Dika

1000 Words
"Jena! SAYANGKU" teriak Arkan nyaris memberikan atensi pada sekitar kantin kampus. Ia terus melambaikan tangannya keras-keras agar nama yang dipanggilnya itu menolehkan pandangan ke arahnya. iya, Jena sadar. tetapi ia terlalu malu untuk merespon Arkan, sahabatnya. Jena tidak suka jika menjadi pusat perhatian bersahabat dengan Arkan yang selalu mencari pusat perhatian. Tidak lama kemudian, Arkan merogoh saku celana belakangnya mendapati pesan yang dikirimkan oleh Jena. ia hanya tertawa membacanya kemudian menghampiri Jena. "lo ga usah caper bangsat. gue udah liat, langsung duduk aja kenapa sih." "dasar freak. ARKAN ANJGGGG!" sesampainya disana Arkan langsung memakan semangkuk mie ayam bakso ditambah dengan dua lontong yang sudah dipesankan oleh Jena sebelumnya. "Arkan jangan lupa ganti duit gue!" ketus Jena "iyeee Jenaaa, sejak kapan gue gak bayar." "kemarin masih belum lo ganti ya monyet, 100 ribu jajan di Mang Adi." timpal Jena dengan ketus kembali. "Makan apaan lo anjing abis segitu di Mang Adi. hahaha" timpal Dika yang duduk tepat di depan Jena. Arkan menghardik sesaat mendengar penuturan dari Jena, dengan mulut penuh makanan ia pun menimpali. "apwaan swertus, guwe wuma mwinjem 95k." "abisin dulu makanannya, baru ngomong. jorok." Jena memberikan beberapa lembar tisu padanya karena makanan yang berada di mulut Arkan sangat berantakan. sungguh, kesal sekali bila Jena harus terkena cipratan saliva dari Arkan. Dika dihadapannya itu hanya mergidik ngeri melihat Arkan yang menurutnya sangat jorok itu. "makasih sayangku udah care." balas Arka yang mendapati respon jijik dari lawan bicaranya. "kalian nih sayang-sayangan terus, kenapa gak pacaran sih. kejebak friendzone ya?" ceplos Dika "enak aja sayang-sayangan. si monyet satu ini mulutnya emang seenak jidat, jangan lo hirauin Dik. ngaur dia tuh." "ko—" "mulut dia nih emang sembarangan kalo ngomong. Kasian cewenya dan kok cewe lo mau sih bertahan sama cowo binal kaya gini." potong Jena cepat ketika Arkan hendak menyahuti ucapan Dika. "Arkan punya cewe? gue baru tau. wah kacau ni anak." "ck. kemana aja lo Dika, sibuk olimpiade debat sih, jadi kabar ni anak udah ganti cewe dua kali aja lo ga tau." "Sonia santai kok sama kelakuan gue yang kaya gini, dia tau gue cuma bercanda. jadi dia biasa aja tuh santai aja santai." jawab Arkan yang akhirnya diberikan kesempatan untuk ikut percakapan. "Sonia? serius lo? kok dia mau sama lo?" tanya Dika yang masih tidak percaya. Sonia adalah salah satu wanita yang banyak disukai oleh para senior di kampusnya, parasnya yang anggun dan bicaranya yang lemah lembut itu membuat para lelaki di kampus mengaguminya. Selain privillage cantik, Sonia juga sering kali masuk ke dalam berita kampus terkait prestasi. Jadi, selain cantik ia juga merupakan mahasiswi yang cerdas. makannya, Dika heran kok bisa se perfect Sonia mau menjalin hubungan dengan Arkan yang otaknya tidak digunakan dengan kerja keras dalam bidang akademik. "mekanik gue jago." jawabnya asal "mulut lo ya!" balas Jena tak suka yang kemudian memukul kepala Arkan keras. "ye maaf Jena." Dika hanya tertawa melihat Arkan yang begitu pasrah dipukuli Jena akibat dari ucapannya itu. ia sungguh menikmati moment tersebut karena ia sangat jarang masuk kelas dan kumpul bersama teman-teman lainnya. jadi, ia merasa sedikit terhibur melihat tragedi di hadapannya. "tapi gue mau nanya serius. gue penasaran, kalian deket banget tapi kok gak pacaran aja ya?" pertanyaan yang dilontarkan Dika menghentikan aksi pukul Jena, dan Jena memberikan atensi penuh pada Dika seutuhnya. "satu, gue temenan udah lama sama dia dan rasa kita pure temen. dua, gak pantes lo nanya gitu sama oranf yang udah punya pasangan." jawab Jena lalu ia langsung berdiri meraih tas nya untuk pergi. Dika langsung merasa tak enak hati, ia menatap Arkan seakan-akan ia meminta maaf atas pertanyaannya itu. "sorry." "santai bro, dia lagi mens soalnya jadi emang sensitif." balas Arkan cuek "denger omongan Jena tadi gue jadi gak enak, bener-bener sorry ya." "kalo gue pacaran sama dia bisa mati muda, lo liat sendiri nih biru-biru badan dipukul." jawab Arkan sembari memperlihatkan tangannya yang biru akibat cubitan yang diberikan Jena. "gue sama dia, susah lah dideskripsiinnya gimana. temenan juga banyak yang ngira pacaran, bahkan sampe gue dikira fwb." Arkan tertawa sebentar, kemudian ia melanjutkan kembali. "apanya yang fwb, gue gak sengaja pegang tangannya gara-gara ada kecoa aja dia langsung cuci tangan pake tanah. bangsat ya, dikira gue najis kali." sambungnya "HAHAHA kaya gak pernah pacaran aja." timpal Dika "lah emang gak pernah." seketika Dika menghentikan tawanya, menatap Arkan dengan tatapan tidak percaya. "serius Kan, masa cewe kaya Jena pure jomblo sih?" "siapa yang mau sama cewe tukang pukul." selepas itu mereka berdua tertawa atas jawaban asal (lagi) dari Arkan "tapi lo kan deket banget sama dia, cewe lo gak cemburu gitu?" "ya ada, sampe mantan sebelum sama Sonia pernah labrak Jena terus Jena ngomel-ngomel ke gua karena sikap gue yang berlebihan ke dia sampe mantan gue cemburu. jadi kita berdua akhirnya renggang. dia berusaha menghargai mantan gue waktu itu " sesaat Arkan membahasi tenggorokannya untuk kembali melanjutkan ucapannya. "dia gila gitu tapi care. jadi, kapan lo mau ajak jalan dia?" Dika langsung terkejut bukan main mendengar pertanyaan yang dilontarkan langsung oleh Arkan. "ga usah basa basi, segala nanyain hubungan gue sama dia gimana. gue tau gerak-gerik lo mau deketin dia kan?" Dika akhirnya tersenyum malu, ia tidak menduga jika niatnya mendekati Jena malah terlihat sangat jelas. Lalu akhirnya Arkan memberikan nasehat panjang pada Dika jika pria itu jadi memiliki niat untuk pdkt dengan Jena, segala hal yang disuka hingga tidak disukai Jena dijelaskan secara detail oleh Arkan hingga membuat Dika takjub dengan pertemanan Jena dan Arkan. ternyata, mereka terlalu intens menurut Dika karena Arkan menjelaskan begitu detail tentang Jena. entah, Arkan memang orang yang teliti atau apa, karena selama ini Dika selalu menerapkan mindset jika pria tidak menyukai wanita itu maka ia tidak akan mengetahui detail tentang wanita tersebut. berbeda jika pria itu menyukai wanita tersebut. Entahlah, yang dipikiran Dika saat ini adalah Arkan orang yang sangat teliti akan hal kecil. meskipun secara penampilan Arkan termasuk pria yang cuek. atau mungkin karena ini adalah Jena, jadi sedikit berbeda daripada teman wanita Arkan lainnya. Dika jadi semakin penasaran, sejauh apa hubungan antara Arkan dengan Jena.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD