Siapakah DIA

1017 Words
" Kenapa Van? Kamu sudah sadar betapa bodohnya kamu? Sudah berkali - kali ku sarankan padamu. Supaya melakukan penyelidikan ulang, bukan? Tapi kamu tetap keras kepala dan hanya menganggap bahwa kamu paling benar. Sekarang apa? Kamu bahkan tidak dapat apa-apa. Malah membuat banyak orang bersedih, terutama ibumu. Kamu sudah menyakiti orang - orang yang tulus padamu. Membuat ayah dan ibu mertuamu sekarat di rumah sakit. Bahkan telah menjadi penyebab kematian anak semata wayang mereka." Darren menatap marah Ervan, tak pernah dirinya semarah ini. Berkali - kali Darren mengingatkan bahwa Julia adalah wanita baik - baik. Tapi temannya ini tak mau mengerti. Dan selalu lebih percaya pada pamannya. Ervan tak peduli dengan ocehan Darren. Dia berjalan ke arah Darren, " Darimana semua berkas - berkas itu? Bagaimana bisa kamu mendapatkannya dan kenapa tak memberitahu aku? Juga rekaman cctv itu, bagaimana bisa Julia memilikinya? Bukankah selama ini kita tak bisa mendapatkan apapun dari cctv ruangan ayahku?" " Kamu masih menanyakan pertanyaan bodoh itu, Van? Coba ingat-ingat, sebelum Julia melompat ke jurang. Bukankah dia mengatakan sesuatu padamu? Dan sesuatu itu adalah semua bukti kejahatan. Yang pernah dilakukan oleh pamanmu, pria iblis kebanggamu itu." Ujar Darren menatap sinis Ervan. pria ini bener - benar tidak tahu apapun mengenai istrinya. " Kamu adalah pria yang pintar. Dengan semuanya ini, kamu pasti bisa menebak sesuatu bukan? Wanita yang kau anggap mainan dan tak berharga. Sebenarnya adalah sebuah permata yang bersinar. Dan kau telah rugi besar telah menyiakan wanita seperti Julia. Dia sungguh tulus ingin bersamamu. Tapi yang kau berikan hanya kesedihan dan kepedihan untuknya. Ingat Ervan, cinta sejati hanya datang sekali seumur hidup. Kau telah diberkati wanita yang baik dan sungguh mencintaimu. Tetapi, wanita itu sudah melompat ke jurang. Karena kau yang sudah memutuskan semangat hidupnya. " " Tidak....itu tidak mungkin Darren. Kamu pasti bohong kan? Julia masih ada kan, iya kan?" Ervan masih tidak mau percaya dengan kenyataan. " Sudahlah Ervan hentikan kegilaan-mu. Kamu sampai nangis darah pun, tak akan mengubah kenyataan. Bahwa Julia telah bunuh diri. Dan sekarang jasatnya belum diketahui. Sekarang yang perlu kamu lakukan adalah. Fokus untuk kesembuhan nyonya dan tuan Lopez. Juga menangkap pamanmu yang baik itu. Serta melakukan pencarian terhadap jasat Julia." Ucap Darren. " Tidak, Julia belum mati. Dia masih hidup Darren, jangan sembarang bicara kamu. Aku akan ke sana dan mencari Julia. Dia masih hidup, istriku masih hidup Darren " Bentak Ervan tak terima ketika Darren mengatakan jasat. Ervan tidak terima kalau Julia meninggal. " Baiklah kalau kamu keras kepala. Aku akan menemani kamu ke sana. Tapi sebelum itu, kamu isi dulu perutmu. Sudah dua hari kamu pingsan, oke?" Ervan ingin menolaknya, namun karena Darren yang tak membiarkan dirinya pergi. Maka dengan terpaksa Ervan patuh akan perintah Darren. ***** Masih di dalam mansion Ervan.... " Darren, kamu kirim tim terbaik kita yang lain. Buru Robert dan hadapkan padaku. Aku yang akan menghabisi penipu ulung itu dengan tanganku. " Ujar Ervan, Pria itu habis makan. Walau yang bisa masuk hanya beberapa sendok nasi saja. Meski Darren protes ingin agar Ervan makan lebih banyak. Namun tak bisa berbuat apa-apa. Karena Ervan mengancamnya akan menembak kepalanya sendiri. Kalau Darren masih menggalang - halanginya. " Baik, akan segera kusiapakan." Darren dengan cepat mengirimkan perintah penangkapan kepada pengawal milik Ervan. " Mari kita pergi, hari sudah semakin sore." Ujar Ervan tidak sabar. Dalam hati dirinya terus berdoa. Agar diberikan keselamatan kepada Julia. Dan Ervan sangat yakin bahwa Julia masih hidup. " Julia masih hidup, ya dia masih hidup. Tuhan, kumohon jangan biarkan sesuatu terjadi padanya. Jangan biarkan Julia menanggung kesalahan yang kubuat. Izinkan aku memperbaiki semuanya, jangan hilangkan istriku dariku. Aku mohon padamu tuhan, aku yang berdosa bukan Julia." Gumam Ervan terus - menerus selama di perjalanan. Bibinya seraya tak lelah komat - Kamit. Darren yang melihatnya dan mendengar sekilas. Jujur merasa kasihan kepada sahabatnya itu. Sejujurnya Ervan adalah pria yang baik dan perhatian. Akan tetapi luka yang didapatnya. Menjadikan sahabatnya itu berubah drastis. " Kamu kasihan sekali bro. Tapi mau bagaimana lagi. Kamu sendiri sudah berani melakukan. Maka dari itu, kamu juga harus berani bertanggung jawab. Semoga saja memang ada keajaiban. Dan aku juga berharap keajaiban itu datang padamu, Julia. Tuhan pasti tidak akan begitu tega padamu. Kamu tidak layak untuk menderita, sebab kamu perempuan baik - baik." Batin Darren. Di tempat lain... " Dokter, bagaimana dokter? Bagaimana keadaannya?" " Tenang tuan, tenangkan diri anda! Pasien memang sempat kritis, tapi sudah aman untuk saat ini." " Benarkah dokter? Terimakasih dokter, terimakasih. Anda telah menyelamatkannya, terimakasih." " Sama - sama tuan, sudah jadi kewajiban saya juga." " Apakah saya bisa masuk sekarang dokter?" " Tentu tuan, tapi jangan ada kontak berlebih dulu dengan pasien. Karena kondisinya masih agak lemah. Dan jangan lama - lama." " Baik dokter" Setelah kepergian sang dokter. sosok pria tampan itu bergegas masuk. Sesampainya di dalam, pria itu menatap intens. Sosok perempuan yang tengah terbaring lemah. Dibantu alat - alat yang entah apa namanya. Untuk mendukung kehidupan perempuan malang itu. " Nak, cepatlah bangun ya. Saya ingin memeluk kamu dan menanyakan banyak hal padamu. Sayangku, kamu kuat. Kamu pasti bisa segera sadar, papa dan kakak - kakak. Sudah tak sabar ingin memeluk dan mencium kamu sayang. Segeralah kembali kepada papa sayang. Papa sudah kangen sama kamu." Ujar pria paruh baya itu lirih. Entah bagaimana harus menggambarkan suasana hatinya saat ini. Setelah sekian lama mencari kemana - mana. Malah setelah berhasil menemukannya. Naasnya dalam situasi yang memilukan seperti ini. Pria itu tak tahu harus menyebutnya keberuntungan atau kesialan. Pria itu terus menatap perempuan muda yang terbaring lemah itu. Banyak terdapat luka - luka diwajahnya. Dan itu semakin membuat hatinya hancur. Hingga tanpa sadar, pria itu malah menangis parah. Air matanya mengalir dengan deras. Tak kuat melihat lagi, pria itu berahli masuk ke kamar tidur. Yang memang disediakan oleh pihak rumah sakit. Sebab unit yang dipesannya adalah kelas paling tinggi. Di dalam kamar, pria paruh baya itu menangis sejadi - jadinya. " Sayang, kenapa hal menyedikan ini terus mendatangaiku? Mengapa tuhan seakan tak berhenti dan ingin melihatku menitihkan air mata? Belum puaskah dia telah mengambil mu dariku? Apakah dia akan mengambil hidup putriku juga? " * * *
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD