Tetapi Randy menguatkanku dan mengatakan kalau dia pergi untuk aku juga, untuk biaya pernikahan kami dan kami bisa hidup bersama selamanya lagi tanpa harus ada yang memisahkan.
Dengan berat hati aku pun melepas Randy pergi ke Jakarta, Bahkan aku tidak bertemu dengan Randy di saat hari kepergiannya itu, aku tidak sanggup untuk melihat Randy pergi jauh lagi dari diriku. Tetapi ini semua demi kebaikan kami dan aku menerima dan akan menunggu Randy di rumah ini.
Malam sebelum Randi memutuskan untuk pergi itu, kami saling telfonan, tapi aku dan Randi sama-sama diam. Aku tidak bisa menyembunyikan kesedihan ku, Bahkan aku mendengar Randi juga menahan kesedihannya.
" sayang?" ucap Randi.
" Iya, kenapa?" tanyaku.
" Kamu, beneran gak mau lihat aku pergi besok?" tanya Randi.
Padahal Aku sudah menjawab semua yang di ucapkan Randi sambil menangis.
" iya! Aku gak bisa antar kamu ke bandara, maafin aku ya?" Ucapku padanya.
" iya, gak apa-apa kok! Aku tau kamu mungkin gak bisa antar aku, aku paham kok" jawabnya
lalu kami saling diam lagi. banyak hal yang ada di dalam pikiranku saat ini, tetapi semua itu buyar begitu saja, setelah aku menerima panggilan Randi.
"sayang?" panggil Randi lagi.
" iya?" jawabku singkat.
" Kamu gak usah sedih begini. Kamu tahu sendiri bukan, Aku itu pergi buat kita! Buat kebahagiaan kita,sayang! Aku tahu kamu kecewa dengan keputusan keluarga aku, tapi itu semua buat kita juga kan? Kamu memang nya gak mau, kalau kita nanti hidup bahagia selamanya?" Randi berupaya untuk menjelaskan padaku.
" Kenapa kita harus seperti ini? Padahal kita baru bertemu 3 hari yang lalu, setelah perjuangan panjang dan kita menunggu waktu untuk bertemu itu gak sebentar Randi? 1 tahun Randi! itu bukan waktu yang sebentar. Tapi, disaat kita baru bertemu,dan belum puas melepaskan rasa rindu, mereka menyuruh mu untuk pergi lagi, dan itupun kamu harus pergi besok? Adilkah itu untuk kita Randi?" bentak ku pada Randi .