisan ibu-ibu jaman now atau sekedar kongkow menghabiskan uang suami dia masih tetap merasakan hidup mewah itu nikmat banget.
Apa-apa tinggal gesek, apa-apa tinggal ngomong, tapi dasarnya Alena orang yang sederhana dia tak terlalu memaksimalkan untuk menghamburkan uang suaminya, dia berusaha untuk hidup seadanya saja, kalau dipikir lagi sekarang, dia sedikit menyesal tidak melakukannya pada laki-laki b******k itu.
Harusnya saat mendapatkan nikmat yang besar seperti itu, dia bisa memanfaatkannya dengan sangat baik, habiskan semuanya dan jangan banyak mikir nanti-ini atau nanti-itu. Ujung-ujungnya semua yang dia lakukan hampir seperti sia-sia, dia memang banyak menabung untuk anaknya, untuk dirinya, sayangnya semua tabungan itu dia beritahu pada suaminya, walaupun memang ada tabungan lain yang akhirnya menjadi juru selamatnya saat dia bercerai.
Percaya pada suami tukang selingkuh, mengesalkan sekali, dan diakhir ceritanya dengan suami tersayang itu, dia malah mendapatkan fakta buruk kalau ternyata yang menikmati semua itu adalah wanita itu, yang tak lain adalah sahabatnya sendiri. Mereka pernah berlibur berdua ke Maldives, jalan ke Eropa, keliling Amerika dan dia tahu setelah semuanya selesai! Bagus sekali permainan mereka. Jika mengingat hal ini, rasanya Alena ingin sekali marah.
Memang, Alena juga sering ke Eropa dan Amerika atau sekedar hang out ke Australia, tapi ternyata hal itu juga dilakukan mereka berdua! Miris, bukan tempat bepergiannya yang dijadikan masalah, tapi alasan urusan pekerjaan itu yang menjadi petaka dan terlihat sekali kalau ternyata Alena bisa dibodohi bahkan lebih dari satu tahun!
Menyesakkan jika ingat hal itu.
“Mau kemana kita?” saat ini sepertinya Alena tersadar dari lamuannya sejak masuk mobil tadi.
“Bukankah kau sudah kubilang untuk ikuti aku saja?” Ucap Reyno dengan nada datar.
“Loh, inikan Inha Designer.” Ucapnya begitu saja saat Reyno memabawanya kemari.
“Memang kenapa?” Tanyanya.
“Tidak apa-apa.” Ucapnya.
Mereka segera turun dari mobil.
Alena memang tahu tempat ini, dulu bahkan Azza beberapa kali mengajaknya, tapi dia tak pernah bertemu dengan sang pemilik, Inha ini adalah Designer ternama dan semua rancangannya adalah kelas dunia, rancangannya juga sangat bagus dan menarik sekali.
Baru saja turun, Alena memaku ditempatnya, dia melihat laki-laki dan perempuan yang sangat dikenalnya, matanya terlihat sangat sinis memandanga kedua orang itu dan mereka baru saja masuk kedalamnya.
“Kenapa?” Reyno berjalan mendekatinya dan melihat arah tatapan wanita itu.
“Kau mengenalnya?” Tanyanya pada Alena.
Alena hanya tersenyum sinis tapi terlihat manis saat dia mengeluarkan ekspresi itu.
“Kau mengenal laki-laki itu?” Reyno bertanya lagi, penasaran.
“Laki-laki b******k dan sahabat iblis.” Ucap Alena.
Reyno tersenyum mengerti maksudnya.
“Baik, Kid! Sepertinya aku harus menerima rekrutanmu untuk membalaskan sedikit rasa sakit hati.” Ucapnya terdengar sangat sinis dengan senyuman iblis, dan jujur Reyno benar-benar menyukai gaya Alena ini.
“Kalau begitu, kita masuk saja sekarang.” Dia lalu menggenggam erat tangan Alena berjalan masuk dan membisikkan, “Time to show Alena Sayang.” Ucapnya.
***